Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 86 ~ Tabir Pernikahan


Meski merasa bingung juga terkejut tetap saja Haura mengambil gunting untuk memotong pita atas permintaan sang suami. Tepat saat pita berhasil dipotong oleh Haura, gemuruh tepuk tangan saling bersahut-sahutan satu sama lain.


Belum lagi ucapan selamat dari para pengunjung yang sudah menanti donat gratis yang katanya sangat entak tersebut.


Melihat Haura masih saja seperti orang kebingungan, Harun segera angkat bicara, terlebih matahari mulai meninggi, dimana panasnya akan sangat menyengat kulit penikmatnya.


"Terimakasih untuk waktu yang kalian berikan. Meramaikan toko donat istri saya yang baru dibuka. Silahkan masuk dan nikmati semua menu yang kami sediakan, duduk dengan tenang tanpa adanya kegaduhan," ucap Harun, setelahnya menarik Haura agar menyingir, takut kalau saja istrinya terjatuh karena dorongan beberapa orang.


"Selamat Ra, buat tokonya," ucap Ezra.


"Selamat kak Haura, ini semua karena kerja keras aku. Aku yang mendekorasi dan memberi ide pada kak Harun. Jadi kalau mau berterimakasih, harusnya sama aku jangan kak Harun," celetuk Diana dengan senyum manis sehingga membuat Ezra diam terpaku. Aura Diana semakin terpancar sejak memutuskan untuk berhijrah, sayangnya ketika gadis itu berubah, bulan lagi Ezra pria pilihannya.


"Makasih Diana, aku masih tidak percaya kalau ini memang toko donat aku. Semuanya terasa seperti mimpi." Beralih menatap Harun yang masih saja melempar senyum kehangatan.


"Makasih juga mas sudah memberiku kejutan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup."


"Sama-sama Sayang, terimakasihnya nanti malam saja," bisik Harun yang hanya bisa didengar oleh Haura.


Keempat menusia berbeda gender dan generasi itu akhirnya menyusul para pengujung, menawarkan beberapa menu spesial untuk hari ini.


Bukan hanya Donat dan pisang rol yang ada dalam menu, tapi beberapa minuman bebau kopi dan susu tersedia, hanya saja cuma penglengkap.


"Bagimana?" tanya Harun yang masih menemani istrinya keliling ruko.


"Cantik banget mas, jauh dari bayangan aku selama ini. Sekali lagi makasih. Aku tidak tahu harus membalas mas akan rasa bahagia yang aku dapatkan hari ini." Mata Haura berkaca-kaca, wanita berbadan dua itu terharu dengan kejutan yang diberikan suaminya.


Mungkin jika tidak ada orang, Haura sudah memeluk tubuh kekar Harun seerat mungkin.


"Selalu sehat dan melahirkan tanpa ada drama kehilangan sudah cukup untuk mas, Haura. Karena dunia mas hanya tentang kamu dan abang, jika kalian berdua tidak ada maka mas tidak tahu harus melanjutkan hidup bagaimana." Mengelus pipi Haura sekalian menghapus air mata yang mengalir begitu saja.


Tanpa sadar sejak tadi ada yang memperhatikan keduanya. Mereka adalah Ezra dan Diana yang berada di ambang pintu dapur.


"Diana?" panggil Ezra.


"Apa kita bisa bicara sebentar?"


"Banyak orang aku sibuk!" tolak Diana segera meninggalkan dapur, berjalan menuju meja kasir yang masih saja kosong.


Gadis itu bersedia membantu toko Haura atas permintaan Haruh di waktu segangnya dalam menempuh pendidikan.


Ezra menghela nafas panjang, dulu pria itu sangat ingin menjauh dari Diana, tapi sekarang hatinya seakan tidak rela jika harus menjadi asing.


"Ezra!"


Ezra langsung mengembangkan senyumnya, mendekati Haura dan Harun.


"Kenapa?"


"Makasih sudah membantuku membuat kejutan untuk Haura. Kalau kau sibuk, pergilah lebih dulu. Aku masih harus mengurus sesuatu," ucap Harun.


Ezra lantas mengangguk dan segera meninggalkan toko Haura. Sebelum benar-benar pergi, Ezra menyempatkan diri menatap Diana yang tampak fokus pada ponselnya.


"Pada dasarnya perlu sebuah kehilangan untuk menyadari sebuah keberadaan," gumam Ezra dengan senyum hambar di wajahnya.


Tanpa pria itu tahu bahwa Diana menyadari tatapan Ezra. Diana hanya pura-pura fokus agar rasa yang berusaha dia sembunyikan tidak lagi terlihat.


Takut kalau saja akan tersakiti jika memperlihatkan cinta pada pria yang tidak mencintainya.


"Diana, katanya kamu mau menikah?" tanya Harun yang datang bersama Haura setelah berbicara pada pengujung untuk sekedar menyapa.


Diana lantas menganggukkan kepalanya cepat sambil tersenyum. "Satu bulan lagi aku bakal nikah kak. Do'in semoga pilihan aku kali ini sudah benar."


"Sama siapa?"


"Intinya bukan seorang dokter."