Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 36 ~ Tabir Pernikahan.


Harun, pria itu terus saja melangkah dengan kaki lebarnya di koridor rumah sakit, melewati beberapa dokter dan suster yang berlalu lalang membawa pasien sesuai spesialis mereka. Entah hanya bicara tentang kesehatan, atau membawanya kesebuah ruangan untuk diberikan penangan lebih lanjut.


Pria itu menghentikan langkahnya setelah sampai di depan ruangan Ezra. Tujuan Harun berkunjung bukan karena merindukan sahabatnya, melainkan ingin mengetahui kabar sang istri yang menghilang tanpa jejak setelah tahu dia akan menikah lagi.


Tangan yang hendak mengetuk pintu segera Harun urungkan, langsung mendorongnya membuat pemilik ruangan terkejut bukan main.


"Bisa tidak, kau mengetok pintu sebelum masuk!" Melayangkan tatapan tidak suka pada Harun, sementara pria itu tampak acuh. Langsung duduk di hadapan Ezra yang tengah fokus dengan ponselnya.


"Biasanya aku juga tidak mengetuk pintu, kenapa kau sangat marah?" tanya Harun tanpa rasa bersalah.


Ezra memutar bola matanya malas, suasan hati pria tampan itu sedikit tidak baik hari ini setelah berbicara dengan kedua orang tuanya semalam.


Kenapa perjodohan selalu terjadi? Sungguh Ezra tidak ingin dijodohkan oleh siapapun, dia ingin memilih pendamping hidupnya sendiri.


"Kenapa kau datang?" Bukannya menjawab, Ezra malah melayangkan pertanyaan. Perjodohannya bisa dibilang tidak penting, terlebih calon istrinya masih kuliah. Ezra yakin gadis itu juga tidak ingin dijodohkan.


Pria itu kembali menatap Harun yang tampak terdiam sambil mengetuk-ngetuk meja.


"Harun?"


"Eum itu ... tolong telpon Haura, aku ingin mendengar suaranya," pinta Harun akhirnya.


Salah satu alis Ezra terangkat.


"Kenapa bukan kau saja? Kau tidak punya pulsa atau kuota?"


"Sepertinya aku diblokir oleh Haura," lirih Harun dengan wajah sendunya, berbeda dengan Ezra yang tersenyum cerah melihat penderitaan Harun.


Pria itu menyandarkan tubuhnya dengan santai masih dengan senyuman diwajahnya. "Ternyata Haura sangat pintar."


"Apa maksudmu?"


"Dia menghilangkan semua jejak tentangmu, bukankah itu keputusan paling tepat jika kita disakiti oleh seseorang? Sangat diutungkan dia sedang hamil, jika tidak mungkin dia sudah pergi jauh dari ...."


Brak


Harun mengembrak meja Ezra cukup keras sehingga tangannya memerah, menatap penuh selidik pada sahabatnya.


"Ck, sepertinya kau butuh dokter karena kekurangan kasih sayang." Bukannya takut Ezra malah kembali bercanda.


Namun, tetap saja melaksakan permintaan Harun untuk menelpon Haura, pria itu juga tidak tega jika Harun terus saja mengamuk, bisa berabe jika didengar oleh orang lain.


Ezra meletakkan ponselnya di atas meja setelah sambungan telpon terhubung.


"Ada perlu apa? Kak Haura ada di kamar mandi," ucap seorang gadis di seberang telpon. Gadis itu tidak lain adalah Diana yang masih setia berada di rumah Haura.


"Siapa kau?"


"Aku Diana, kurir pribadi kak Haura. Aku akan ... Kak Haura ada orang telpon dari nomor tidak di kenal!" Suara teriakan di seberang telpon terdengar.


Harun yang mendengarnya tersenyum, ternyata istrinya tidak pernah berubah sejak dulu. Haura tidak sembarangan menyimpan kontak seseorang terlebih seorang pria.


Dan bodohnya Harun, karena pernah mencurigai istrinya tanpa ingin mendengarkan penjelasan lebih dulu.


"Halo, Ezra ya?" Suara di seberang telpon kembali terdengar. Kini lebih lembut dari sebelumnya. Harun semakin merapatkan tubuhnya, dia sangat merindukan suara Haura.


"Hm, bagaimana keadaan kanduganmu, apa baik-baik saja?"


"Alhamdulillah baik, kalau tidak ada yang penting aku bisa mematikan telponnya?"


"Tunggu!" Cegah Ezra ketika tangannya dicubit oleh Harun, seakan memperingatkan.


Ezra menatap tajam sahabatnya, sementara Harun menulis sesuatu di sebuah kertas lalu memperlihatkan pada Ezra.


"Apa kau sibuk sore ini? Aku ingin bertemu untuk membicarakan hal yang sangat penting. Di depan pagar kontrakan juga tidak masalah."


"Apa bisa jam 8 malam saja? Aku ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Atau kalau bisa bicarakan saja lewat telpon!"


"Baiklah, aku akan datang jam 8 malam." Ezra memutuskan sambungan telpon setelah mengucapkan salam. Menatap Harun dengan tangan melayang ke kepala pria itu.


"Pergi sana, jangan buat aku jadi perantara lagi! Haura sangat susah untuk diajak bicara basa-basi asal kau tahu." Omel Ezra, sementara Harun sibuk mengusap kepalanya yang baru saja digampar oleh Ezra.


"Jangan lupa kirimkan alamat rumahnya!" Bangkit lalu meninggalkan ruangan Ezra. Harun tahu jalan di mana dia sering melihat Haura, hanya saja tidak tahu di mana alamat tepatnya.