Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 57 ~ Tabir Pernikahan


Mungkin jika ada yang melihat kedekatan Harun dan Ezra, mereka akan mengira keduanya mempunyai hubungan spesial. Terlebih sore ini kedua pria itu berjalan beriringan di trotoar jalan menuju ruko yang dimaksud Harun tadi.


Ezra tidak ingin pergi sendiri, alhasil mengajak sahabatnya. Langkah keduanya berhenti di depan ruko cukup besar. Harun berkacak pinggang memperhatikan bangunan yang sudah lumayan tua, akan membutuhkan banyak dana untuk menyulapnya menjadi sebuah ruko layak huni.


Sementara di sisi lain, Ezra tengah fokus menghubungi nomor yang dia dapatkan dari poster yang tertempel pada pintu ruko.


"Baik, saya akan tunggu," ucap Ezra mengakhiri panggilan setelah berbicara cukup panjang dengan pemilik ruko. Dia menghampiri Harun yang masih saja memperhatikan tampilannya.


"Untuk apa sih?" tanya Ezra lagi.


"Buat toko donat Haura, aku mau dia punya kesibukan agar tidak merasa sepi saat aku bekerja di rumah sakit."


Ezra mengangguk-anggukkan kepalanya, tidak menyangka Harun punya otak juga. Dia mengira otak Harun telah hilang sejak mengusir Haura dari rumah.


"Pintar juga."


Harun mendelik, dengan enteng tangannya mengemplak kepala Ezra. "Memang pintar juga," sahutnya.


"Iya dah si paling pintar," cibir Ezra.


Karena lelah menunggu pemiliknya yang tidak kunjung datang, akhirnya Harun dan Ezra memilih untuk duduk di cafe tempat di samping ruko tua yang menarik perhatian Harun. Dua cangkir kopi menemani mereka di Cafe tersebut.


"Haura tahu?"


"Tidak, jika iya dia akan melarangku."


"Iya sih. Terus dekorasi beserta isinya nanti gimana?" tanya Ezra lagi sambil menyesap kopi hangatnya.


"Bantuan orang terdekatnya." Harun senyum miring, satu nama terlintas di kepala pria itu.


Mungkin beberapa hari ini dia akan sibuk mengurus rumah sakit juga renovasi ruko jika harganya cocok. Alasan Harun ingin membuka toko di dekat rumah sakit, agar bisa bertemu dengan istrinya jika jam istirahat tiba.


***


Bagi Haura, hari begitu lambat untuk berlalu. Dua hari sangatlah lama bagi Haura tanpa ada kehadiran Harun di sisinya. Sejak bertemu dengan Elena dan Vivian, suaminya tidak pernah lagi berkunjung. Hanya sekedar memberi kabar lewat telpon atau mengirim makanan dari rumah untuknya.


Seperti sekarang ini, Haura memandangi menu soto ayam yang baru saja diantarkan oleh sopir pribadi Harun.


"Aku tidak butuh apapun selain kehadiranmu," lirih Haura menatap nanar soto ayam tersebut.


Hanya dua hari tapi rasa rindu Haura sudah sangat besar.


"Kenapa kau terlalu egois Haura? Kau sendiri yang tidak mau kembali kerumah, tapi kau malah bersedih saat mas Harun tidak lagi berkunjung." Haura mulai mengomeli dirinya sendiri.


Dia saja tidak mengerti dengan jalan pikirannya, bagaimana dengan orang lain? Merindukan Harun, tapi tidak ingin tinggal bersama karena rasa takut kalau saja setelah melahirkan Harun akan mengambil anaknya. Sungguh dia sangat bodoh.


"Kak Haura nangis?"


Haura buru-buru menghapus bulir-bulir bening yang berjatuhan di pelupuk matanya. Memaksakan senyuman untuk menyambut kedatangan Diana.


"Tidak, ini cuma keringat. Siang hari udaranya sangat panas," bohong Haura.


"Aku kira kak Haura kesakitan." Diana ikut duduk di hadapan Haura, memperhatikan makanan yang ada di agat karpet. "Kenapa kakak belum makan? Tidak berselera lagi? Apa ini karena kak Harun tidak pernah berkunjung ...."


"Tidak Diana, aku belum lapar." Mengelengkan kepalanya.


Diana mengangguk-anggukkan kepalanya seolah-olah mengerti, padahal gadis itu tahu betul selera makan Haura menghilang sejak Harun tidak lagi muncul di hadapannya.


Gadis itu melirik jam dinding, dua jam lagi kelasnya akan tiba. "Pesanannya udah siap kak? Aku harus pergi karena ada urusan penting."


"Sudah, ayo aku bantu angkat." Haura lantas berdiri tanpa menyentuh kiriman makanan dari Harun. Membantu Diana membawa beberapa kresek menuju pagar depan.


"Belakangan ini kamu sering bawa mobil itu Diana. Apa teman kamu tidak marah?"


"Tidak sama sekali kak, teman aku sangat baik." Cengir Diana berbohong. Motor gadis itu berada di rumah, pulang kerumah sama saja menyerahkan diri untuk diikat sampai hari pernikahan tiba, dan Diana tidak ingin itu terjadi padanya.