Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 44 ~ Tabir Pernikahan


Setelah Elena turun dari panggung dan duduk di sebuah kursi bersama teman-temannya yang lain untuk menenangkan. Pembawa acara yang merupakan salah satu anggota Harun mulai berbicara banyak hal di atas panggung atas perintah pria yang duduk sendirian di lantai dua sambil bersedekap dada.


Pria itu adalah pengacara pribadi Harun sekaligus teman dekatnya.


"Sekarang!"


Pembawa acara lantas menganggukkan kepalanya, bertepatan dengan lampu padam dan salah satu cahaya hanya mengarah pada pembawa acara.


"Sambil menunggu mempelai pria datang, kami akan mempersembahkan sebuah pertujunkan yang mungkin bisa menghibur kalian semua," ucap sang Mc.


Pria itu mengkode rekan kerjanya sehingga layar proyektor menyala seperi sedang melakukan presentasi.


Semua mata tertuju pada layar, ruangan yang semula tenang berubah menjadi riuh melihat aksi seorang wanita yang tega membunuh suaminya sendiri tepat jam 12 malam.


Bukan hanya itu, beberapa tayangan penyiksaan Haura yang di lakukan oleh Vivian dan Elena juga di tayangkan silih berganti.


Setelah layar proyektor mati, bisik-bisik dari para undangan mulai terdengar. Mencibir wanita tidak tahu diri seperti Elena yang kini menjadi pusat perhatian di sofa singel di dudukinya.


Tangan wanita paruh baya itu mengepal hebat, amarah juga rasa malu mengusai hati Elena saat ini, terlebih ketika sorakan dan ujaran kebencian mulai terdengar di telinganya.


"Tidak, itu semua tidak benar. Aku tidak mungkin melakukkannya!" teriak Elena seperti orang gila, berjalan menjauhi semua orang yang terus melontarkan cemohan dan tudigannya.


"Wanita sepertinya tidak pantas hidup!"


"Dasar tidak tahu diri."


"Syukurlah Harun tidak jadi menikah dengan putrinya."


"Jebloskan dia kepenjara ini sudah kriminal!"


Berbagai ujaran kebencian terus saja terlontar membuat tubuh Elena bergetar hebat.


Sama halnya di dalam kamar pengantin, tubuh Vivian bergetar hebat melihat kekacauan yang telah terjadi di aula. Tangan gadis dengan gaun pengantin itu terkepal.


"Tidak! Pernikahan aku tidak boleh batal begitu saja!" Teriakan Vivian mengema di dalam kamar tersebut. Menghancurkan apa saja yang bisa dia hancurkan.


Air mata bercucuran begitu saja menghapus make up yang ada di wajahnya. Untuk pertama kalinya, dia di permalukan di depan umum seperti ini, terlebih tepat di hari dimana harusnya dia bahagia.


Sementara bundanya, berusaha berlari menuju pintu keluar, melewati bahkan menabrak beberapa orang yang telah mengabadikan momen hancurnya sebuah pesta pernikahan yang telah di rencanakan sebaik mungkin.


Langkah tergesa-gesa Elena harus berhenti ketika berbapapasan dengan dua orang polisi yang berdiri di depan pintu keluar.


"Minggir!" bentak Elena mendorong tubuh kekar dua polisi tersebut dengan tatapannya yang memerah menahan amarah.


Namun, polisi itu malah mengeluarkan surat perintah dari kantor polisi.


"Bu Elena, anda ditangkap dengan kasus pembunuhan terhadap suami sendiri, dan percobaan pembunuhan juga penyiksaan terhadap ibu Haura."


Elena mengelengkan kepalanya tidak terima, terus saja memberontak ketika tangannya di genggam oleh polisi lalu di pasangi borgol.


"Lepasin saya, kalian tidak tahu saya siapa, saya adalah nyonya Edelweis, saya bisa saja menuntut kalian atas pencemaran nama baik!" Elena terus saja memberontak layaknya orang gila.


Sanggul wanita itu yang semula rapi kini terlihat berantakan sehingga lebih tampak seperti orang gila.


"Anaknya ada di lantai 15, unit ...." Pengacara Harun menyebutkan dimana letak kamar Vivian dan berlalu pergi begitu saja sengan senyum lega diwajahnya.


Akhirnya pria itu bisa menyelesaikan rencana dengan sempurna tanpa mengacaukannya sedikitpun. Dia mengirimkan pesan pada Harun yang entah sedang apa dan ada di mana.


Semuanya sudah selesai, datanglah ke kantor polisi untuk melihatnya.


Itulah pesan yang dikirimkan sang pengacara sebelum meninggalkan gedung yang telah kacau sesuai keinginan Harun sejak awal.


Sementara Harun sendiri masih berada di kontrakan Haura, duduk di depan teras dengan jarak satu meter dengan istrinya yang kembali menunduk tanpa mengeluarkan kalimat apapun.


Untungnya Haura tidak lagi mengusirnya, bahkan membuatkan dirinya Kopi.


"Apa kita benar-benar tidak bisa memperbaikinya? Apa kamu tidak ingin memberiku ke sempatan sekali lagi Ra?"


"Entahlah Mas, sekarang aku sedang ragu."


"Demi anak kita," pinta Harun.


"Aku akan memikirkannya."