
Harun, pria itu berdiri menghadap cermin sambil merapikan kemeja maron yang dia kenakan. Tangan kanannya telah diperban semalam sebelum tidur dengan perasaan kacau.
Hari ini pria itu berniat akan memgunjungi makam ayahnya untuk meminta izin dan memberitahukan bahwa dia akan menikahi Vivian. Menceraikan Haura? Entahlah, samarah dan sekesal apapun Harun, rasanya dia tidak benar-benar rela jika ditinggalkan oleh istrinya.
Dia menikah dengan Vivian hanya untuk menyelamatkan mental adiknya yang sampai sekarang masih mengurung diri di kamar. Harun sudah membujuk agar pergi kerumah sakit dan memeriksakan pada dokter psikolog, tapi Vivian menolak dan terus berteriak histeris.
Setelah rapi dengan kemeja maron dipadakuan celana kain berwarna hitam, pria itu lantas keluar kamar. Rumah tampak sepi, entah kemana bunda Elena jam 8 pagi seperti ini. Harun juga tidak ikut sarapan tadi.
Sambil berjalan, Harun merapikan kancing di lengan kemejanya, sehingga tidak sadar telah sampai di ambang pintu. Kening pria itu mengernyit melihat palayan tengah menerima paket dari kurir.
Harun menghampiri pelayan tersebut dengan sebelah tangan berada di saku celana. "Untuk siapa?" tanyanya dengan alis terangkat. Pria itu seakan tidak asing dengan dusnya.
"Buat pak Harun, dari Neng Haura katanya." Menyerahkan dus berukurang sedang.
Harun lantas saja menemerinya, kembali ke kamar untuk meletakkan juga memeriksa apa isi di dalamnya. Pria itu terhenyak melihat isi dus yang bisa dikatakan masih lengkap.
Yang hilang hanya surat-surat penting saja. Atensi Harun teralihkan pada kertas dengan tulisan tangan.
Aku mengembalikan semua perhiasan juga barang barharga lainnya, karena sejak awal itu bukan milik aku. Mas Harun, cincin pernikahannya ada di dalam kotak perhiasan kalung hadiah ulang tahunku. Maaf jika selama ini aku membuatmu menderita.
Haura
Harun meremas kertas tersebut, manik tajamnya tiba-tiba berembun. "Kau benar-benar tidak mencintaiku, Haura? Kau lebih memilih pria itu?" gumam Harun.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, tanpa memeriksa lebih lanjut, dia membawanya ke ruang ganti lalu meninggalkan kamar.
Entah mengapa sejak setuju untuk menikah, perasaan Harun terhadap Haura semakin besar.
***
Sesuai jadwal yang telah diberikan oleh Ezra, hari ini Haura akan datang kerumah sakit Edelweis untuk memeriksakan kandungannya. Sebenarnya Haura mulai merasa tidak enak pada Ezra, terlebih diberikan konsultasi secara gratis. Namun, jika tidak menerima pria itu akan menerornya berulang kali.
Sekarang baru jam 10 pagi, tapi Ezra sudah menghubungi sebanyak tiga kali hanya untuk mengingatkan jadwal.
Haura menyematkan peniti di jilbabnya sebelum mengambil tas yang berisi ponsel, botal minum juga buku ibu hamil miliknya yang dia dapatkan dari Ezra.
Setelah mengunci pintu kontrakan rapat-rapat, Haura berjalan menuju pagar sambil menundukkan kepalanya. Terlebih ketika melewati ibu-ibu di gang yang sepertinya sedang memperhatikan.
Mungkin mereka berasumsi bahwa Haura hamil di luar nikah. Wanita itu hanya bisa bersabar tanpa membalas orang-orang yang telah menyakitinya, karena setiap orang berbeda-beda dalam menanggapi sesuatu.
Kadang kala seseorang hanya mempercayai apa yang mereka dengar dan lihat tanpa ingin mencari tahu kebenarannya. Dan jika kebencian sudah tertanam dalam hati, apapun yang dilakukan seseorang akan salah.
Haura menghela nafas panjang setelah melewati gang dan duduk di kursi bus bersama penumpang lain. Menikmati perjalanan yang mulai padat akan pengendara.
Tangan Haura sejak tadi berada di perutnya.
"Maaf, bunda seharusnya tidak membuat kamu takut dengan menangis terus- menerus. Bunda janji tidak akan cegeng lagi nak. Mari kira hidup berdua tanpa mengharapkan siapapun. Menutup telinga dan mata akan respon orang-orang di sekitar kita," gumam Haura mengelus perutnya yang terhalang beberapa kain.
Wanita itu segera turun ketika Bus berhenti di halte dekat rumah sakit. Berjalan perlahan memasuki kawasan rumah sakit yang terlihat sangat megah. Rumah sakit dimana dia pernah diperkenalkan sebagai menantu oleh ayah mertuanya.
Namun, sekarang dia berkunjung sebagai pasien tanpa menyandang nama Edelweis di belakangnya.