Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Parat 59 ~ Tabir Pernikahan


Saling beradu tatapan satu sama lain sedang terjadi di rooftop rumah sakit. Harun menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang sulit dijabarkan setelah Diana menyentak tangannya kasar.


"Kenapa pak dokter narik-narik aku?" tanya Diana dengan nafas memburu. Tatapan tidak suka dia layangkan sebab kesal pria itu menariknya dari hadapan Ezra, tanpa tahu Harun baru saja menyelamatkan dia dari kemarahan Ezra yang sangat menyeramkan.


"Gabut," jawab Harun melangkah pergi tanpa ingin meladeni bocah ingusan yang emonya tidak stabil seperti Diana.


Namun, langkah Harun berhenti ketika teringat tujuannya ingin bertemu dengan Diana sejak kemarin.


"Kau menyukai Ezra?" tanya Harun tanpa membalik tubuhnya.


"Kenapa pak Dokter bertanya? Kalau aku suka memangnya kenapa?" tanya balik Diana tanpa ada rasa takut sedikitpun. Sakit hati karena dibentak oleh Ezra? Sungguh hatinya tidak selemah itu.


"Saya bisa membantu untuk membujuknya."


"Benarkah?" Mata Diana berbinar bahagia padahal tadi sangat kesal pada Harun. Dengan kaki kecilnya gadis itu menghampiri Harun. Tersenyum ramah seakan tidak terjadi sesuatu di antara mereka.


"Katakan apa yang kau ingingkan dari Ezra?"


"Aku mau dokter Ezra bersedia menjadi pacar puraku-puraku untuk membatalkan perjodohanku dengan om-om jelek dan keriput. Kalau dokter Ezra bersedia menjadi pacar sungguhan juga tidak masalah," cetus Diana tanpa beban.


Harun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, seulas senyum terbit di bibir pria tampan tersebut. Harun bersedekap dada.


"Saya bisa melakukannya, tapi kau juga harus membantu."


"Apapapun itu."


Tanpa abah-abah Harun lantas melempar sebuah kunci pada Diana, karena tidak sigap, kunci itu terjatuh tepat di kaki gadis tersebut.


Diana menunduk untuk mengembilnya, menatap kunci bergantian dengan Harun yang masih saja tersenyum.


"Pak dokter menyuruhku mencuri?"


"Ruko di dekat indoapril sebelah." Menunjuk Ruko yang dapat dilihat dengan jelas dari rooftop rumah sakit Edelweis. "Masuklah dan terliti apa saja yang diperlukan untuk membuat toko roti sesuai selera istriku. Lantai dua jadikan rumah yang sangat lengkap, mewah dan cukup nyaman. Apa kau bisa?"


"Bisa, tapi tepati janji Dokter!"


Harun mengulurkan tangannya tanda kerjasama telah terjalin di antara mereka. Senyuman puas terpantri di wajah masing-masing. Berbeda dengan Ezra yang kini berada di ruangannya. Pria itu sedang mengigit bibir bawahnya, menyesal karena telah membentak anak gadis orang yang mungkin saja sangat disayangi oleh ayahnya.


"Aaakkkkkkhhhhhh, ini yang aku takutkan jika menikah." Mengacak-acak rambutnya frustasi.


Namun, sampai kapan Ezra akan memilih hidup sendiri dan selalu berlindung dibalik kalimat belum siap? Sementara kedua orang tuanya sudah mengingingkan menantu dan sosok mungil di rumah mereka nantinya.


Ezra mendongak ketika pintu ruanganya berdecit, kembali menunduk setelah tahu yang masuk adalah sahabatnya.


"Kau membentak anak gadis orang sampai menangis sesegukan di rooftop, apa kau waras?" tanya Harun duduk di hadapan Ezra.


"Aku gila!"


"Sudah kuduga." Harun tersenyum mengejek. Menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil bertumpu kaki. Jari-jemarinya sedang asik menari-nari di atas meja.


Ezra mendelik, selalu saja sahabatnya datang untuk mengejek jika dia sedang suntuk.


"Puas?"


"Banget," sahut Harun tanpa dosa. "Ah ya, gimana sama perjodohan kamu?"


"Masih berlanjut, apa kau mau menggantikanku?"


"Wah-wah sepertinya kau benar-benar sudah gila kawan." Harun tergelak, bisa-bisanya Ezra menawarkan hal yang tidak masuk akal.


Hati Harun telah di penuhi oleh Haura sejak satu tahun terakhir, tidak mungkin berpindah hati begitu saja. Terlebih Haura adalah perempuan pertama yang membuat Harun tidak menganggap semua perempuan sama saja seperti bundanya yang entah sekarang ada dimana bersama prianya.


"Menikah karena perjodohan tidaklah indah, gimana kalau kamu bawa pacar pura-pura kerumah buat dikenalin? Siapa tau berhasil. Aku punya kenalan yang jago akting."


Ezra terdiam, pria itu tampak berpikir.


"Kabari aku kalau kau membutuhkannya." Harun beranjak hendak meninggalkan ruangan Ezra. Namun, langkahnya berhenti mendengar ucapan sahabatnya.


"Kirimkan kontaknya, siapa tahu aku berubah pikiran nanti."