Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 91 ~ Tabir Pernikahan


Prank


Suara barang terjatuh berbunyi nyaring di dalam ruangan Harun, membuat pemiliknya tentu saja terkejut bukan main. Pria itu buru-buru berjongkok untuk mengambil foto pernikahannya dengan sang istri. Bingkai foto dan kacanya telah pecah.


"Ck, bisa-bisanya aku seceroboh ini sampai menjatuhkan hal yang sangat berharga," gumam Harun mulai membereskan percahan kaca sampai tidak sengaja salah satunya mengores tangan pria itu hingga berdarah.


Harun meringis, meraba sesuatu di atas meja dan mendapatkan sebuah tisu. Setelah membereskan semua kekacauan yang telah dia ciptakan, Harun bergegas keluar dari ruangannya untuk ke ruang UGD bertemu temannya yang bertugas di sana.


Langkah Harun memelan setelah sampai di UGD dan mendapati mobil ambulance baru saja berhenti. Beberapa suster berlari untuk mengeluarkan pasien yang katanya korban tabrak lari.


"Ezra, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Harun.


"Korban tabrak lari katanya sedang hamil dan mendekati masa persalinan!" sahut Ezra melewati Harun begitu saja.


Hari ini tidak ada dokter obgyn selain Ezra di rumah sakit sehingga pria itu turun ke lantai bawah. Langkah Ezra berhenti setelah sampai di brangkar yang baru saja turun dari mobil ambulance. Meski seluruh wajah wanita itu penuh darah, Ezra tetap saja mengenalinya, terlebih cincin yang tersemat di jari manis pasien.


"Ha-haura?" gumam Ezra tidak percaya.


Harun yang awalnya hendak pergi mengurungkan niatnya mendengar nama Haura di sebut. Karena penasaran pria itu mendekat.


Jantung Harun berpacu sangat hebat melihat wanita yang sangat dia kenali terbaring di atas brangkat bersimbah darah.


"Haura!" teriak Harun menguncang tubuh istrinya histeris. Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Harun. Kalau bukan Ezra yang menarik pria itu menjauh, mungkin Harun sudah menggila di depan ruangan UGD.


"Berikan pertolongan secepatnya!" teriak Ezra.


Para dokter mengangguk dan mendorong brangkar ke sebuah bilik dengan pembatas kain rumah sakit lumayan tebal.


Pemeriksaan masih saja terjadi tanpa bisa Harun lihat karena beberapa dokter sengaja mencegah. Bukan karena tidak membiarkan Harun melihat istrinya yang sedang sekarat, melainkan agar proses pemeriksaan tidak tanganggu.


"Bagaimana keadaan istri dan putra saya, Edgar?" tanya Harun dengan mata memerah setelah hampir setengah jam menunggu.


"Kami harus melakukan operasi untuk menyelamatnya bayi yang berada di kandungannya, Dokter."


"Ibunya?"


"Apapun yang terjadi selamatkan nyawa istriku lebih dulu! Jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan nyawanya!" desak Harun menarik kerah jas dokter Edgar.


Dengan sigap Ezra menarik tubuh Harun agar segera tenang.


"Tenanglah bodoh, berteriak seperti orang gila tidak akan menyelesaikan masalah. Edgar akan melakukan yang terbaik untuk Haura!" bentak Ezra, meski sulit dipungkiri dia juga merasa terpukul dan tidak percaya bahwa wanita yang baru saja dia temu tadi pagi harus menjadi pasien di rumah sakit Edelweis.


"Dokter Ezra, silahkan bersiap-siap!" pinta Edgar.


***


Tetesan demi tetesan terus saja berjatuhan dari pelupuk mata Harun yang sedang menunggu di depan ruang operasi. Putranya yang tampan berhasil di selamatnya tapi tidak dengan istrinya yang masih berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.


Harun menatap nanar pintu ruang operasi, selalu memanjatkan doa agar istrinya baik-baik saja.


"Bertahanlah Ra, demi mas dan putra kita," gumam Harun dengan suara seraknya.


Mengalami benturan keras pada kepala membuat pendarahan otak terjadi cukup parah. Tidak ada kelainan pada kondisi putranya yang kini berada di ruangan Nicu, berbeda dengan Haura yang masih tidak ada kabar di ruang operasi.


Harun mengacak-acak rambutnya, menyalahkan dirinya atas hal buruk yang menimpa Haura.


"Kalau saja aku tidak memetingkan pekerjaan semua ini tidak mungkin terjadi. Haura, kau sudah berjanji akan melahirkan baik-baik bukan seperti ini," lirih Harun.


Pria itu mendongak ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang.


"Temuilah putramu Harun! Aku akan mengabari jika operasi Haura selesai," ucap Ezra yang baru saja mengunjungi putra Harun dan Haura. Ternyata ada Diana di sana.


"Aku akan di sini sampai bisa melihat Haura. Tolong jaga putraku baik-baik!"


Harun tidak bisa membayangkan kalau saja putranya harus dibesarkan tanpa seorang ibu.


"Aku tidak mampu membesarkan anak kita sendiri, jadi bertahanlah Ra."