Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 92 ~ Tabir Pernikahan


Penantian selama berjam-jam di depan ruangan operasi membuat hati dan pikiran Harun tidak tenang. Semua pikiran pria itu dipenuhi dengan hal-hal negatif, terlebih ketika mengingat mimpinya beberapa hari yang lalu.


Air mata terus saja lolos dipelupuk matanya tanpa diminta. Ada rasa sesal menghampiri hati pria itu. Meski tahu putranya lahir dengan selamat, Harun tidak begitu bahagia karena wanita yang dia cintai masih saja terbaring tidak tahu kapan akan bangun.


Harun hanya menemui putranya untuk mengadzani, setelahnya kembali ke depan ruangan operasi.


Pria itu beranjak dari duduknya ketika Edgar dan salah satu perawat keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana dengan istri Saya? Apa dia baik-baik saja? Saya bisa menemuinya sekarang?" Rentetan pertanyaan langsung Harun layankan. Belum lagi pancaran matanya menyiratkan kebingungan yang sangat mendalam.


Edgar menepuk pundak Harun sambil tersenyum. "Kondisi bu Haura jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi dia belum bisa keluar dari masa kritis. Benturan di kepala membuatnya mengalami pendarahan pada otak yang mengakibatkan beberapa fungsi tubuhnya melemah."


Brugh


Tubuh Harun terjatuh di atas lantai, bersujud tepat di hadapan Edgar dan beberapa suster. Dunia pria itu seakan benar-benar telah runtuh mendengar penjelesan Edgar.


Dia salah satu dokter Saraf dan tahu betul apa yang akan terjadi pada istrinya jika pendarahan otak sangatlah parah.


"Ak-aku benar-benar bodoh." Menepuk dadanya yang terasa sesak. Harun tampak menyedihkan di lorong rumah sakit.


Ingin rasanya dia menghukum diri sendiri karena tidak becus menjaga istrinya. Padahal sudah diberi peringatan beberapa hari yang lalu lewat mimpi.


"Bangunlah Dokter, temui bu Haura di ruangan Intensif!" pinta Edgar membantu Harun berdiri.


***


Termenung di samping brangkar rumah sakit adalah hal yang Harun lakukan saat ini. Melihat istrinya terbaring tidak berdaya membuat hati Harun bagai diremas tangan tak kasak mata.


"Humairahku, bangulah dan lihat putra kita. Dia sangat tampan sepertiku. Bangun dan beri putra kita nama sesuka hatimu." Seiring mulut yang berbicara, air mata juga kian mengalir.


Tubuh mungil yang biasanya dia peluk kini dipenuhi akan alat-alat rumah sakit yang membantu Haura bertahan hidup. Harun bersumpah akan menghukum pengemudi yang telah berani menabrak istrinya tanpa ingin bertanggung jawab.


"Sayang, apa yang harus aku katakan pada putra kita? Bangunlah, aku bersedia mengantikan posisimu. Kamu tahu? Sekarang duniaku benar-benar hancur Humairah. Gelap karena tidak ada lagi senyummu yang menghiasi."


Harun mengambil nafas lalu menghembuskannya secara perlahan, itu dia lakukan agar rasa sesak di dada tidak mendominasi.


"Mungkin kalau kamu tidak melindungi putra kita, kamu tidak akan terbaring separah ini Ra."


Harun teringat pada pembicaraan dengan dokter Edgar sebelum memasuki ruang intensif. Edgar mengatakan penyebab benturan terlalu keras mungkin karena Haura berusaha melindungi perutnya.


Kalau saja Haura tidak melindungi perutnya dengan menghindari benturan di perut maupun pinggang, pendarahan otak tidak akan terjadi.


"Sampai kapan kau akan merenung, Run? Kau tidak mau menghukum orang yang membuat istrimu seperti ini? Putramu? Siapa yang akan menjaganya kalau bukan kamu?" ucap Ezra yang baru saja datang setelah mengurus pesiennya yang lain.


"Haura perempuan baik, banyak orang yang mendoakan untuk sembuh. Aku yakin dia akan bangun secepatnya untuk melihatmu juga putramu." Ezra terus saja memberi kata-kata penenang pada sahabatnya yang sedang terpukul.


Namun, terpukul bukan berarti harus melupakan tanggung jawab yang lainnya. Selain sekarang Harun sudah menjadi ayah, rumah sakit juga butuh campur tangan Harun, belum lagi kepolisian yang tengah menyelidiki kasus tabrak lari yang terjadi.


Saksi mata pertama yang diambil tentu saja gadis yang berusaha Haura tolong. Gadis itu sedang berada di rumah sakit lain dibawah oleh ayahnya.


Harun mendongak untuk menatap Ezra. "Hauraku akan bangun kan, Zra?"


"Tentu, dia akan bangun untukmu dan putramu. Yang harus kita lakukan yaitu mencari dokter yang benar-benar bisa menyembuhkannya."