Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 26 ~ Tabir Pernikahan


Haura, wanita itu tertidur di atas sajadah karena lelah menangis dan mengadu pada sang pencipta tentang rasa sakit yang dia alami hari ini.


Tempat paling tenang untuk Haura adalah berada di atas sajadah sambil menegadahkan tangan meminta pertolongan maupun pentunjuk pada sang kuasa tentang semua derita yang kita alami. Tidak ada pendengar yang baik selain Allah.


Wanita itu mengerjapkan matanya ketika deringan ponsel terdengar. Perlahan-lahan Haura bangun dan meraih ponselnya di dalam tas, kepalanya terasa pening, mungkin karena terlalu lama menangis.


Setelah mengeser ikon hijau, Haura menempelkan benda pipih tersebut di telinganya. Sebelum bicara tidak lupa Haura mengucapkan salam lebih dulu.


"Dengan siapa?" tanyanya karena panggilan tersebut dari nomor baru.


"Ezra."


"Kenapa?"


"Jangan lupa jadwal periksa kamu selanjutnya tiga hari lagi, jangan telat!"


"Iya aku tahu, kalau tidak ada yang penting aku matikan telponnya." Baru saja Haura akan memutus panggilan, Ezra mencegah dengan sedikit teriakan.


"Tunggu dulu! Kamu sudah tahu Harun akan menikah? Apa kamu tidak ingin menjelaskannya sekali lagi? Aku akan membantu ...."


"Terimakasih sudah peduli, tapi ini urusan rumah tanggaku. Assalamualaiku." Memutuskan sambungan telpon sepihak lalu beranjak dari duduknya.


Membereskan sajadah juga mukena yang dia kenakan. Sekarang jarum jam sudah menunjukkan angka 7 malam, ternyata wanita itu tertidur kurang lebih satu jam.


Matanya terlihat bengkak, suaranya terdengar parau efek menangisi Harun. Tidak menyangka saja rumah tangannya benar-benar akan berakhir sebentar lagi.


Wanita itu membuka pintu kontrakannya dan menatap langit indah yang dihiasi bintang juga bulan yang bersinar terang. Dia tersenyum sambil mengusap perutnya.


"Maafin Haura, Yah. Haura tidak bisa menjaga rumah tangga dengan mas Harun agar tetap utuh. Maafin Haura karena menyakiti putra ayah satu-satunya. Maaf karena Haura egois memetingkan diri sendiri dibandingkan harus menerima kenyataan untuk dimadu."


"Neng Haura." Haura lantas mengalihkan perhatiannya dari bulan, menatap pemilik kontrakan yang sedang menenteng kresek entah apa isinya.


"Ibu boleh bicara? Tapi di dalam saja ya, takut ada yang dengar dan salah paham."


Haura mengangguk patuh, mempersilahkan pemilik kontrakan masuk dan duduk lesehatan di atas karpet tipis. Rumah minimalis tersebut terlihat sangat rapi dari sebelumnya.


Ibu kontrakan meletakkan kresek di sisi tubuhnya lalu meraih tangan Haura yang terlipat di atas paha. Menepuk-nepuknya dengan wajah serius.


"Tadi beberapa tetangga datang kerumah ibu dan menyuruh ibu mengusir kamu Nak. Katanya kamu hamil diluar nikah, dan mencemari lingkungan kami."


Haura tercengang mendengar penuturan ibu kontrakan. Cobaan apa lagi yang menghampiri wanita itu? Apa tidak cukup dengan suaminya akan menikah.


Tunggu, siapa yang memberitahu tentang kehamilannya pada orang-orang sehingga tengah menfitnah dirinya?


"Demi kebaikan bersama, kamu bisakan pergi dari sini Nak? Ibu akan mengembalikan separuh uang kamu."


Haura mengelengkan kepalanya, wanita itu beralih mengenggam tangan ibu kontrakan yang sejak tadi hanya menepuk-nepuk.


"Tolong jangan usir saya bu, saya tidak tahu harus tinggal dimana setelah pergi dari sini. Saya memang hamil, tapi bukan diluar nikah. Saya mempunyai suami hanya saja sebentar lagi akan berpisah." Mata sembab Haura kembali berembun, memohon agar ibu kontrakan mengerti dirinya sekali saja.


"Saya bukan wanita yang seperti kalian pikirkan. Kalau ibu tidak percaya, saya bisa memperlihatkan akta nikah." Haura bangkit dari duduknya untuk mencari surat nikahnya yang dikirimkan Harun beberapa hari yang lalu.


Setelah mendapatkan, dia menyerahkan pada pemilik kontrakan. "Saya tidak hamil diluar nikah, saya juga bukan pembawa sial. Jadi tolong jangan usir saya."


Ibu kontrakan tersebut menarik tangannya dari genggaman Haura, memeriksa surat nikah wanita itu dengan teliti, setelahnya menatap Haura kembali.


Senyuman di bibir wanita paruh baya itu mengembang, bergerak untuk menghapus air mata di pipi Haura. "Maafin ibu karena termakan omongan tetangga ya. Ibu boleh foto ini buat bungkam mulut mereka?"


Haura mengangguk cepat. "Makasih Bu, sudah mau percaya sama saya. Saya janji tidak akan mengecewakan kepercayaan ibu."


"Sama-sama Nak. Sehat-sehat ya, janinnya di jaga baik-baik, kalau ada apa-apa panggil ibu di depan."