Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 102 ~ Tabir Pernikahan


Karena sudah berjanji akan datang ke ulang tahun bundanya bersama Haura dan Azzam. Harun pulang lebih cepat dari rumah sakit terlebih hari ini jadwalnya tidak terlalu padat.


Pria itu tersenyum melihat istri dan putranya telah rapi dengan gamis dan kemeja yang senada untuk keduanya.


"Ganteng banget anak ayah, mana couple lagi sama bunda," puji Harun pada Azzam yang sejak tadi tersenyum lebar.


Bocah berusia 6 tahun itu sangat bahagia ketika tahu akan berkunjung ke rumah omanya. Mungkin karena selama ini jarang bertemu karena Harun yang tidak suka.


"Mas Harun mandi dulu gih, biar aku siapin kemejanya," ucap Haura yang baru selesai memasang hijabnya.


"Siap istriku." Memberi hormat dan masuk ke kamar mandi.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk Harun bersiap-siap, terlebih jika dibantu oleh istrinya yang sangat cantik bak bidadari tidak bersayap.


Setelah di rasa tidak ada yang terlupa, Harun dan keluarga kecilnya meninggalkan toko. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang sambil menikmati perjalanan mendengar ocehan Azzam yang terus bercerita tentang sekolah hari ini.


"Azzam mau masuk pesantren, Bunda-Ayah," celetuk Azzam setelah lelah bercerita seputar kegiatan di sekolah.


Harun dan Haura saling melirik sambil mengulum senyum. Senang mendengar keinginan putra mereka.


"Memangnya Azzam siap pisah sama bunda?" tanya Harun.


Azzak mengangguk dan mengeleng secara bersamaan. "Kata ibu guru kalau mau jadi hafiz harus masuk pesantren biar fokus belajar, Ayah. Katanya Hafiz bisa buat orang tuanya masuk surga."


"Bunda sama ayah mengizinkan Azzam masuk pesantren setelah lulus SD biar bisa mengurus diri sendiri. Azzam mau nunggu 7 tahun lagi? Belajar ngajinya sama bunda dan guru di masjid aja dulu."


Azzam mengangguk dengan senyuman. Seperti namanya Azzam Hafizh Kaaffa, bocah 6 tahun itu bercita-cita menjadil Hafiz Qur-an seperti yang diinginkan bundanya.


Pembicaraan di dalam mobil harus berakhir setelah sampai di halaman rumah mewah. Pesta tidak terlalu meriah karena hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja.


Mungkin bisa dibilang bunda Harun adalah wanita pembawa sial bagi sebagian orang, sebab dua kali bersuami, semuanya telah meninggal dunia dengan penyakit yang sama pula.


Kedatangan keluarga kecil Harun disambut begitu bahagia oleh sang bunda yang tahu akan kehadiran mereka dari Haura.


"Bunda tidak menyangka kalian akan datang. Bunda senang banget." Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca melihat menantu dan putranya. Selama ini bunda Harun tidak pernah jauh dari sekitar Harun.


Hanya saja tidak berani mendekat seperti sekarang sebab takut akan penolakan putranya. Dia pergi dari rumah 20 tahun lalu sebab diusir oleh Harun sendiri.


"Makasih Sayang." Bunda Harun langsung memeluk Haura penuh kasih sayang.


"Sama-sama Bunda." Haura tersenyum. Membalas pelukan mertuanya dengan sebelah tangan, sebab sebelahnya lagi masih digenggam oleh Harun.


"Anak-anak liat nih kakak kalian datang!" teriak bunda Harun. Membuat dua laki-laki dan satu perempuan menghabur keluar.


"Ini kak Harun?" tanya mereka serempak.


"Iya nak."


"Selamat datang kak Harun di rumah Bunda. Maaf karena mengambil bunda dari kak Harun," ucap mereka lagi-lagi serempak.


Harun terpaku, tidak pernah menyangka mempunyai tiga adik dari ibunya. Pria itu memaksakan senyum meski terasa sangat sulit.


"Tidak apa-apa, kalian lebih membutuhkan kasih sayang." Menatap adiknya yang berusia 17 tahun. Di umur yang sama, Harun harus kehilangan kasih sayang bundanya.


Haura mengelus lengan suaminya sambil berjalan memasuki rumah mewah tersebut.


"Mas baik-baik saja?"


"Hm, jauh lebih baik melihat senyuman bunda yang merekah. Ternyata mas egois Ra."


"Kenapa?"


"Mas menyalahkan bunda yang tidak pernah ada untuk mas. Padahal yang mengusir bunda adalah mas sendiri."


"Mari menata hidup baru dan jadikan masa lalu sebagai pelajaran dalam menjalani hidup, Mas."


Menatap meja makan yang dihuni oleh 7 orang termasuk Azzam sebagai cucu pertama. Juga dua gadis cantik yang entah siapa, mungkin pacar dari adik-adik Harun.


"Sekarang kita punya keluarga yang bahagia. Mas sekarang menjadi kepala keluarga dan bertugas membimbing adik-adik mas meski beda ayah."


Harun mengangguk ragu, mengecup kening istrinya cukup lama. Mungkin tanpa bujukan dan segala kalimat-kalimat bijaksana yang Haura lontarkan, Harun tidak akan pernah bisa berdamai dengan masa lalunya yang kelam bersama sang bunda.


"Terimakasih Humairaiku atas segalanya," bisik Harun.


...Ending...


...****************...


Huhuhu akhirnya bisa nyelesain satu novel lagi.


Terimakasih readers bucin untuk kebersamaannya selama 39 hari. Saatnya fokus pada babang Dito😉


Yang belum mampir, buruan ya. Kita bertemu di sana.