
Ezra, pria itu menghela nafas kasar setelah memutuskan sambungan telpon dengan sahabatnya. Membicarakan banyak hal dengan Harun yang merupakan teman seperjuangan sejak duduk di bangku SMA membuat pikirannya sendikit terbuka tentang perjodohan yang ingin dilakukan oleh orang tuanya.
Usia 30 tahun tapi belum menikah juga tidak pernah membawa perempuan kerumah, wajar jika orang tuanya bersikap demikian.
"Bisa-bisanya satu perempuanpun tidak bisa memikat hatiku setelah dia pergi," gumam Ezra mengusap wajahnya kasar.
Bukan mudah melupakan seseorang yang pernah mengisi hari-hari kita, terlebih orang itu pergi tepat di pangkuan Ezra saat menikmati senja di pinggir danau yang sangat indah.
Lamunan Ezra yang hampir melayang ke masa lalunya harus buyar ketika suara ketukan pintu terdengar. Pria itu memutar lehernya menatap pintu.
"Masuk!"
Pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya yang sangat mirip dengan Ezra. Duduk di sisi ranjang sambil mengelus pundak pria itu lembut.
"Kenapa tidak ingin makan malam, Nak? Kamu marah sama bunda karena membuat keputusan tanpa memberitahumu?" tanya wanita paruh baya tersebut.
Ezra mengelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak, bagaimana mungkin aku marah pada wanita cantik seperti Bunda." Menyandarkan kepalanya dipundak bundanya. "Ezra hanya bingung harus menyikapi perjodohan tersebut, Bunda. Ezra belum ingin menikah, Ezra masih ...."
"Meski tidak menikah seumur hidupmu, dia tidak akan kembali Nak!"
"Bunda?" Menatap bundanya tidak percaya. Selama bertahun-tahun Ezra sama sekali tidak pernah menceritakan perempuan yang dia sukai pada siapapun, bahkan Harun. Tapi kenapa bundanya tahu?
"Tadi bunda bersih-bersih di kamar kamu dan tidak sengaja melihat foto seorang gadis yang sangat cantik, juga buku diary kamu pas masih sekolah."
Ezra menghela nafas panjang, kembali bersandar di pundak bundanya.
"Ezra tidak ingin menikahi siapapun untuk sekarang Bunda. Ezra tidak ingin menyakiti hati istri Ezra nantinya karena tidak bisa keluar dari bayangan masa lalu."
"Anak bunda memang calon suami idaman." Wanita paruh baya itu tertawa geli. "Jangan lupa makan malam. Sama jangan lupa beritahu bunda kalau kamu sudah siap untuk bertemu dengan calon istrimu."
Wanita dengan gamis panjang disertai hijab tersebut segera bangkit dari duduknya setelah berbicara dengan putranya.
Ezra hanya mengangguk, pikirannya kembali menerawang jauh ke masa lalu. Sebenarnya satu tahun terakhir Ezra sudah mampu keluar dari kenangan indahnya bersama sang pacar, tapi ingatan itu kembali lagi saat bertemu dengan gadis yang tingkahnya sangat mirip.
Dia adalah Diana. Dari cara bicara hingga penampilan mengingatkan Ezra akan kekasihnya yang telah pergi dan itu membuat Ezra sangat kesal.
Ezra tidak ingin mendekati Diana hanya karena mirip, itu cuma akan membuat Diana akan sakit hati nantinya.
***
Pagi yang cerah, secerah wajah seorang pria yang sedang menatap dirinya pada pantulan cermin. Kemeja hitam dengan celana yang senada tengah membalut tubuh kekarnya.
Pria itu tidak lain adalah Harun, yang bersiap-siap menjemput istrinya untuk ke suatu tempat.
"Pasti Haura akan memakai warna yang senada," gumam Harun mengulum senyumnya.
Alasan memakai serba hitam tidak lain hanya ingin couple dengan istrinya.
Sebelum meninggalkan kamar, Harun tidak lupa mengambil sebuah kotak kecil di atas meja rias Haura lalu memasukkan di saku celananya.
Rumah besar yang dihuni sendiri tentu saja akan terasa sunyi, hal itu membuat Harun sebenarnya tidak ingin pulang.
"Pak sarapan dulu!"
"Saya masih kenyang!" sahut Harun, menyia-nyiakan makanan yang telah tersaji di atas meja makan.
Jarum jam baru menunjukkan angka tujuh pagi, tapi pria itu sudah berangkat. Sungguh pengangguran kaya raya.
***
Jika Harun tengah bersiap-siap untuk bertemu dengan istrinya, maka berbeda dengan Haura yang tampak sibuk membersihkan rumah sebab masih pagi-pagi.
Menyapu, mencuci piring tentu saja dia melakukannya sendiri meski tangannya terasa perih karena luka ditangannya lumayan banyak. Bahkan kulitnya terkelupas sedikit demi sedikit.
Mendengar suara ketukan pintu membuat Haura menghentikan cucian piringnya, mengusap hijab sebelum membuka pintu.
Dia tertegung melihat siapa yang datang pagi-pagi seperti ini ke kontrakannya.
"Ma-mas Harun? Ak-aku ...."
"Cantik banget," puji Harun, mengulurkan tanganya untuk menghilangkan busa di hijab Haura.