Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 64 ~ Tabir Pernikahan


Mendapat elusan yang sangat lembut di kepalanya membuat hati Harun begitu tenang. Pria itu merubah posisi tidurnya menghadap perut buncit Haura, menempelkan bibirnya di sana dengan tangan melingkar di pinggang.


"Nyaman banget Ra, aku mau setiap hari," gumam Harun perlahan-lahan memejamkan matanya.


Sementara Haura terus saja mengusap rambut Harun dengan pikiran melayang entah kemana.


Rasanya sangat bahagia bisa dimanja dan dihargai oleh suami sendiri, tapi tetap saja rasa takut di hati Haura masih saja ada. Namun, rasa takut itu tidak terlalu jelas.


"Haura?"


"Iya Mas?"


"Kenapa diam saja? Kamu tidak nyaman?" Menatap wajah cantik istrinya. Tangan kekar Harun bergerak membelai pipi yang terasa mulus meski tidak terlalu dirawat.


"Nyaman kok Mas, hanya tidak terbiasa saja. Mas sebelumnya tidak pernah bermanja di pangkuan aku kayak gini," jujur Haura dengan senyum hangatnya.


"Maaf karena selama pernikahan kita, mas terlambat menyadari perasaan mas. Mas hanya menganggapmu seorang istri yang melayani semua kebutuhan suami, tanpa berpikir kamu juga punya perasaan," sesal Harun menyadari kesalahannya selama menikah.


Hanya menjadikan Haura pelayan pribadinya, menyiapkan segala kebutuhan baik fisik maupun batin. Terlebih Haura tidak pernah menolak keinginan Harun sedikitpun.


"Ternyata bertukar cerita dan bermanja dengan istri sendiri adalah hal yang sangat membahagiakan. Selain mengugurkan dosa-dosa, juga memperarat hubungan dan kepercayaan satu sama lain." Tatapan Harun mulai meredup bersamaan mata Haura yang mulai berembun.


Bibir wanita itu bergetar, rasanya sangat senang Harun benar-benar telah menganggapnya wanita sebagai istri, bukan alat yang bisa menuruti semua keinginanya.


"Mas Harun benar mencintaiku?"


"Entah sejak kapan aku mulai mencintaimu Haura, tapi sejak kepergian ayah ada perasaan yang berbeda di hati mas setiap kali melihatmu bicara dengan lawan jenis. Mendengar kamu sakit membuat hati mas terasa nyeri, ingin menggantikan posisimu."


Luruh sudah air mata kebahagian dari pelupuk mata Haura. Dengan bibir bergetar, wanita itu berucap.


"Peluk aku Mas, jangan biarkan aku pergi meski ingin. Aku hanya ragu tentang cintamu, bukan benar-benar mau meninggalkanmu," pinta Haura.


"Makasih sudah bersedia kembali pada mas dan memberi mas kesempatan kedua. Mas berjanji akan mempergunakannya dengan baik," bisik Harun.


Haura hanya mengangguk dalam pelukan suaminya. Rasa nyaman dan keraguan dihatinya mulai memudar seiring berjalannya waktu.


Haura hanya butuh kepastian karena selama ini terus saja memendam sakit hatinya sendirian. Butuh seseorang untuk berbagi, tapi sering kali Harun sibuk dan mengatakan lelah jika pulang bekerja.


***


Jika kisah haru sedang terjadi di kediaman Edelweis, maka berbeda dengan kediaman Ezra sendiri. Pria itu kembali duduk di balkon kamarnya sambil memetik gitar yang telah diperbaiki.


Sesekali bernanyi untuk mengusir suntuk di kala lelah bekerja seharian. Dua minggu, waktu pria itu hanya dua minggu sebelum pertemuan keluarga di adakan.


Bukan hanya makan malam, tetapi lamaran resmi sekaligus membicarakan tentang pernikahan yang akan dilangsungkan secepat mungkin.


Desah*an nafas panjang mulai terdengar berbarengan Ezra meletakkan gitarnya di kursi lain.


"Tidak, aku tidak bisa menerima perjodohan ini. Kebahagian tidak akan menghampiri rumah tanggaku nantinya. Yang ada gadis baik tersebut akan tersakiti setiap saat," gumam Ezra.


Melihat semua kenangan dari perempuan yang telah meninggal dunia, dan suaminya lebih mencintai wanita tersebut akan membuat istri manapun akan merasa tersiksa. Terlebih kenangan itu tersimpan rapi di dalam kamar yang selalu mereka tempati setiap malamnya.


"Sepertinya yang dikatakan Harun ada benarnya."


Ezra melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Meraihnya lalu mendial kontak bertuliskan.


Ratu Drama


Nomor yang diberikan Harun beberapa hari yang lalu. Sembari menunggu seseorang menjawab di seberang telpon, jantung Ezra berdetak tidak karuan. Seakan sesuatu akan terjadi kalau saja seseorang di seberang telpon menjawab panggilannya.


Merasa ragu, Ezra hendak mematikan telpon. Namun, pemilik nomor telah menjawabnya lebih dulu. Mau tidak mau Ezra bicara dengan seorang perempuan yang baru saja dia hubungi.