Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 105 ~ Tabir Pernikahan Boncap 1


Usai makan malam dan berbincang sedikit, Haura dan Harun akhirnya pamit undur dari dari rumah mewah yang di isi oleh beberapa anak remaja yang sangat ceria.


Bunda Harun terus saja membujuk Haura dan Harun agar bermalam meski sebentar saja, tapi Haura menolak dengan halus karena mengerti suaminya tidak mungkin nyaman. Terlebih keduanya baru saja berbaikan walaupun belum sepenuhnya.


"Lain kali Haura dan mas Harun bermalam beberapa hari, Bunda," sahut Haura sopan, sementara Harun hanya fokus memandangi Azzam yang asik bermain dengan adik-adiknya.


"Azzam, ayo pulang Nak!" panggil Harun.


Azzam lantas berlari untuk memenuhi panggilan ayahnya, tapi bukan wajah ceria melainkan cemberut.


"Kok cucu oma cemberut, ada apa Nak?" tanya Bunda Harun, mensejajarkan tubuhnya dengan sang cucu.


"Azzam belum mau pulang, Ayah. Azzam mau main sama om dan tante. Di rumah Azzam tidak punya teman."


Haura lantas menatap suaminya sambil mengangguk, tidak masalah jika Azzam ingin tinggal. Sudah Haura katakan dia tidak akan memaksa kehendak putranya jika itu tidak bertentangan dengan aturan yang ada. Dia mengusap kepala Azzam pelan.


"Azzam boleh bermalam tapi tidak sama bunda dan ayah. Oh iya Azzam jangan nakal-nakal di rumah Om! Nurut sama larangan dan perkataan oma, om dan tantenya."


Azzam mengangguk antusias. "Makasih Bunda, Ayah." Memeluk kedua orang tuanya secara bergantian. Mencium punggung tangan mereka sebagai pengantar kepergian.


Azzam melambaikan tangannya sambil tersenyum, begitupun dengan bunda Harun dan adik-adiknya ketika Haura dan Harun telah berada di atas mobil.


***


Sepanjang perjalanan pulang hanya keheningan yang menemani Harun di dalam mobil, sebab istrinya telah terlelap. Tidak heran, karena jarum jam telah menunjukkan angka 10 lewat beberapa menit.


Karena jarak rumah lebih dekat dari toko, Harun memutuskan untuk bermalam di rumah saja. Mengendong tubuh istrinya memasuki kamar setelah sampai di rumah.


Senyuman tidak pernah surut di wajah Harun melihat betapa damainya Haura terlelap.


"Bunda cantik tidur yang nyenyak ya. Jangan banyak pikiran dan harus tetap sehat biar dedeknya Azzam baik-baik saja," bisik Harun tepat di telinga istrinya.


Pria itu ikut berbaring setelah membersihkan dirinya, memeluk Haura tidak terlalu erat agar ada ruang untuk bergerak. Tidak lupa dia melepas hijab yang menutupi rambut indah istrinya.


Rambut yang kembali panjang sebab tidak pernah dipotong atas larangan dari Harun. Rambut adalah mahkota perempuan. Harun tidak ingin mahkota istrinya dipangkas meski sedikit saja.


***


Sebab Toko donat menjadi tempat strategis untuk mereka tinggal karena dekat dengan perkejaan yang mereka kerjakan setiap hari.


"Hati-hati jalannya, kalau ada apa-apa langsung telpon mas! Satu lagi ...."


"Apa lagi Mas Harun?" tanya Haura yang sudah bersiap turun dari mobil suaminya yang terpakir di depan Ruko.


"Sun."


"Sun?" Haura mengerutkan keningnya.


Harun lantas menyentuh bibirnya yang manyun sambil memejamkan mata. Haura menghela nafas melihatnya, tapi meski begitu tetap saja mengecup bibir suaminya setelah menutup pintu mobil kembali. Jaga-jaga kalau saja ada yang melihat hal tidak seharusnya mereka lihat.


"Semangat kerjanya, Mas. Nanti aku bawa makan siang ke rumah sakit."


"Siap Sayang." Mencuri satu kecupan lagi sebelum Haura benar-benar turun dari mobil. Harun melajukan mobilnya menuju rumah sakit, sementara Haura memasuki Ruko yang telah dibuka oleh karyawannya.


Kening Haura mengernyit melihat seorang pria duduk di sudut ruangan sambil menikmati segelas kopi hangat. Pria itu menunduk tapi Haura masih bisa mengenalinya meski samar-samar.


Saat akan mendekat, karyawan bagian kasir malah memanggil Haura sehingga urung melanjutkan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Haura.


"Tadi ada yang mencari bu Haura, katanya penting banget jadi saya menyuruhnya menunggu di sana, Bu." Menunjuk meja yang dihuni oleh pria yang hendak Haura hampiri.


"Makasih, saya kesana dulu," sahut Haura mendekati meja pria yang menunduk tersebut.


...****************...


Ada yang kangen sama Haura nggak?😉


Kalau ramai otor lanjut boncapnya