
Lama berkendara akhirnya Haura sampai juga di tempat tujuan. Yaitu pemakaman umum yang terdapat di kota besar tersebut.
Mata wanita berbadan dua itu mengerjap perlahan ketika mendapati gadis yang memberikannya bunga ikut turun dari bus sendirian. Karena penasaran dan takut kalau saja anak gadis itu tersesat, akhirnya Haura bertanya sebelum meninggalian halte.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ketemu mama, Kak. Mama aku ada di sana!" Menunjuk gerbang pemakaman.
Haura terhenyak, wanita itu tidak menyangka bahwa gadis yang terlihat sangat cerita itu ternyata memendam sebuah rindu yang sangat besar. Terlebih usia 7 tahun bukanlah waktu yang tepat ditinggalkan oleh orang tua termasuk ibu.
Usia 7 tahun masih membutuhkan kasih sayang bukan sebuah keikhlasan. Haura menyesal karena mendoakan gadis itu untuk bertemu dengan ibunya secepat mungkin.
"Mau bareng kakak?" tanya Haura.
Gadis berusia 7 tahun itu mengeleng. "Aku mau ke suatu tempat dulu, kakak pergi saja!"
Haura mengangguk dan segera meninggalkan halte setelah mengusap rambut sepinggang gadis menis tersebut. Gadis yang sangat cantik, kulitnya putih terawat mendakan anak itu tidak terlantar.
Sepanjang jalan, Haura mengisi kekosongannya dengan berzikir terus menerus sampai akhirnya tiba di pemakaman orang tuanya dengan membawa setangkai bunga dari anak kecil yang dia temui di bus.
Tidak bisa berjongkok terlalu lama karena perutnya yang membesar membuat Haura hanya mengirimkan doa untuk kedua orangnya. Berbicara tentang kebahagiaan dan berterimakasih sebab telah mendidiknya menjadi pribadi yang lebih baik.
Usai mendoakan orang tuanya, Haura beralih pada makam yang lumayan jauh lebih mewah dari yang lainnya. Haura mengusap batu nisan ayah mertuanya penuh senyuman.
"Maaf yah karena baru bisa datang sekarang. Terimakasih karena telah memberikanku suami yang baik seperti mas Harun. Ayah tahu? Sebentar lagi cucu pertama ayah akan lahir, bukannya ayah sudah menantikan momen ini?" Haura tersenyum meski air mata mengalir di pipinya terus menerus.
Haura terus saja berbicara dan mengirimkan doa seperti yang dia lakukan pada kedua orang tuanya. Wanita itu baru beranjak setelah merasakan kakinya mulai pegal juga sinar matahari mulai menerpa tubuhnya padahal sedang berada di bawah pohon.
Dengan langkah kecilnya Haura meninggalkan pemakaman, berjalan menuju halte bus yang akan membawanya kembali ke toko.
Sambil menunggu bus lewat, Haura memainkan ponselnya. Hal pertama yang dia lakukan tentu saja mengecek balasan dari sang suami.
Humairahku, apa kau sudah sampai? Maaf mas tidak bisa pulang apalagi menyusul karena sesuatu di rumah sakit.
Tidak apa-apa mas, aku mengerti
Itulah balasan yang diberikan oleh Haura sebelum memasukkan ponsel di dalam tasnya. Tatapan wanita itu tertuju pada gadis yang memberinya bunga mawar tadi.
Sama halnya seperti di bus, gadis itu kembali mengendong banyak bunga bawar dan bersiap untuk menyebran jalan setelah melambaikan tangan pada Haura.
Senyuman Haura mengembang tapi tidak berlangsung lama ketika gadis kecil di seberang jalan nekat menyebrang padahal jalanan sangat lengang dimana pengendara leluasa mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Refleks kaki Haura melangkah ke pinggir jalan untuk membantu gadis kecil itu agar menyebrang dengan selamat. Namun, naasnya ketika Haura hendak sampai di tengah-tengah dan meraih uluran dangan gadis kecil itu, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Menabrak tubuh Haura hingga melayang beberapa meter dari permukaan tanah bersama dengan bunga bawar yang berserakan di jalan raya.
Waktu seakan berhenti, air mata Haura mengalir ketika merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk karena hantaman sebuah mobil. Dalam setengah sadar Haura berusaha melindungi perutnya sebelum kembali membentur atap bagian belakang mobil dan terguling di aspal yang sangat panas.
Darah mengalir dari kepala, pangkal paha. Darah semerah bunga mawar merah yang tengah berserakan di sekitar tubuh Haura yang terkulai lemas dan tidak sadarkan diri.
Sementara anak gadis yang hendak Haura tolong terhempas pada pembatas jalan karena Haura sempatnya mendoronya menjauh.