
Haura, wanita itu mengigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepala, meremas jari-jari tangannya yang terasa dingin. Sungguh ucapan itu tidak sengaja keluar dari mulut Haura. Dia sama sekali tidak ada niatan untuk menyindir Harun, tapi sepertinya pria itu tersinggung dengan ucapan yang dia lontarkan.
Terbukti Harun terus saja diam sambil mengemudikan mobilnya membelah jalan raya.
"Mas Harun." Memberanikan menatap Harun yang tengah fokus menyetir.
"Aku belum sarapan sejak pagi, makan siang dulu sebelum pulang tidak apa-apa?" tanya Harun melirik Haura sekilas.
Meski sedikit terkejut mendengar pengkuan suaminya belum makan sejak pagi, Haura tetap saja menganggukkan kepala menyetujui ajakan Harun.
Wanita itu diam-diam memeriksa jam di ponselnya yang ternyata sudah jam 2 siang.
"Kenapa tidak sarapan?"
"Rasanya aneh sarapan sendiri di meja yang sangat besar." Memutar setir kemudi memasuki restoran yang sudah beberapa kali Harun kunjungi sebelumnya.
"Mas punya penyakit lambung yang bisa saja kambuh kalau terus begini. Mas Harun harusnya menjaga ...."
"Ayo!" Tanpa mengidahkan omelan Haura, Harun menarik tangan istrinya setelah berhasil membukakan pintu.
Mengenggam tangan Haura memasuki restoran yang tengah dipadati pengunjung, untung saja masih ada kursi kosong di sudut ruangan. Dia menarik kursi, mempersilahkan istrinya duduk.
Harun bukan marah akan perkataan Haura tadi, hanya saja merasa tidak enak dan rasa bersalah kembali mengerogoti hatinya. Dia memang bukan pria yang bertanggung jawab sebab menelantarkan istrinya begitu saja.
"Mau makan sesuatu?" tanya Harun sambil meneliti menu makanan.
"Menu utama udang boleh? Tapi harganya sedikit ...."
"Tidak masalah." Memotong ucapan Haura dengan cepat.
Pria itu mulai mencatat sendiri menu-menu yang dia inginkan, tidak lupa udang yang dipesan untuk istrinya.
***
Jika Haura dan Harun sedang makan siang bersama di sebuah restoran sederhana, maka berbeda dengan Diana yang nekat datang kerumah sakit setelah berusaha menelpon Ezra tapi tidak dijawab meski satu panggilan pun.
Wajah gadis itu terlihat kesal, baru kali ini dia benar-benar diacuhkan oleh om-om seperti Ezra.
"Hah, apa dia pikir dia sangat tampan sampai jual mahal?" Diana mencebik, menyibak rambut sebahunya arongant, berjalan memasuki lobi rumah sakit yang ramai akan pengunjung.
Penampilan gadis itu sangat sederhana. Hodie kebesaran dengan celana jeans yang bersembunyi di di dalamnya. Diana tampak imut padahal tubuhnya tidak terlalu pendek.
Gadis cantik itu berhenti setelah sampai di meja resepsionis, tersenyum sangat ramah dengan lengan bertumpu pada meja.
"Siang kakak cantik, boleh nanya tidak?"
"Ada yang bisa kita bantu?" tanya mbak-mbak resepsionis.
"Tentu saja." Senyuman Diana merekah. "Aku sedang hamil 2 bulan, dan sedang mencari dokter Ezra. Apa dia bekerja di rumah sakit ini?"
"Dokter Ezra?" Suster yang sering bertemu dengan Ezra mengerutkan keningnya. "Nona hamil anak dokter Ezra ...."
"Bukan! Enak saja!" Diana sontak memekik, kepala dan tanganya bergerak seirama membantah tuduhan tidak mendasar dari suster tersebut.
Meski penasaran dan ada rasa ketertarikan pada Ezra, Diana tidak akan mengaku-ngaku hamil, bisa bahaya jika kedua orang tuanya mendengar.
"Saya ingin diperiksa olehnya!"
"Sudah membuat janji?"
"Apa memeriksa kesehatan harus membuat janji dulu? Apa kalau kita sekarat saat digigi semut, harus menelpon dan membuat janji dulu pada dokter sebelum pingsan?" Diana berkacak pinggang menatap dua suster yang menatapnya aneh.
"Saya membuat janji akan ke dokter malam hari, karena tahu akan sakit?"
"Nona, sebaiknya anda bertemu dokter psikolog saja!" celetuk salah satu suster.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Seorang pria dengan jas dokter ditubuhnya mendekati meja resepsionis.
Memberikan sebuah kertas pada salah satu suster. "Tolong berikan pada dokter Ara jika sudah masuk bekerja!"
"Baik Dokter."
Diana yang semula acuh, seketika memutar tubuhnya sebanyak 45 derajat ketika tidak asing dengan suara dan aroma tubuh tersebut.
"Dokter Ezra?" sapa Diana dengan senyumannya.
"Kenapa?" tanyanya dengan alis terangkat, seperinya Ezra lupa siapa Diana.
"Aku hamil, tolong diperiksa dokter!"