
Mengajarkan Azzam mandiri sejak dini membuat Harun dan Haura tidak begitu kerepotan di masa pertumbuhan putra mereka. Terlebih Azzam adalah anak yang cepat paham akan sesuatu.
Sekolah di taman kanak-kanak Azzam hanya diantar pas satu bulan saat baru sekolah saja, setelahnya akan pulang dan pergi bersama sopir. Bukan karena Harun dan Haura tidak memberikan kasih sayang, hanya saja mengajarkan putranya tentang kepercayaan sejak dini.
Ketika semua orang telah pergi ke urusan masing-masing, Haurapun lantas meninggalkan rumah untuk menuju toko donatnya.
Di toko Haura selalu disibukkan akan banyak hal, entah memeriksa bahan makanan, meja kasir sampai melayani pembeli yang ramai, wanita itu lakukan untuk meringankan beban para keryawannya.
Alih-alih menyuruh ini-itu, Haura sering kali mengerjakannya sendiri.
Ketika suara lonceng berbunyi pertanda ada pelangan, Haura lantas membalik tubuhnya dan terkejut melihat ibu mertuanya telah datang berkujung. Haura mendekati wanita paruh baya itu lalu menunduk untuk mengecup tangannya.
"Kenapa belakangan ini Bunda jarang datang?" tanya Haura mempersilahkan mertuanya duduk.
"Takut kamu dan Harun bertengkar Nak," sahut bunda Harun.
Memang selama ini Haura dan mertuanya sering kali bertemu di belakang Harun yang belum bisa memaafkan bundanya. Bahkan Haura mempertemukan Azzam jika hari libur.
Katakanlah Haura salah dan durhaka pada suaminya sebab telah berbohong, hanya saja wanita itu ingin mempersatukan ibu dan anak yang telah berpisah selama bertahun-tahun. Apalagi Haura dan Harun sekarang tidak mempunyai orang tua di rumah.
"Ayo kita naik saja Bunda, sekalian makan siang!" ajak Haura.
Bunda Harun mengangguk, mengikuti langkah Haura menuju rumah minimalis yang berada di lantai dua. Wanita itu memang seorang janda, tapi hidupnya tidak pernah sengsara di luar sana sebab pandai berbisnis juga keluarganya yang kaya raya.
Bunda Harun duduk di meja makan, sementara Haura sibuk menyiapkan makan siang yang tidak membutuhkan waktu lama. Atensi keduanya langsung teralihkan pada decitan pintu yang terbuka.
"Sayang, lihat siapa yang ...." Harun mematung di ambang pintu dapur sambil mengendong Azzam yang baru saja pulang sekolah. Rahang pria itu mengeras, tangannnya di sisi tubuh Azzam mengepal hebat.
"Kau?"
"Oma?" Azzam membulatkan matanya, meronta agar segera diturunkan oleh sang ayah. "Azzam kangen oma." Memeluk pinggang omanya.
Sedangkan Haura buru-buru menghampiri sang suami yang tubuhnya telah bergetar menahan amarah, mungkin jika tidak ada Azzam, emosi Harun sudah meledak.
Haura mengenggam tangan Harun yang terkepal. "A-ayo ke kamar dulu mas," bisik Haura.
"Maaf Mas," lirih Haura masih memeluk Harun.
Namun, pria itu hanya diam saja tanpa berkeinginan membalas pelukan istrinya.
"Aku salah karena membiarkan bunda kerumah dan bertemu Azzam tanpa sepengetahun kamu. Aku melakukan ini semua karena ingin keluarga kita utuh kembali."
"Cara kamu salah!" Akhirnya suara Harun terdengar.
"Maaf."
"Lepas Haura, mas masih ada pekerjaan di rumah sakit!"
Haura mengelengkan kepalanya, semakin erat memeluk Harun. "Jangan pergi sebelum hukum aku, Mas. Aku telah membuatmu kecewa."
"Haura."
"Setidaknya makan siang dulu. Kalau mas marah, marah sama aku saja jangan sama Bunda apalagi Azzam. Mas boleh marah tapi harus makan."
"Sayang?" Suara Harun melembut, pria itu mulai membalas pelukan istrinya. Mengelus pundak Haura setelah meredamkan emosi yang bergejolak dihatinya.
"Mas Harun?" Mendongak untuk menatap wajah tampan suaminya, air mata telah berhasil membasahi pipi Harun.
"Bagaimana mungkin mas bisa marah sama kamu, hm? Kelemahan mas adalah dirimu. Tapi maaf mas belum bisa menerima keberadaan bunda, hati mas terlalu kecewa atas apa yang pernah dia lakukan pada ayah."
"Aku tahu Mas, tapi semunya sudah berlalu selama puluhan tahun. Allah saja maha pemaaf, kenapa hambanya tidak? Dia orang tua kita, dia bunda Mas. Sampai kapanpun surga Mas ada ditepak kakinya."
...****************...
Yang bertanya tentang hubungan Ezra dan Diana, otor sengaja nggak masukin lagi sebab sudah 6 tahun berlalu.
Demi menghilangkan rasa penasaran readers bucin, otor bakal buat cerita Ezra dan Diana sendiri tapi belum bisa janji publis kapan