Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 61 ~ Tabir Pernikahan


Hari ini adalah jadwal untuk pemeriksaan Haura di rumah sakit, tapi sejak kemarin Harun tidak menghubunginya hanya sekedar mengabari sibuk atau tidak bisa mengantar kerumah sakit. Wanita dengan pakaian Syar'i tersebut menghela nafas panjang, sudah berulang kali memperhatikan ponselnya, berharap ada pesan masuk. Namun, nihil. Suaminya bagai ditelan bumi.


"Kita pergi sendiri saja Nak, bunda sudah tidak sabar melihat kamu hari ini," gumam Haura.


Wanita itu segera mengunci pintu kontrakannya dan berjalan keluar dari pagar. Halte bus lumayan jauh, jadi Haura meninggalkan rumah lebih cepat dari biasanya agar tidak ketinggalan.


Di dalam bus, Haura terus memperhatikan jalan menuju rumah sakit, berharap kalau saja melihat pria yang membuatnya rindu setengah mati. Sayangnya, Haura terlalu malu untuk memulai komunikasi lebih dulu. Apalagi yang menolak tinggal bersama adalah dirinya.


"Dunia mas Harun tidak melulu tentang aku, pasti sekarang dia sibuk. Semoga saja bertemu di rumah sakit nanti." Haura tersenyum. Wajahnya tidak lagi pucat seperti dulu, mungkin karena makanan yang selalu dikirimkan dari rumah Harun atas resep dari dokter yaitu suaminya sendiri.


Lama berkendara dan sedikit berdesak-desakan, akhirnya Haura sampai di rumah sakit. Berjalan sesekali hanya untuk memperhatikan sekitar, terlebih saat akan melewati ruangan suaminya yang tertutup sangat rapat.


"Haura!"


Haura lantas berhenti dan membalik tubuhnya menghadap Ezra.


"Ayo aku antar ke dokter baru kamu, ah ya apa kau tahu Harun tidak masuk hari ini?"


Haura mengelengkan kepalanya, terus mengimbangi langkah lebar Ezra menuju ruangan dokter yang telah direkomendasikan Harun sebelumnya.


Apa aku bertanya saja pada Ezra tentang keberadaan mas Harun?


"Dia sakit sejak semalam, makanya nitipin kamu sama aku. Tidak perlu khawatir, dia pasti sembuh sebentar lagi."


"Sakit?" Haura terkejut. Sungguh dia sangat berdosa karena menuduh suaminya yang bukan-bukan, padahal sedang sakit tanpa ada yang merawatnya di rumah. Terlebih Haura sangat tahu, Harun adalah pria paling malas jika sedang demam.


"Jangan pikirkan dia, masuklah!" Membuka pintu ruangan dokter Obgyn setelah mengetok pintu. Pamit pada Haura sambil mengulum senyum.


Sebenarnya Harun tidak memintanya untuk menemani Haura, hanya saja Ezra bernisiatif sendiri sekalian memberitahukan kalau sahabatnya sedang demam. Padahal Harun sudah mewanti-wanti agar tidak mengatakan kondisinya pada Haura.


"Semoga kalian cepat berbaikan," gumam Ezra masuk ke ruangannya.


***


Dan di sinilah Haura berada sekarang, di depan rumah mewah berpagarkan besi setengah tembok setinggi dua meter. Haura mengepalkan tangannya sambil menatap rumah yang pernah ditinggalinya dulu.


Rumah penuh akan kenangan indah untuknya dan Harun, terlebih saat ayah mertuanya masih hidup. Saat itu, Haura merasa adalah wanita paling beruntung masuk ke keluarga Edelweis, tapi semuanya berubah setelah kematian ayah mertuanya.


"Bu Haura?"


Haura terkejut ketika satpam menyapanya, dia menganggukkan kepala sopan.


"Pak Harunnya ada?"


"Ada bu, tapi sejak kemarin sore tidak keluar rumah. Masuk aja Bu." Membuka pagar tinggi lebar-lebar.


Haura lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya, melangkah pelan dan ragu memasuki rumah.


"Tidak ada yang salah Haura, kau ingin menemui suamimu, bukan suami orang lain," gumamnya di ambang pintu.


Menguatkan hati, akhirnya Haura menginjakkan kaki di lantai marmer yang terasa dingin karena Ac. Tatapannya langsung tertuju pada kamar Harun yang sedikit terbuka.


Wanita paruh baya baru saja keluar dari kamar tersebut, membuat Haura tersenyum ramah.


"Bu Haura? Akhirnya ibu datang juga. Sejak semalam pak Harun tidak mau makan ataupun minum obat," ucap pelayan yang bersedia merawat Harun, hanya saja pria itu terus menolak dan mengatakan akan baik-baik saja.


"Makasih sudah bersedia merawatnya bi, sini biar aku yang membujuknya." Meminta nampang berisi bubur gula merah di tangan pelayan.


Setelah mendapatkan dia kembali melangkah, membuka pintu kamar secara perlahan dan mendapati suaminya tidur telentang dengan kepala mengayung ke lantai.


"Kenapa posisi tidur mas Harun seperti itu?"


"Bisa-bisanya aku bermimpi padahal tidak tidur," gumam Harun menatap wanita yang berjalan semakin dekat padanya.