
Jarum jam sudah menunjukkan angka 8 malam sejak beberapa menit yang lalu. Makan malam telah siap di meja makan, semua anggota keluarga telah hadir untuk menantikan seorang gadis yang katanya akan berkunjung ke kediaman Ezra.
Gadis yang mampu meluluhkan hati seorang Ezra. Gadis pertama yang dibawa Ezra kerumah dan memperkenalkan pada kedua orang tuanya.
"Kak Ezra, kok calon kakak ipar aku belum datang? Subuh nanti aku harus balik karena ada urusan dadakan," celetuk Azalea yang mulai tidak sabar. Takut kalau saja malam ini tidak jadi bertemu dengan wanita pilihan kakaknya.
"Sebentar lagi," sahut Ezra sibuk memandangi ponselnya, harap-harap cemas apakah Diana ingin memakai gamis dan hijab yang dia pilihkan dengan sepenuh hati.
Entah secantik apa Diana jika memakainya, membayangkan saja rasanya Ezra tidak mampu.
Suara bel rumah berbunyi, bertepatan dengan sebuah pesan masuk ke ponsel Ezra. Pria itu hendak bangkit tapi dicegah oleh adiknya.
"Itu calon kakak ipar aku kan? Duduklah, aku yang akan menyambutnya." Azalea mendahului semua orang yang berada di ruang keluarga.
Membuat orang tuanya juga Ezra tersenyum. Jika Azalea sudah bicara, maka tidak ada yang akan berani membantah. Bahkan sebenarnya orang tua Ezra tidak ada niatan menyekolahkan Azalea di pesantran dulu, tapi gadis itu menangis dan memohon agar dizinkan untuk tinggal mandiri.
Senyuman Azalea yang memakai gamis warna hitam, mengembang sempurna melihat gadis dengan pakaian Syar'i sedang menunduk sambil meremas sesuatu di tanganya.
"Pacarnya kak Ezra ya? Ayo masuk!" Menarik tangan Diana, membuat gadis itu tentu saja terkejut.
Terlebih Diana tahu betul kalau yang sedang menarik tangannya adalah gadis yang tidak bisa membuatnya tidur karena rasa cemburu dan insekyur.
"Yah, Bunda, kak Ezra, liat siapa yang datang. Aku tidak menyangka pacar kakak secantik ini. Mana muda banget lagi!" Antusias Azalea membawa Diana ke ruang tamu.
"Ayah-bunda?" batin Diana.
"Akhirnya kamu datang juga." Ezra yang melihat Diana sedikit kebingungan segera mendekat dan mengenggam tangan gadis itu, seakan memperlihatkan pada kedua orang tuanya bahwa mereka benar-benar pacaran.
Sama dengan bunda Diana, orang tua Ezra terkejut ketika tahu pacar Ezra adalah calon istrinya sendiri. Yang lebih mengejutkan lagi karena Diana datang dengan pakaian sopan, padahal kedua paruh baya itu tau calon menantu mereka cukup bebas di luar sana.
Lalu kenapa ingin menjodohkan? Alasannya sederhana, ingin mempererat kekerabatan yang telah terjalin cukup lama. Perbedaan dan kebiasaan bukanlah hal besar untuk keluarga Ezra, semuanya bisa diubah jika ingin berusaha.
"Ma-makasih tante," lirih Diana yang tiba-tiba merasa gugup.
Tanpa gadis itu sadar sejak tadi Ezra memandanginya tanpa ingin berkedip sama sekali. Pria itu tidak menyangka Diana akan secantik ini jika memakai hijab. Sungguh, Ezra terpanah akan kencatikan pacar pura-puranya.
"Ekhem, pengangan tangan, menatap terus menerus dan pacaran, sungguh kakak telah melanggar banyak hal dan menodai gadis secantik calon kakak iparku." Azalea lantas memisahkan Ezra dan Diana karena mulai risih.
"Setelah pulang dari sini paksa kak Ezra buat nikah," bisik Azalea. "Oh iya, nama aku Azalea, adiknya kak Ezra. Salam kenal." Mengulurkan tangannya setelah sampai di meja makan.
"D-diana, senang bertemu. Semoga kita bisa berteman baik," lirih Diana sedikit salah tingkah.
Tidak lupa memaki diri sendiri sebab merasa bodoh, menyimpulkan sesuatu tanpa memastikan kebenaran lebih dulu.
"Lea, jangan jahilin pacar kakak kamu! Dia masih baru dan harus beradaptasi!" tegur sang ayah membuat Azalea menyengir tanpa dosa.
Berbeda dengan Ezra yang masih saja mengambil kesempatan untuk menatap Diana.
"Duduklah kak!"
"Hm." Ezra lantas duduk di samping Diana. Mendekatkan bibirnya tepat di telinga gadis itu yang terhalang kain. "Aku kira kamu tidak mau memakainya. Terimakasih sudah menghargai keluarga saya."
"Ezra! Jaga sikap kamu! Kalian itu belum menikah!" tegur ayah Ezra yang membuat pria itu buru-buru menjauh.