
Seperti pembicaraanya seorang diri di dalam ruangan yang di khususkan untuk Azzam. Ezra diam-diam membawa bayi mungil tersebut memasuki ruangan intensif, dimana tentu saja dia melanggar aturan rumah sakit.
Ezra melakukan semua ini demi kebahagian semua orang. Seseorang yang koma bisa pulih dan sadar lebih cepat jika mempunyai keinginan untuk bangun lebih besar pula.
Dan Ezra percaya, Azzam adalah salah satu orang yang mungkin bisa membuat Haura terbangun, atau setidaknya keluar dari masa kritis agar bisa dipindahkan ke ruangan yang lebih nyaman.
Langkah Ezra terhenti ketika suara dokter Edgar terdengar.
"Mampus," batinnya.
"Dokter Ezra, kenapa dokter membawa bayi masuk ke ruangan ini? Bukankah dokter tahu itu sangat berbahaya untuk kesehatannya?" tegur Edgar yang sangat mematuhi aturan yang ada.
Berbeda dengan Ezra dan Harun yang sering kali melanggar dengan alasan.
Aturan ada untuk dilanggar.
"Sebentar saja Edgar, saya hanya ingin mempertemukan anak dan ibunya. Lima menit!" Menaikkan salah satu tangannya setelah memperbaiki posisi gendongan agar Azzam aman.
Edgar menghela nafas panjang melihat tingkah Ezra. "Lima menit setelahnya harus pergi!"
"Tentu." Cengir Ezra langsung menyibak tirai yang menjadi pembatas dari pasien yang lainnya.
***
Harun, pria itu menarik nafas dalam-dalam setelah sampai di rumahnya yang berada di dekat rumah sakit. Rasa mual menghampiri karena makan tidak teratur setelah istrinya mengalami kecelakaan.
Pria itu baru saja dari kantor polisi untuk memeriksa perkembangan kasus secara langsung. Rumah sang pelaku sudah ditemukan, tapi pelakunya melarikan diri semalam. Sekarang Harun tengah mengerahkan orang-orang untuk memeriksa semua bandara dan transportasi yang mungkin saja membawa pelaku itu meninggalkan kota ini.
"Haura," guman Harun menatap foto pernikahannya yang berada di atas nakas.
Ruko yang baru saja dibuka beberapa hari yang lalu terpaksa Harun tutup karena sibuk sana-sini. Baru saja mata pria itu akan terpejam, dia jadi teringat akan putranya yang dia tinggalkan di rumah sakit sejak siang.
Langkah Harun memelan, dadanya bergemuruh hebat, perasaanya mulai tidak tenang ketika membuka tirai tidak menemukan istrinya di sana.
"Suster, dimana istri saya?" tanya Harun dengan pelupuk mata yang hampir menjatuhkan bulir-bulir bening.
Suster yang ditanya menatap sendu pada Harun. "Pasien di brangkar ini baru saja di pindahkan ke kamar mayat pak. Lukanya terlalu parah sehingga para dokter tidak bisa menangani."
"Bohong!" bentak Harun.
"Sa-saya tidak bohong pak, mungkin perawat yang membawanya belum jauh dari ruangan ini."
Tubuh Harun seakan kehilangan tumpuannya mendengar penjesalan sang suster. Dengan tubuh lemahnya, Harun berlari keluar dari ruangan intensif hanya untuk mengejar perawat yang dimaksud suster tadi.
"Tunggu!" teriak Harun menghentikan dua perawat yang mendorong brangkar menuju kamar mayat. "Istiku belum pergi, jangan bawa dia kemanapun!" cegah Harun.
Pria itu langsung memeluk tubuh yang terasa dingin yang telah di tutupi kain berwarna hijau. Air mata tidak terelakkan, isakan mulai terdengar di lorong rumah sakit yang sangat sepi tersebut.
"Sayang, kenapa kamu tega ninggalin mas seperti ini? Bangun, kamu bahkan belum pamit baik-baik saja mas." Menguncang tubuh mungil tersebut.
Harun tidak akan sanggup melanjutkan hidupnya kalau saja Haura benar-benar pergi untuk selamanya.
"Humairahku, bagaimana dengan putra kita? Dia membutuhkan kasih sayang seorang ibu." Histeris Harun.
Perawat yang melihatnya memegang pundak Harun. "Dokter, kami harus membawanya."
"Jangan bawa istrku kemanapun! Dia masih hidup!" bentak Harun menyentak tangan dua perawat laki-laki itu.
"Tapi pak ...."