
Setelah semua pelanggang telah pergi satu persatu, akhirnya Harun membawa Haura ke lantai dua dimana rumah yang mereka akan tinggali selama berada di ruko.
Mata wanita berbadan dua itu membulat sempurna dengan mulut terbuka melihat ruangan yang sangat indah dan unik. Sungguh semua wanita menginginkannya jika melihat.
Kamar tidur memang tidak terlalu luas, tapi ruang gantinya sangat nyaman sehingga kita ingin berlama-lama di dalam sana.
Meja membentuk sebuah donat coklat terdapat di tengah-tengah ruang ganti baju, di bawahnya terdapat laci untuk menyimpan peniti, ciput, kaos kaki hingga dasi dan dalaman untuk keduanya.
Di sisi ruangan terdapat sebuah lemari besar kehusus gamis milik Haura, di sisi kirinya terdapat pakaian khusus Harun.
Sebelah lainnya ada tas dan beberapa sapatu untuk keduanya. Sudah dapat dipastikan beberapa barang tidak akan tersentuh, terlebih Haura tipe wanita yang jika sudah nyaman pada satu barang dia akan memakainya terus menerus.
Kembali membahas rumah, dapur yang berada tepat di samping ruagan Tv sangatlah nyaman di pandang mata meski ukurannya minimalis. Mungkin Haura akan lebih betah di ruko dibandingkan rumah mereka yang sesungguhnya.
"Ini terlalu berlebihan Mas," ucap Haura akhirnya, setelah sadar bahwa dia baru saja terlena akan kekayaan milik suaminya.
"Tidak berlebihan untuk bidadari tidak bersayap sepertimu," bisik Harun memeluk Haura dari belakang yang masih saja menatap dapur. Menumpu dagunya tepat di pundak sang istri. "Bunda senang?"
Haura mengangguk. "Banget mas, ruangan ini terasa sangat nyaman meski terlalu berlebihan untuk ukuran sebuah hadiah ulang tahun."
"Nikmati saja tanpa memikirkan yang lainnya Haura. Jika aku tidak menghabiskan uangku untukmu, maka uang itu habis untuk siapa, hm?"
Haura mendelik, Harun mulai menyombongkan diri tentang kekayaanya.
"Mas sudah mendaftarkan usaha donat kamu ke beberapa aplikasi untuk dijual secara online, jadi siap-sialah sibuk Sayang. Mas tidak akan ikut campur lagi dalam usaha ini, bekerjalah sesuai kemampuanmu, pekerjakan semua orang yang kamu butuhkan." Masih memeluk Haura dari belakang.
Pria itu memejamkan matanya ketika sebuah usapan terasa di kepalanya. "Putraku beruntung mempunyai ayah seperti kamu, Mas. Semoga sikap kita berdua selalu seperti ini. Selalu terbuka jika ada kesalahan satu sama lain."
"Tentu Sayang."
"Tidurlah mas, hari ini tidak kerja kan?"
Harun mengangguk, segera melepaskan pelukannya. Pria itu berjalan ke kamar tanpa banyak meminta karena benar-benar mengantuk setelah dibuat begadang oleh Haura dan calon anak mereka.
Setiap kali akan memejamkan mata, Haura pasti membangunkan hanya untuk mendengar suara Harun hingga terlela. Sayangnya Haura sering kali terjaga diwaktu tidak tepat.
Sebenarnya Harun sedikit emosi, tapi berusaha meredamnya karena tahu Haura tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja, apalagi menyiksa dirinya hingga kurang tidur seperti sekarang.
Harun memejamkan matanya dan dengan mudah terbang ke alam mimpi. Mimpi indah dimana seakan melihat masa depan yang sangat cerah.
Masa depan setelah Haura melahirkan dan mereka memiliki putra pertama yang sangat tampan.
Namun, tiba-tiba mimpi itu berubah menjadi mencekam saat waktu seakan diputar memperlihatkan ketika Haura melahirkan.
Sontak Harun membuka matanya dengan nafas memburu. "Tidak, itu hanya mimpi. Bunga tidur tidak akan menjadi nyata," gumam Harun. Keringat dingin membasahi tubuh pria itu.
Harun buru-buru beranjak dari ranjang bertepatan Haura baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Wanita itu terkejut bukan main saat dipeluk dengan tubuh bergetar Harun.
"Mas kenapa?"
"Mas tidak apa-apa Ra, mas cuma mau memelukmu lebih lama lagi. Jangan pernah jauh-jauh dari mas, apalagi mendekati sebuah bunga," bisik Harun.
"Bunga? Kenapa tidak boleh? Bunga sangatlah indah untuk dinikmati mas."
"Tidak untuk sekarang Ra. Bunga bukan hal yang baik untukmu, mereka pembawa sial." Harun mengelengkan kepalanya.
Dalam mimpi pria itu, penyebab dia kehilangan Haura karena sebuah bunga yang entah berasal dari mana.