
Haura, wanita itu duduk lesehan beralaskan karpen, bersandar pada dinding sambil menselonjorkan kakinya yang terasa sangat pegal setelah bekerja seharian tanpa henti.
Wanita itu mengatur nafasnya yang tidak stabil, mengusap peluh yang terus bercucuran tanpa diminta. Memejamkan mata sejanak sebelum akhirnya kembali membuka ketika mengingat janji pada seseorang.
Haura melirik jam dinding yang menunjukkan angka 8 lewat 45 menit. Wanita itu menepuk keningnya karena hampir lupa dengan janji bersama Ezra.
"Astaghfirullah, pasti Ezra sudah lama menungguku." Haura buru-buru bangun meski lututnya masih saja bergetar entah karena apa.
Dia berjalan perlahan keluar dari kontrakannya menuju pagar. Langkah pelan Haura berhenti sejenak ketika dari kejauhan melihat punggung seorang pria yang berdiri di samping mobilnya.
Wanita itu seperti engang untuk melanjutkan langkahnya, dadanya terasa sesak mengetahui di depan pagar bukan Ezra yang menunggu, melainkan Harun, pria yang sebentar lagi akan menikah padahal dirinya sedang hamil.
Tidak terasa air mata Haura lagi-lagi berjatuhan tanpa diminta. Dia kembali mengingkari janji untuk tidak menangis. Rasanya terlalu sakit mengingat saat Harun memberitahunya akan menikah lagi, memintanya untuk menerima dimadu dengan lapang dada.
Ini bukan salah siapapun, ini salahku karena terlalu berharap pada manusia. Salahku sebab tidak memberitahukan mas Harun tentang kehamilanku.
Haura membalik tubuhnya, urung untuk menemui Harun yang sejak setengah 8 sudah berdiri di depan pagar bersama nyamuk yang hampir menghabisi darahnya.
Langkah wanita itu berhenti ketika notifisi bersamaan dengan suara Harun terdengar.
"Haura," panggil Harun sedikit berteriak.
Haura tidak kunjung membalik tubuhnya, wanita itu sedang membaca pesan yang dikirimkan oleh Ezra.
Maaf karena membohongimu, temuilah Harun meski sebentar saja. Aku tahu kau merindukannya, entah hatimu sendiri atau anak yang berada di kandunganmu.
"Haura, beri aku waktu sebentar saja!" pinta Harun berlari mendekati Haura meski keduanya terlarang pagar besi.
"Apa kamu bisa keluar, hanya 10 menit," pinta Harun memegang besi pagar.
"Mas kangen sama kamu Ra, maaf karena selama ini mas tidak pernah mempercayai semua yang kamu katakan. Percaya dengan apa yang mas lihat tanpa ingin berusaha untuk menyelidiki. Maaf ...."
Tanpa mengatakan apapun, Haura berusaha mendorong tubuh kekar Harun yang terasa hangat agar menjauh darinya. Menundukkan kepala tidak ingin menatap manik tajam yang telah berembun itu.
"Mas Harun meminta maaf untuk apa?" tanyanya masih menunduk.
Hati Harun terasa nyeri melihat sikap Haura yang sudah menganggapnya orang asing. Dulu, sebelum mengatakan akan menikah, Haura masih berani menatap wajahnya, tersenyum meski selalu mendapatkan kalimat-kalimat pedas dari mulutnya.
"Haura, mas minta maaf karena tidak mempercayaimu selama ini. Ternyata mas telah dikelabui oleh bunda Elena dan Vivian, harusnya sejak awal mas hanya mempercayaimu." Harun melangkah mendekat membuat Haura semakin mundur.
"Tetaplah di sana mas, aku tidak nyaman berada di sekitarmu. Jangan sentuh aku!" Cegah Haura.
"Tapi aku masih suamimu."
Haura mengelengkan kepalanya. "Tidak ada yang tahu kalau mas Harun adalah suamiku di gang ini, aku tidak mau para tetangga salah pahan. Tolong, jika bertemu aku di suatu tempat, jangan memeluk apalagi menyentuhku!"
"Haura, apa kau sangat membenciku?"
Haura mengelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah membenci mas Harun, aku juga sudah memaafkan mas, jauh sebelum mas Harun meminta maaf. Aku bersyukur kalau Mas sudah mengetahui semuanya, hanya saja tidak ada yang perlu di sesali, karena penyesalan tidak bisa mengembalilan ucapan yang telah terlontar dari mulut seseorang. Luka tidak akan sembuh dan menghilang begitu saja dengan kata maaf."
Air mata Harun terus saja berjatuhan mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Haura. Terlebih saat pria itu tidak sengaja melihat tetesan bening berjatuhan di manik indah istrinya.
Dadanya semakin sesak, rasanya untuk bernafas saja sangat sulit setiap kali mengingat perkataan dan perlakuannya pada Haura.
"Kenapa kamu tidak mengatakan bahwa sedang hamil?"
"Waktu mas Harun sudah habis." Tanpa menjawab pertanyaan Harun, Haura lantas membalik tubuhnya lalu menutup pagar kontrakan. Meninggalkan Harun dengan segala luka yang bersemayang di hati masing-masing.