Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 39 ~ Tabir Pernikahan


Harun menghela nafas kasar mendengar ketukan pintu yang terus terdengar silih berganti. Dengan mata setengah terpejam, pria itu lantas turun dari ranjang lalu membuka pintu kamarnya.


"Kenapa?" tanya Harun sedikit acuh. Berbeda dengan gadis yang berdiri di depan pintu.


Gadis itu tersenyum lebar dengan pakaian cukup rapi dan dandanan sedikit menor menurut Harun yang tidak pernah melihat istrinya memakai make up, jika bukan pertemuan penting.


"Tiga hari lagi pernikahan kita kak, hari ini jadwal ke butik buat periksa gaun," ucap Vivian.


Bukannya menjawab, Harun malah meneliti penampilan Vivian dari atas sampai bawah.


"Kau sudah sehat?" tanya Harun dengan kening mengkerut.


Vivian sedikit salah tingkah mendengar pertanyaan kakaknya, gadis itu menyampirkan rambut ke belakang telinga. Memeluk lengan Harun yang tampilannya masih acak-acakan.


"Kondisiku sudah jauh lebih baik kak, hanya saja tidak berani keluar rumah kalau tidak bersama kak Harun. Kata bunda hari ini kita harus perikasa gaun biar tidak ada yang terlewatkan saat pesta nanti." Vivian mulai bergelayut manja di lengan Harun, membuat dokter saraf itu ingin berteriak dan mendorong wanita ular tersebut ke lantai dasar.


Kalau saja tidak menyiapkan kejutan untuk kedua perempuan yang telah menghancurkan rumah tangganya, mungkin Harun sudah mengusir dua ular tersebut.


"Tunggulah sebentar." Melepas tangannya sedikit kasar dari pelukan Vivian, lalu menutup pintu kamar tidak lupa menguncinya.


Hal tersebut membuat Vivian mengembungkan pipinya kesal. Gadis itu menghentakkan kakinya sambil menuruni anak tangga menuju meja makan dimana Elena berada sekarang.


Vivian menarik kursi kasar sehingga decitannya terdengar nyaring, membuat beberapa pelayan yang takut pada keduanya menoleh.


"Kenapa?" Sinis Vivian.


Pelayan tersebut lantas mengelengkan kepalanya dan kembali mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.


Sebenarnya semua pelayan tahu bagaimana sikap Elena dan Vivian pada Haura, tapi tidak ada yang berani melaporkan karena takut pada dua ular tersebut. Terlebih lagi, Haura pernah menyuruh mereka agar tuli dan buta atas perlakuan yang diberikan Vivian dan Elena.


"Kenapa wajahnya cemberut seperti itu hm? Bukannya sebentar lagi putri bunda akan menjadi nyonya Edelweis?"


"Sejak memutuskan untuk menikah, sikap kak Harun tidak lagi hangat padaku, Bunda. Dia terkesan dingin dan menghindariku." Kesal Vivian menusuk-nusuk roti selai di hadapannya.


Elena yang melihat itu hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah putrinya yang ke kanak-kanakan.


"Itu karena dia sudah menganggap kamu sebagai wanita Nak, bukan adik lagi. Lihat saja dalam hitungan hari, Harun akan mencintaimu. Terlebih kau itu sangat cantik dan jauh lebih dari segalanya dibandingkan Haura."


Tanpa sadar pembicaraan Vivian dan Elena sampai ke telinga Harun yang sedang berdiri di ambang pintu meja makan. Tangan Harun terkepal hebat, rasanya tidak terima ada seseorang yang menghina Haura.


"Bahkan kau bagai bumi jika dibandingkan dengan istriku yang seperti langit!" batin Harun.


***


Jika Harun sedang berusaha menahan emosi menghadapi dua ular licin menjelang pernikahan, maka berbeda dengan Haura yang tersenyum sangat lebar setelah berhasil menyelesaikan pesanan dan siap untuk diantarkan.


Wanita berbadan dua tersebut bolak balik kontrakan hingga pagar hanya untuk membawa semua kantong berisi dus donat maupun pisang roll yang masih hangat.


Tentu saja hangat, karena Haura membuatnya pagi-pagi sekali demi menyenangkan pelanggang.


Kening Haura mengerut ketika melihat mobil lamborgini berwarna hitam berhenti tepat di depan pagar, terlebih saat melihat pemiliknya turun.



"Di-diana?" Kaget Haura.


"Pagi kak," sapa Diana yang belum sadar akan katerkejutan Haura, biasanya gadis itu hanya membawa motor berwarna biru miliknya.


"Mobil siapa?" tanya Haura yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Diana sontak tersadar ketika melirik mobil yang dia bawa. Gadis itu meruntuki dirinya dalam hati karena tidak mampir di rumah temannya dulu.


"Oh ini mobil teman aku kak. Karena pesanan banyak, jadinya aku pinjam biar sekali berangkat," jawab Diana berbohong.


Haura mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Ongkirnya gimana? Aku tambahin ya, kan punya mobil teman kamu, terus bensinnya juga pasti mahal."


Diana mengelengkan kepalanya. "Ongkir tetap 15 rb, jadi kak Haura tidak perlu memikirkan apapaun."


Diana langsung saja mengangat beberapa kresek untuk dia susun di atas mobilnya agar muat. Salahkan dirinya karena membawa mobil yang hanya bermodalkan mewah tapi tidak berguna sama sekali.


Pergerakan gadis cantik itu berhenti ketika mobil putih berhenti tepat di depan mobilnya. Mata Diana membulat, mulutnya terganga lebar melihat pemilik mobil turun dengan jas dokter di tubuhnya.


Gila tampan banget nih orang.