
Harun, pria itu berjalan menuju balkon dengan penampilan acak-acakan setelah berperan dengan rasa penyesalan yang sangat dalam, rasanya untuk menemui Haura saat ini Harun tidak punya keberanian setelah mengingat apa yang dia lakukan sebelumnya.
Mengatai Haura wanita murahan, menuduh selingkuh tanpa menyelidiki lebih dulu, mengusir dari rumah padahal istrinya sedang hamil, ingin menikah dan memaksa Haura menerima. Sepertinya kesalahan Harun sangat besar dan tidak bisa dimaafkan oleh siapapun, termasuk Haura.
Setelah berada di balkon kamarnya, Harun menghubungi Ezra untuk meminta bantuan. Entah sahabatnya ingin membantu atau tidak. Pria itu menempelkan benda pipih di telingan setelah panggilannya terhubung.
"Bantu aku!" pinta Harun tanpa bas-basi.
"Bukannya selama ini aku sudah membantumu untuk membuka mata hatimu yang telah tertutup oleh Ego? Lalu bantuan seperti apa lagi yang kau inginkan dariku?" tanya Ezra tepat menusuk hati Harun.
Namun, bukan waktunya pria itu baper dan marah dengan segala ucapan Ezra yang setajam silet, terlebih apa yang dikatakan Ezra semuanya benar.
"Tolong jaga istriku dengan baik, sebelum aku menemukan siapa yang telah berusaha menghancurkan rumah tanggaku."
"Akan aku pikirkan," sahut Ezra, setelahnya terdiam seperti memikirkan sesuatu di seberang telpon. Pria itu kembali bicara ketika teringat akan sesuatu. "Tidak perlu jauh-jauh mencari, coba saja kau selidiki dua perempuan kesayanganmu." Memutuskan telpon sepihak.
Harun menghela nafas panjang mendapati sikap Ezra yang berubah dingin padanya. Padahal sebelum-sebelumnya pria itu akan menjadi orang pertama membantu semua masalah yang dia hadapi.
"Tidak mungkin kan kalau bunda Elena dan Vivian yang melakukannya? Mereka sangat menyangi Haura," gumam Harun menolak percaya akan tuduhan Ezra.
Namun, satu kalimat terlintas tiba-tiba di pikiran Harun, seakan memperingatkan sesuatu. Kalimat yang Haura lontarkan sambil berlutut di kakinya malam sebelum keluar dari rumah.
Aku dijebak Mas, bunda Elena yang menyuruhku datang ke hotel.
Harun memejamkan matanya sambil mengepalkan tangan, keluar kamar dan bertujuan untuk memeriksa CCTV dirumahnya yang berada di setiap ruangan kecuali kamar dan toilet.
Pria itu berdiri di depan kamar Vivian dengan tangan memegang handel pintu. Namun, pergerakan tangannya berhenti ketika mendengar pembicaraan Elena dan Vivian di dalam sana.
"Gawat, sepertinya Harun sudah tahu kalau Haura hamil, Vi. Bagaimana ini? Mana Haura tidak jadi diusir dari kontrakannya." Elena terlihat panik karena mendapat informasi dari nomor tidak di kenal tentang Harun yang mengetahui kehamilan Haura.
Sebenarnya yang mengirim pesan tersebut tidak lain adalah Ezra, hanya untuk mengetes apa yang akan dilakukan Elena selanjutnya. Apa wanita itu benar-benar dalang dalam penjebakan Haura.
Ezra memang mengatakan tidak ingin membantu Harun, tapi itu hanya gertakan semata agar sahabatnya bisa berusaha sendiri. Ezra mengerti kenapa Harun bersiap kekanak-kanakan, karena memang sejak dulu hidup Harun hanya diatur oleh ayahnya.
Bisa dibilang, pria itu tidak punya tujuan hidup kalau saja Haura tidak masuk kekehidupannya.
"Kalau begitu percepat saja pernikahannya Bunda, aku tidak mau gagal menikah dengan kak Harun. Kita sudah melangkah terlalu jauh, bahkan sudah berhasil menyingkirkan Haura dari rumah ini. Kita tidak boleh gagal karena sudah ada di puncak!" Vivian menguncang pundak bundanya dengan wajah cemberut dan itu semua tidak luput dari perhatian Harun.
Tangan pria itu mengepal karena merasa ditipu oleh dua perempuan yang sangat dia percayai melebihi istrinya sendiri.
Aku tidak menyangka musuh terbesarku ada di dalam rumahku sendiri, bahkan aku menganggapnya keluarga.
Mata Harun memerah, tubuhnya bergetar hebat menahan amarah yang siap untuk meledak, terlebih mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Vivian.
"Kita harus melenyapkannya Bunda, agar tidak ada lagi penghalang untuk mencapai apa yang kita ingingkan. Kak Harun sudah percaya pada kita!"
Tidak tahan dengan pembicaraan kedua perempuan tersebut, Harun lantas mendorong pintu cukup kasar, membuat Vivian dan Elena terkejut.