
Harun, pria itu sengaja bangun lebih awal hanya untuk menyambut pagi putranya. Memandikan hingga mengganti baju juga yang lainnya.
Baru jam 7 pagi, tapi aroma minyak telon telah menguar di dalam ruang perawatan Haura. Azzam telah tampan berada di gendongan ayahnya.
"Putra ayah sudah wangi, tampan dan siap ketemu bunda. Iya kan Sayang?" Mengecup pipi Azzam berulang kali.
Bayi yang berada di gendongan Harun mengeliat seakan merespon ucapan ayahnya.
"Tunggu sebentar ya Sayang, ayah bangunin bunda dulu." Kembali meletakkan Azzam pada box bayi, lalu menghampiri Haura yang masih saja menutup matanya.
Dia menunduk dan menempelkan bibirnya tepat di kening sang istri, berbisik sesuatu di telinga yang terbalut hijab tersebut.
"Humairah, bangunlah sudah jam 7 pagi," bisik Harun.
Haura lantas mengerjapkan matanya perlahan, bukan karena bisikan Harun yang membangungkannya, melainkan kecupan yang terasa dingin dari Harun. Wanita itu tersenyum.
"Mana putra kita? Aku tidak sempat melihatnya semalam, Mas. Aku terlalu lelah," lirih Haura yang kondisinya jauh lebih baik meski selang oksigen masih berada di hidungnya.
Namun, jari-jarinya sudah bisa digerakkan dengan normal. Setelah memastikan kondisi Haura tidak memerlukan perawatan khusus dari dokter Edgar, Harun mengambil alih perawatan istrinya. Tentu saja dengan mengambil berkas-berkas hasil pemeriksaan dari dokter Edgar yang menangani pertama kali.
"Putra kita sudah tampan dan wangi, tunggu mas ambil dulu." Berjalan menuju box, mengendong putranya lalu membaringkan di samping Haura.
"Mirip kamu, Mas."
"Tentu saja, mas kan ayahnya, Sayang." Harun dan Haura tertawa ketika tatapan mereka tidak sengaja bertemu.
Pancaran mata keduanya tidak bisa berbohong bahwa sekarang mereka sedang behagia dan menikmati cobaan dari yang Kuasa. Mengeluh? Itu bukan keahlian Haura.
Bukannya mengeluh, Haura banyak merenungi sesuatu yang mungkin saja dia kerjakan salah di masa lalu. Termasuk durhakan pada suaminya.
"Sore nanti selang oksigennya sudah bisa dilepas. Sabar ya, Sayang. Tidak ada cedera serius di tubuh kamu, sempat kritis karena kehilangan banyak darah."
Haura mengangguk, masih menatap suaminya dalam diam. Bolehkan Haura menganggap dirinya sangat beruntung memiliki suami seperti Harun? Suami yang sangat menyanginya melebih dari tubuhnya sendiri.
"Kemana?" tanya Haura dengan suara lirihnya.
"Jawab telpon dulu, Ra." Sebelum keluar dari ruang rawat, tidak lupa Harun membawa Azzam bersama agar lebih aman.
Menitipkan Haura pada suster yang memang sudah ada sejak pagi di dalam ruangan layaknya rumah tersebut.
"Iya pak? Bagaimana?" tanya Harun setelah menjawab panggilan dari polisi yang menangani kasus istrinya.
"Pelaku sudah kami temukan Pak, persidangan akan berlangsung beberapa hari lagi. Mungkin prosesnya tidak akan lama karena semua bukti tertuju padanya."
"Syukurlah." Harun menghela nafas panjang, akhirnya Haura sebentar lagi akan mendapatkan keadilan.
Ternyata memang benar, Tuan tidak pernah tidur. Tuhan tahu kapan akan membalas orang-orang yang telah menyakiti hambanya yang setia.
Karena ingin bertemu dengan orang yang telah menabrak istrinya. Harun menitipkan Azzam pada Ezra. Sebelum pergi tentu saja berpamitan pada istrinya tanpa memberitahukan akan kemana.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Harun untuk sampai di ke kantor polisi karena memang jaraknya yang tidak jauh dari rumah sakit. Dengan langkah lebarnya, pria itu memasuki kantor polisi.
Tatapannya tertuju pada pria dengan seragam tahanan, tangan pria itu telah di borgol hingga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa dia yang telah manabrak istri saya lalu kabur?" Menunjuk pria yang menunduk dengan ekor matanya.
"Benar pak, dia adalah ....",
Bugh
Harun melayangkan kepalan tangannya tepat di wajah pria itu. Hendak melakukannya sekali lagi, tapi ditahan oleh polisi.
"Bahkan membunuhmu tidak bisa mengantikan penderitaan putra dan istri saya!" ucap Harun penuh tekanan. "Untung saja kau ditemukan oleh polisi, bukan orang suruhan Saya." Harun senyum sinis.
Selain mengerahkan polisi, Harun juga menyewa preman untuk mencari pria yang telah menabrak istrinya. Namun, bukan untuk di serahkan ke kantor polisi, melainkan main hakim sendiri hingga benar-benar puas.