
Harun, pria itu mendengus kesal ketika ponsel di tangannya tiba-tiba direbut paksa oleh pemiliknya. Dia menatap tajam Ezra tanpa rasa terimakasih karena dipinjamkan ponsel.
"Kalau pinjam tuh jangan lama-lama, mana pakai sayang-sayangan pula!" gerutu Ezra yang telinganya hampir pecah mendengar pembicaraan Harun dan Haura di seberang telpon.
Bahkan pria itu ingin mengampar wajah Harun yang terus saja tersenyum setelah membuatnya menderita selama beberapa jam. Dipaksa ikut ke ruko untuk memindahkan beberapa barang.
"Aku harus pulang!" Beranjak dari duduknya.
Harun sebenarnya berbohong pada Haura tentang keberadaanya. Pria itu sebenarnya ada di ruko untuk memantau perkembangan renovasi yang hampir selesai. Di sana ada Ezra juga Diana yang meneliti lantai dua, kamar untuk Haura dan Harun nantinya.
Mungkin gila adalah sebutan yang pas untuk Harun. Rela meninggalkan rumah mewah untuk tinggal di ruangan yang tidak seberapa demi istri tercinta.
"Menurutku ini terlalu alay!" Ezra menunjuk sebuah meja makan yang membentuk donat.
"Bagus tahu!" sahut Diana. Gadis itu sedang menjelaskan beberapa ide pada desain interior yang disewa oleh Harun.
"Kayak anak-anak."
Diana lantas memicingkan matanya, sejak tadi Ezra seakan menentangnya untuk membuat keributan di ruko. Sebenarnya Diana tidak tahu kalau Ezra ada di sini. Gadis itu datang atas permintaan Harun saja.
"Kira-kira ini bisa selesai minggu depan tidak?" tanya Harun yang bersiap untuk pergi.
"Bisa pak, lantai satu sudah selesai. Dan rumahnya sisa dapur saja."
"Kalau begitu semangat, saya pergi dulu."
Harun menunduk untuk mengambil jas dokter juga ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tanpa pria itu sadar Diana juga tengah bersiap-siap untuk pergi.
"Ayo pak Dokter!" Diana tersenyum lebar pada Harun dan menghiraukan Ezra begitu saja.
"Mau kemana?" tanya Harun.
"Ikut pulang, aku tadi naik taksi. Tapi karena sekarang sudah tengah malam, pak Harun bisa dong nganter aku pulang."
"Tidak bisa, minta tolong sama Ezra saja! Diakan calon suami kamu." Terus berjalan menuruni anak tangga.
"Bukan, dia bukan calon suami aku pak. Aku sudah dijodohkan sama om-om jelek yang mungkin hatinya baik." Mengimbangi langkah Harun, meninggalkan Ezra dan desain interior yang mengekor layaknya anak kecil.
"Plis Pak!" Diana mulai memohon.
"Sama saya saja!" Tanpa meminta izin, Ezra menarik tangan Diana menuju mobilnya. Dicuekin sejak siang membuat Ezra selalu menganggu Diana untuk mencari perdebatan tapi sayangnya gadis itu tidak terpengaruh.
"Lepasin, apansih main tarik saja!"
"Jangan kayak anak-anak, tengah malam bahaya sama ...."
"Apa peduli pak dokter? Aku bisa pulang sendiri! Aku perempuan mandiri yang bisa melakukan semuanya sendiri tanpa pria manapun!"
"Kamu kenapa sih?"
"Aku kenapa?" Menatap tajam Ezra untuk pertama kalinya.
Kalian harus tahu setelah Ezra mengatakan akan menikah tanpa adanya kontrak, Ezra malah mengajukan persyaratan pada Diana.
"Selama pernikahan, tolong jangan pernah mencintai saya sebelum saya memintanya sendiri."
"Kita sepakat buat nikah dalam waktu dekat, Diana. Orang tua saya dan orang tua kamu sudah setuju!"
"Bisa dibatalkan, soalnya aku tidak bisa jamin untuk tidak jatuh cinta pada pak dokter. Aku sadar kok, aku bukan tipe pak Dokter. Dokter Ezra suka sama perempuan kayak kak Haura dan selamanya aku tidak akan bisa seperti itu!" Menyentak tangan Ezra lalu menyetop taksi yang kebetulan lewat, naik begitu saja padahal Ezra berusaha mencegah.
Pria itu mengacak-acak rambutnya setelah kepergian Diana. "Bahkan sikap dan cara marah Diana sama persisis, lalu kapan aku bisa melupakanmu?" Mendongak menatap langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang terlihat sangat indah.
"Aku tidak pernah melihat dia sebagai Diana, tapi kekasihku. Lalu apa yang terjadi kalau dia tahu yang sebenarnya? Menjadi pengganti? Sungguh lucu. Aku egois." Ezra tertawa hambar tanpa sadar sejak tadi Harun memperhatikan dari dalam mobil.
"Ezra belum bisa melupakan Acha? Tidak mungkin, 14 tahun bukanlah waktu yang singkat jika ingin melupakan seseorang yang telah tiada," gumam Harun tidak ingin percaya.
Seketika pria itu sadar kalau Diana memang mirip seseorang. Mirip Acha, kekasih Ezra yang mempunyai penyakit kanker otak.
Berjanji untuk menikah tapi nyatanya pergi lebih dulu menyisakan luka di hati Ezra. Selama ini Harun mengira Ezra telah melupakan Acha.
"Kayaknya Diana harus mundur, gadis itu terlalu sulit untuk mengapai hati Ezra."