
Mendapat kesempatan kedua dari wanita yang sangat dia cintai tentu saja adalah hal yang sangat membahagikan. Terlebih sikap Haura tidak lagi kaku dan menerima segala perhatian yang dia berikan meski masih ada gurat keraguan dalam hati wanita tersebut.
Namun, Harun tidak akan menyerah juga memaksakan kehendak Haura untuk kembali seutuhnya dalam kehidupan yang dia inginkan.
Memberikan Harun kesempatan bukan berarti tinggal bersama sudah menjadi pilihan, salah besar. Haura memberi kesempatan untuk membuktikan betapa besarnya cinta dan perjuangan Harun, tapi tidak untuk pulang kekediaman Edelweis.
Haura ingin menata hatinya, mengumpulkan serpihan-pihan yang telah berhamburan karena telah diretak oleh pria yang sangat dia percayai.
Mungkin serpihan hati itu akan kembali utuh, tapi tidak lagi kokoh. Jika ada menyenggolnya sedikit saja, maka hati itu akan kembali hancur dan tidak akan bisa diperbaiki lagi.
Sekarang dua hati yang tengah berusaha saling menerima dan melupakan kesalahan masing-masing tengah terdiam tanpa mengucapkan kalimat apapun. Hanya suara musik yang menemani keheningan di dalam mobil dengan tangan Harun mengenggam tangan Haura yang kasar karena bekas luka.
"Akan berbahaya jika mas Harun terus mengenggam tanganku," ucap Haura berusaha melepaskan genggaman tangan Harun, takut terjadi kecelakaan di jalanan yang sangat lengang.
Dimana mobil dan motor melaju sesuka hati mereka.
"Tidak akan, Ra. Lagipula waktuku hanya sampai jam 5 sore, setelahnya bisa bertemu besok lagi." Harun melirik istrinya dengan senyuman.
Sementara yang di perhatikan sedang fokus pada jalan raya di mana anak-anak sedang berkejar-kejaran di pinggir jalan.
Pakaian lusuh menyertai anak-anak tersebut sehingga siapa saja dapat menembak bahwa mereka adalah orang-orang kurang beruntung.
"Tolong berhenti di depan mas, sebentar saja!" pinta Haura.
Meski merasa bingung Harun tetap saja menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Melirik istrinya yang hendak turun dari mobil.
"Mau kemana? Matahari sangat panas, itu bisa saja membuatmu lelah." Menarik tangan Haura, mencegahnya turun.
"Hanya sebentar mas." Haura mengeledah tas yang dia bawa lalu keluar dari mobil. Berlari dengan langkah pelannya menghampiri dua anak perempuan yang tengah duduk di samping tiang listrik.
Haura berjongkok di depan dua gadis berpakaian lusuh tersebut.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Haura dengan raut wajah khawatirnya, terlebih saat melihat wajah pucat salah satu gadis. Itulah yang mengambil perhatian Haura untuk berhenti.
"Adek saya sakit kak, kakak saya." Menunjuk anak laki-laki yang tengah berlarian di lampu merah, menghampiri satu persatu pengendara bermobil mewah.
"Dia nyuruh nunggu di sini sampai bisa beli obat."
"Kakak cuma punya uang segini, beliin obat buat adeknya ya. Oh iya, kakak punya usaha donat, kalau kalian lapar datang saja ke jalan ...." Menyebutkan alamat dimana sekarang dia tinggal.
Karena merasa gadis berusia 7 tahun itu tidak mengerti, Haura hendak berdiri, terlebih terik matahari juga kakinya mulai keram karena terlalu lama berjongkok.
Terik matahari yang tadinya sangat menyengat berubah menjadi hangat. Haura berbalik dan tersenyum melihat Harun berdiri menghalangi matahari agar tidak mengenai tubuhnya.
"Ayo!" Mengulurkan tangannya dengan kening mengkerut merasakan panasnya matahari.
Haura mengangguk, meraih uluran tangan Harun. "Mas punya pulpen?"
Harun mengangguk, lalu menyerahkan benda persegi panjang yang selalu menemani Harun kemana-mana.
"Makasih, mas."
Haura kembali berjongkok, merobek pinggiran dus lalu menuliskan alamat dan nomor hp. "Kalian telpon kakak saja kalau butuh sesuatu."
"Makasih kakak baik, makasih juga buat uangnya. Saya bakal beliin obat buat adik saya."
"Cepat sembuh." Haura mengepalkan tangan kirinya, sementara tangan kanan sudah digenggam oleh Harun yang bersiap untuk pergi. "Dah." Melambaikan tangannya.
Wanita itu mengikuti langkah lebar Harun menuju mobil yang lumayam jauh dari tempatnya tadi. Haura mengembungkan pipinya melihat sikap Harun yang tampak acuh pada anak-anak jalanan tersebut.
"Mas kenapa? Marah karena aku menolong ...."
"Berjongkok dan panas-panasan akan membuatmu dan calon anak kita sakit. Baik memang perlu, dan memperdulikan kesehatan juga penting!"
"Aku tahu."
"Tahu tapi membahayakan!" celetuk Harun.
"Aku hanya kasihan pada mareka Mas, aku tidak bisa membayangkan kalau anak-anakku ada di posisi mereka. Tidak ada yang tahu nasib seseorang."
"Dan akan ku pastikan anak-anakku tidak akan terlantar di jalan. Hanya pria yang tidak bertanggung jawab yang menelantarkan anak dan istrinya seperti itu."
"Aku dan calon anak aku hampir merasakan itu kalau saja bukan Ezra yang menolongku," ucap Haura berhasil membuat Harun mati kutu.