Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 89 ~ Tabir Pernikahan


Ezra, pria itu dengan setia berdiri di seberang meja kasir hanya untuk menunggu beberapa pengunjung menyelesaikan pembayaran setelah pesanan mereka jadi.


Salah satu alasan Ezra berkunjung bukan hanya untuk membelikan bundanya Donat, melainkan bertanya tentang kebenaran apakah Diana benar-benar akan menikah dengan pria lain.


Kabar tersebut tentu pria itu tahu dari sahabatnya Harun. Ezra tentu terkejut mendengarnya, terlebih Diana seakan memilih menjauh tidak seperti dulu lagi.


Setelah memastikan tidak ada pengunjung lain, Ezra menegakkan tubuhnya.


"Pesanannya belum selesai, sebaiknya pak Dokter duduk dulu!" perintah Diana.


"Saya mau membayarnya lebih dulu." Menyerahkan kartu pada Diana tapi tatapannya tertuju pada gadis itu, bukan pada kartu.


"Maaf pak, pembayaran dilakukan setelah pesanan selesai."


"Diana!"


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Diana tanpa ingin menatap Ezra.


"Katanya kamu akan menikah dalam waktu dekat. Siapa pria itu? Apa dia lebih baik dari saya? Apa kalian saling mencintai?" tanya Ezra akhirnya tanpa ada basa-basi.


"Sepertinya pembicaraan kita terlalu jauh pak. Jika tidak ada yang perlu di ...."


"Jawab pertanyaan saya Diana!" desak Ezra dengan tangan terkepal. Pria itu tidak mencintai Diana, tapi mendengarnya akan menikah sungguh membuat Ezra sedikit terusik.


"Saya akan menikah dengan pria yang jauh lebih baik dari pak dokter. Lagi pula urusannya dengan bapak apa? Kita dulunya juga hanya pacar pura-pura dan dijodohkan satu sama lain."


"Diana, saya tahu kalau saya bukanlah ...."


"Kak Haura!" Diana buru-buru memotong ucapan Ezra. Pergi dari meja kasir dan menghampiri Haura yang baru saja dari dapur.


"Kenapa, Di?"


"Aku harus pulang sekarang, maaf karena meninggalkan kakak sendirian. Aku juga mungkin tidak akan berkujung untuk beberapa hari soalnya sibuk mempersiapkan pernikahan," ucap Diana menghiraukan keberadaan Ezra.


"Iya tidak apa-apa, semoga acara pernikahannya lancar." Menepuk pundak Diana dengan senyuman.


"Tunggu sebentar ya, aku selesaikan pesanan kamu," ucapnya mengambil alih urusan kasir.


Ezra mengangguk, menyerahkan kartunya kembali. "Aku ada urusan penting Ra, selesaikan pembayaran sekarang saja dan kirimkan donatnya ke rumah!"


"Baiklah." Dengan sigap Haura mengambil kartu Ezra, lalu mengembalikannya setelah menyelesaikan pembayaran.


Sebenarnya sejak tadi Haura melihat dan mendengar apa yanh dibicarakan Ezra dan Diana. Namun, dia tidak ingin mencampuri urusan hati seseorang. Apalagi keduanya adalah teman baik Haura. Membantu Ezra mendapatkan Diana tidak ada salahnya untuk Haura. Tapi membantu Diana mendapatkan kebahagiannya juga tidak salah.


"Mungkin berada di tengah-tengah akan lebih baik," gumam Haura setelah Ezra menghilang dari hadapannya.


Merasa pengunjung mulai sepi dan matahari memancarakan cahayanya semakin panas. Haura bergegas untuk pergi dan menitipkan toko pada satu karyawan yang bertugas meleyani pembeli juga seseorang yang bertugas membuat donat sesuai resep yang diberikan oleh Haura.


Wanita perut buncit tersebut meninggalkan toko hanya menggunakan angkutan umum. Selain menghemat uang juga dapat bertemu banyak orang. Pergi menggunakan sopir pribadi atau taksi otomatis hanya mereka berdualah yang ada di dalamnya dan Haura tidak nyaman berada di dekat pria selain suaminya.


Ketika bus yang dia tumpangi melintasi kawasan rumah sakit, Haura segera mengirimkan pesan pada suaminya.


Mas aku sudah pergi, tidak lama kok. Kalau lapar dan ada waktu sengang pulanglah ke toko! Aku sudah membuatkan makan siang.


Usai mengirim pesan, Haura menyandarkan tubuhnya pada jok bus sambil menikmati perjalanan dengan tangan yang terus berada di perutnya. Meski usia kandungan telah memasuki bulan ke 9, Haura tidak punya hambatan untuk pergi kemana saja.


Merasa lelah atau tubuhnya beratpun wanita itu tidak merasakannya sama sekali. Mungkin karena putranya sangatlah pintar menjaga bundanya.


Ketika mata Haura hampir terpejam, seorang anak kecil berusia 7 tahun datang mendekat dan memberikan setangkai bunga mawar merah.


"Bunga buat kakak." Gadis kecil itu memberikan bungan dengan senyuman mengemaskan.


Meski ragu dan teringat akan pesan dari sang suami, Haura tetap saja mengambilnya karena tidak enak untuk menolak.


"Makasih, bunganya cantik kayak kamu."


"Sama-sama kakak, do'ain aku biar bisa ketemu mama ya."