
Elena dan Vivian membulatkan matanya karena terkejut melihat kedatangan Harun secara tiba-tiba di dalam kamar, padahal keduanya sedang membicarakan tentang Haura.
Elena lantas berdiri sementara Vivian kembali bersandar pada sandaran ranjang seraya memperlihatkan wajah lesu dan teriksa.
Wanita paruh itu menghampiri Harun yang tengah memejamkan mata sambil mengepalkan tangan.
"Na-nak Harun?" panggil Elena, mengelus pundak anak tirinya, membuat pria itu perlahan-lahan membuka mata sambil tersenyum.
"Maaf aku mengagetkan kalian berdua, tadi aku tidak sengaja melihat bunda buru-buru masuk ke kamar Vivian, jadi aku menyusul karena takut Vivian kenapa-napa." Harun masih memperlihatkan senyumnya, meski hatinya tengah terbakar akan api amarah sebab dikhianati oleh dua orang yang sangat dia percayai.
Harun tidak ingin gegabah di mana bisa saja Elena mencelakai Haura tanpa sepengetahuannya. Pria itu akui Elena memang ular berbisa yang sangat licin sampai dia tidak menyadari kejahatan wanita paruh baya itu padahal telah tinggal bersama selama 2 tahun.
Harun beralih menatap Vivian yang masih tampak pucat, berjalan mendekat lalu mengelus rambut gadis itu penuh kelembutan.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang? Apa sudah jauh lebih baik?" tanyanya dan dijawab gelengan oleh Vivian.
Gadis itu langsung memeluk pinggang Harun cukup erat. "Aku takut kak, aku selalu mimpi didatangi orang itu setiap malamnya," lirih Vivian.
"Tenanglah ada aku yang selalu bersamamu, sebentar lagi hari pernikahan kita jadi semuanya akan baik-baik saja." Harun mendorong tubuh Vivian agar melepas pelukannya.
Pria itu mundur beberapa langkah dan hendak pergi dari ruangan tersebut. Untung saja Harun bisa mengendalikan Emosinya sehingga tidak meledak di depan keduanya.
Saat akan melewati ambang pintu, suara Elena terdengar lirih.
"Apa kau sudah tahu kalau Haura hamil Nak?" tanya Elena. "Bunda bahagia saat tahu dia hamil. Sebentar lagi bunda bakal punya cucu yang mengemaskan."
Harun senyum sinis sambil membelakangi Elena dan Vivian. Sekarang pria itu baru sadar, Elena selalu mengatakan hal-hal baik tapi mengandung racun.
Pria itu membalik tubuhnya menghadap Elena dengan wajah biasa-biasa saja. "Dari mana bunda tahu kalau Haura hamil?"
"It-itu bunda tidak sengaja mendengarnya dari seseorang." Elena tiba-tiba dilanda kegugupan, terlebih ketika Harun menatapnya penuh selidik.
"Seseorang?" Menaikkan alisnya seakan mengintimidasi.
"N-nak Harun, bunda tentu saja tahu tentang menantuku, meski dia pergi dari rumah, bukan berarti kita hilang kabar. Bunda masih sering menghubungi Haura untuk menanyakan keadaanya." Elena kembali berkilah, sedikit lega setelah Harun tidak lagi menatap penuh intimidasi.
"Berhentilah bersikap baik padanya Bunda! Lagipula aku yakin anak yang dikandung Haura bukan darah dagingku," ucap Harun meyakinkan. "Fokuslah pada pernikahan aku dan Vivian satu minggu lagi." Usai bicara panjang lebar, akhirnya Harun benar-benar meninggalkan kamar tersebut.
Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat perlakuannya pada Haura dan lebih membela dua perempuan ular di sekitarnya. Bahkan selama ini dia memelihara dua ular yang telah menyiksa istrinya.
Tidak lupa akan tujuannya, Harun segera menuju ruang CCTV mengecek apa saja yang terjadi saat dia tidak ada di rumah.
Semenjak ayahnya meninggal, Harun tidak pernah lagi memeriksa ruang CCTV karena sibuk dengan banyak hal. Mengurus rumah sakit di tengah-tengah dia bekerja sebagai dokter.
Untung saja ada Haura yang selalu memperhatikan pola makan dan kesehataanya, tapi itu dulu sebelum rumah tangannya hancur karena kesalahan sendiri.
Setelah berada di ruang CCTV, Harun lantas mengunci pintu lalu duduk di sebuah kursi. Mulai mengacak-acak isi CCTV yang mungkin saja bisa memberinya petunjuk akan sesuatu.
Mengusir Elena dan Vivian tanpa bukti hanya sia-sia saja, keduanya cuma terlantar di jalan dan bisa saja mencelakai Haura diam-diam.
Lama Harun berkutat dengan layar komputer cukup banyak di ruangan tersebut yang memperlihatkan setiap sudut ruangan rumahnya. Namun, sampai sekarang belum menemukan kejanggalan apapun.
Pergerakan tangan Harun mengeser kursor terhenti pada suatu kejadian. Hari dimana Haura pergi dari rumah tanpa meminta izin padanya.