
Mengajak Haura jalan-jalan di sekitar rumah sakit saat memiliki waktu segang adalah hal yang Harun lakukan saat ini. Pria itu terus saja mengenggam tangan istrinya sambil membicarakan banyak hal yang membuat keduanya semakin dekat.
Bahkan setiap jam dan detiknya, Haura semakin nyaman berada di samping suaminya, juga mulai terbiasa akan sikap Harun yang sangat menjakannya.
Wanita itu tidak segang-segang menerima perlakuan manis Harun. Mungkin karena rasa cintanya juga janin dalam kandungannya yang selalu ingin berada di sekitar Harun.
"Mau makan sesuatu?" tanya Harun ketika langkah mereka hampir sampai di kantin rumah sakit yang berada di lantai dua.
Haura tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk. Mengikuti langkah Harun yang sengaja dipelankan agar dia bisa mengimbangi tanpa kelelahan.
Haura tidak sepenuhnya menemani Harun bekerja tadi, wanita itu berada di sebuah ruangan untuk istirahat seorang diri setelah melakukan USG ditemani sang suami.
Ekpresi Harun ketika mengetahui jenis kelamin anak mereka adalah laki-laki, membuat Haura sangat senang. Terlebih Harun mengecup perutnya berulang kali di depan dokter kandungan wanita yang menanganinya.
Langkah Haura yang hendak memasuki kantin berhenti ketika melihat dua orang yang sangat dia kenal sedang suduk berdua menikmati beberapa hidangan di atas meja.
Haura melirik suaminya. "Itu bukannya Ezra sama Diana, Mas? Kita gabung sama mereka boleh?"
"Boleh dong," sahut Harun cepat.
Tanpa siapapun tahu hati Harun berteriak sangat senang karena rencana liciknya berjalan lancar dan disambut dengan senang hati oleh dua manusia yang membutuhkan bantuan satu sama lain.
"Serasi," celetuk Harun menarik kursi untuk istrinya duduk.
Ezra mendelik, berbeda dengan Diana yang tersenyum lebar melihat kedatangan Haura. Lama tidak bertemu membuat gadis itu merindukan ibu hamil yang tidak pernah marah meski dia melakukan kesalahan. Entah membuat gosong donat atau salah mengantarkan pesanan.
Yang Haura katakan hanya ....
"Lain kali lebih fokus lagi ya!"
"Kak Haura sudah baikan?" sapa Diana ketika melihat Harun terus saja mengenggam tangan Haura meski sudah duduk.
Haura mengangguk pelan.
"Senang banget dengarnya. Sekarang tinggal aku sama dokter Ezra biar kapan-kapan bisa double date," cengir Diana.
Ezra yang mendengarnya lantas melayangkan tatapan tidak suka. "Ingat cuma pura-pura!" Pria itu kembali mengingatkan.
"Pura-pura jadi pacar buat ...."
"Kamu mau makan apa Ra? Katanya tadi lapar." Harun buru-buru menyela agar Haura tidak tahu apa yang terjadi pada mereka bertiga.
Terlebih Haura tidak suka sesuatu yang berbau akan kebohongan.
"Makan es krim boleh? Sekali saja."
"Yang lain mau?" tanya balik Harun.
Haura mengelengkan kepalanya. "Aku tiba-tiba mau makan es krim, Mas. Tapi kalau tidak bisa kita pergi saja."
"Bisa kok asal jangan terlalu sering!" sahut Ezra cepat.
"Batuk!"
"Posesif!" Ejek Ezra. Pria itu langsung berdiri lalu berjalan menuju freezer. Mengambil satu es krim untuk Haura yang sudah dia anggap adiknya.
"Aku juga mau pak Dokter." Diana menatap Ezra penuh harap.
"Punya tangan punya kaki kan? Saya sibuk." Meninggalkan tiga manusia yang menganga melihat sikap Ezra yang berubah drastis dalam hitungan detik.
"Mau?" Tawar Haura memberikan cup Es krim pada Diana. Namun, gadis itu mengeleng dan berpamitan pada sepasang suami istri tersebut.
Jujur saja ada rasa iri di hati Diana melihat perlakuan dan cara bicara Ezra pada Haura. Dia ingin diperlakukan hal serupa tapi sepertinya sangat sulit.
"Semangat Diana, kamu pasti bisa luluhin hati dokter Ezra. Lagian dia bukan cuek apalagi dingin, sikapnya disengaja biar aku menjauh." Diana terus bermonolog sambil berjalan meninggalkan rumah sakit Edelweis.
Gadis itu naik angkutan umum sebab kendaraan di rumah dalam perbaikan setelah bannya kempes semalaman.
"Semoga aja langsung dinikahkan malam nanti," guman Diana yang tidak ingin menyerah mengambil hati dokter Ezra.
Semakin ditolak, maka semakin besar pula rasa Diana untuk memiliki. Itulah sikap yang tidak bisa hilang dalam dirinya.