Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 81 ~ Tabir Pernikahan


"Sayang!" Suara Harun mengema setelah memasuki rumah mewah, berharap kalau saja istrinya menyambut seperti biasa, padahal dia sendiri yang menyuruh Haura agar tidak menunggunya.


Sebelah tangan Harun sedang menenteng kue pukis yang telah dingin, itu saja dia mendapatkannya susah payah. Mencari penjual sana-sini dan untungnya ada pedangan yang dagangannya belum habis sejak pagi.


Pria itu langsung membawa ke dapur di mana kebetulan pembantu rumah tangga yang entah sedang apa di sana.


"Bi, tolong panaskan kue pukisnya, saya ambil sebentar," ucap Harun meletakkan kresek di atas meja.


Mendapat anggukan kepala dari sang pelayan, akhirnya Harun bergegas ke kamar dan mendapati istrinya tertidur dengan posisi duduk.


"Ck, kebiasan banget zikir sampai ketiduran," gumam Harun mengambil tasbih digital di tangan kanan istrinya.


Merubah posisi Haura agar berbaring dengan nyaman. Ketika akan mengecup kening istrinya, tatapan Harun tidak sengaja tertuju pada majalah yang tergeletak di atas nakas.


"Gamis? Kok cuma ditandain tanpa pesan?" gumamnya.


Pria itu menyingkirkan majalah dan meletakkan segelas air untuk berjaga-jaga kalau saja Haura haus tengah malam.


Sebelum ikut terlelap dan mengabaikan kue pukis yang dia dapatkan susah payah, Harun lebih dulu membersihkan dirinya di kamar mandi.


Berbeda di belahan dunia lainnya, dimana seorang pria lagi-lagi tidak bisa tidur karena seorang gadis yang sikapnya cuek hari ini.


"Apa aku salah? Aku hanya tidak ingin menyakiti siapapun," gumam Ezra menatap langit malam yang indah karena ditaburi banyak bintang.


"Acha, apa aku salah jika merindukanmu dan mengharapkanmu kembali? Aku tidak mau membagi cintaku pada siapapun karena aku hanya milikmu."


Senyuman Ezra mengembang ketika bayangan Acha tersenyum terlintas di otaknya. Namun, berbeda dengan pelupuk mata yang terus saja mengeluarkan bulir-bulir bening tanpa diminta.


"Aku menemukan gadis yang sangat mirip denganmu. Selain tidak ingin membagi cinta dan mengingkari janji untuk saling mencintai sehidup semati, aku juga tidak ingin mencintai karena dia mirip denganmu, aku tidak mau menyakiti hati siapapun karena kamu tidak akan suka."


Ezra perlahan-lahan membuka matanya ketika bayangan Acha tergantikan dengan senyum kekecewaan yang terpancar di wajah Diana.


Pria itu menghela nafas panjang, merasakan dinginnya angin malam, Ezra segera masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya telentang. Begitupun seorang gadis di tempat yang berbeda. Membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah membersihkan tubuhnya.


Gadis itu adalah Diana, menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan oleh apapun.


Diana jadi teringat saat diantar pulang oleh Ezra dengan paksaan, dimana pria itu hampir saja menyeretnya kalau saja tidak ikut masuk ke mobil.


"Berhentilah bersikap seolah-olah kamu mencintaiku Pak! Kau melarangku untuk jatuh cinta, maka bersikaplah layaknya pria brengsek agar aku tidak jatuh cinta padamu! Jangan datang kerumahku untuk meminang karena aku akan menerima perjodohan orang tua ku!"


Itulah kalimat yang sempat Diana lontarkan pada Ezra sebelum berpisah. Namun, repon Ezra sangatlah menyebalkan.


"Terserah saya!"


"Aaaakkkkhhhhhh!" Diana mengacak-acak rambutnya frustasi. Ada rasa sesal karena meneriaki Ezra tanpa memikirkan perasaan pria tersebut.


"Harusnya aku tidak pernah bertemu dengannya, tidak mengharapkan bantuan apapun dan mengikuti ide gila dikepala berujung jatuh cinta. Harusnya aku tidak bertemu kak Haura," lirih Diana yang kian menyesali semua pertemuan yang dia alami bersama Ezra selema beberapa hari terakhir.


"Aku akan berubah tapi bukan untuknya!"


Diana merubah posisinya menghadap ke sisi kiri, berbarengan Ezra merubah posisinya menghadap kanan di tempat lain sehingga keduanya seakan-akan tidur saling berhadapan dengan pikiran yang hampir sama.


Menikah tanpa cinta.


Entah apa yang akan terjadi pada kisah cinta keduanya yang sudah diatur sejak awal oleh orang tua. Keduanya hanya menyia-nyiakan waktu saja untuk membatalkan pernikahan.


"Aku harus melupakan Dokter Ezra, aku berhak mendapatkan pria yang mencintaiku," gumam Diana.


"Aku akan datang melemarnya besok," guman Ezra sebelum memejamkan mata.