
Harun, suasana hati pria itu sedang tidak baik-baik saja sejak keluar dari ruangan CCTV. Harusnya sejak awal dia memeriksa CCTV rumahnya agar tahu apa-apa saja yang terjadi.
Mungkin jika dia rutin memeriksa, masalah ini tidak akan berlarut-larut, hubungannya juga dengan Haura pasti baik-baik saja.
Pria itu kembali ke kamarnya lalu membaringkan diri di atas ranjang, menahan amarah membuat kepala Harun berdenyut. Bukan hanya kepala, tapi hatinya juga ikut berdenyut karena rasa bersalah untuk istrinya.
***
5 hari sebelum pernikahan Harun dan Vivian, tapi Haura tampak tidak peduli, wanita itu menyibukkan diri dengan usaha kecil-kecilan yang semakin ramai akan pembeli.
Haura sangat bersyukur, di tengah-tengah sibuknya melayani pesanan, ada Diana yang ingin membantunya. Gadis cantik itu duduk sila di hadapan Haura yang sedang membuat adonan untuk ketiga kalinya. Diana sedang memandangi ponsel Haura untuk melayani pesanan yang masuk tiada henti.
"Suka banget deh kalau ada yang nanya terus langsung beli!" Girang Diana ketika pembeli kembali fiks dan mengirimkan alamatnya.
3 lusin donat, dan satu dus pisang roll.
Itulah pesanan selanjutnya. Diana mulai menglist untuk pesanan hari ini, lalu mengprinnya dengan alat prin mini yang dia bawa dari rumah.
"Diana, sudah jam 3 sore, sebaiknya jangan terima pesanan untuk hari ini. Bukalah pesanan untuk besok," sahut Haura yang mulai mengoreng donat-donatnya dengan api sedang.
"Siap kak."
Akhirnya Diana menolak satu persatu pesanan yang masuk untuk hari ini, dan menerima pesanan untuk besok. Gadis itu terdiam beberapa saat, sebelum kembali bicara.
"Apa kak Haura tidak ada rencana mendaftarkan usaha online ke Platform belanja online? Aku bisa membantu kakak untuk mengurusnya." Kebetulan Diana kuliah di bidang Manajemen bisnis atas perintah ayahnya yang seorang pengusaha.
Haura lantas mengelengkan kepalanya. "Aku belum terpikirkan sampai ke sana Diana, mungkin setelah melahirkan. Sekarang aku juga ingin fokus pada kehamilanku, terlebih aku tidak punya cukup modal untuk menyewa karyawan."
"Aku bisa jadi adminnya tanpa dibayar. Tapi kurir harus!" cengir Diana membuat Haura tersenyum lembut.
Wanita berbadan dua itu lantas mematikan kompornya ketika Adzan Ashar mulai terdengar.
"Diana, apa mau ikut sholat sama aku?"
"Eum itu ... ak-aku tidak mengerti apapun kak. Orang tuaku tidak pernah mengajarkannya."
"Islam kok kak."
"Ya sudah, ayo! Aku akan mengajarimu." Menarik tangan Diana untuk masuk ke kamar mandi mengambil air Wudhu.
Sementara yang ditarik terlihat sangat kikuk. Memang selama ini orang tuanya tidak pernah menyuruh melakukan ibadah, semuanya sesuai keingian Diana saja.
Aku beruntung bertemu kak Haura, mungkin ini adalah jalanku menuju kebaikan.
Diana membantin sambil menatap punggung Haura dari belakang.
***
Harun, pria itu berdiri di balkon kamarnya sambi berbicara dengan seseorang di seberang telpon, terlalu banyak file jika Harun yang memindahkannya sendiri, sehingga pria itu meminta bantuan orang lain, lebih tepatnya pengacara pribadi.
Harun tidak ingin jika dia yang menyelidiki langsung, Elena dan Vivian curiga dan bergerak menghilangkan barang bukti. Pria itu sangat ingin memenjarakan Elena karena telah berani membunuh ayahnya tanpa belas kasihan sedikitpun.
"Saya sudah mengirimkan sandi ruangan CCTV, kau bisa memindahkan bukti pembunuhan juga penyiksaan istriku. Ah iya, setelah rangkum jalankan sesuai rencana."
"Baik pak."
Harun memutuskan sambungan telpon setelah pembicaraanya selesai. Pria itu akan tetap melanjutkan rencana pernikahan seperti yang diinginkan Elena dan Vivian, hanya saja ada sedikit kejutan dari Harun nantinya.
Pria itu segera keluar dari kamar dan berjalan santai menapaki anak tangga, tidak mampir ke meja makan langsung meninggalkan rumah yang rasanya bukan lagi sebuah rumah, tapi sarang ular yang sangat berbahaya.
Ada sedikit rasa syukur di hati Harun karena Haura tidak lagi di tinggal di rumah ini, atau istri dan calon anaknya akan mendapatkan siksaan dari Elena.
"Harun, bunda mau bicara!"
Harun lantas menghentikan langkahnya dan menatap Elena yang berjalan mendekat, alis pria itu terangkat seakan bertanya.
"Pernikahan kalian 5 hari lagi, tapi cincin pernikahanya belum siap, ajaklah Vivian untuk belanja Nak!"
Bukannya menjawab, Harun malah melirik arloji di pergelangan tangannya. "Jam 5 sore nanti cincinnya akan di antar Bunda, aku sudah memesannya. Sekarang aku sangat sibuk!"