
Mobil mewah berwarna merah terus saja malaju membelah padatnya kendaraan di jalan raya. Di dalam mobil terdapat sepasang suami istri yang tidak kunjung bicara setelah berdebat di kontrakan tadi.
Haura dengan pikirannya, juga Harun yang memutar otak agar bisa bicara tanpa menyinggung perasaan istrinya yang sedang sensitif karena sedang hamil.
Mobil mewah tersebut akhirnya berhenti setelah sampai di tempat tujuan, bukannya turun, Harun malah mengunci pintu mobil agar Haura tidak kemana-mana.
"Kenapa malah dikunci?"
"Mas mau ngomong sesuatu," jawab Harun menatap manik indah Haura yang sejak tadi menghindari tatapannya. Pria itu meraih tangan istrinya setelah mengambil sesuatu di saku celana.
Harun memasangkan cincin pernikahan di jari manis Haura tanpa izin dari pemiliknya, tidak lupa mengecup. Dimana kecupan itu mempu membuat jantung Haura berdetak tidak normal.
Perut wanita itu seakan digelitik ribuan kupu-kupu sehingga salah tingkah sendiri. Suasana hati yang selalu berubah-ubah dengat cepat sebenarnya membuat Haura juga bingung pada dirinya sendiri.
"Jangan pernah lepaskan cincin pernikahan kita lagi, Ra. Mas mencintaimu dan tidak akan melepaskanmu meski sebentar saja," ucap Harun meyakinkan.
Haura menunduk, pipinya bersemu merah karena merasa malu.
"Ak-aku mau turun sekarang, Mas."
Harun menghela nafas panjang, entah sampai kapan Haura akan terus menghindari dirinya jika ingin bersikap romantis. Tidak tahukah wanita itu bahwa bersikap romantis tidak mudah? Terlebih Harun tidak pernah melakukannya dulu.
Karena tidak ingin memaksakan kehendak, pria itu akhirnya turun dan membukakan pintu untuk istrinya.
Perlu kalian tahu, tempat yang Harun maksud kemarin adalah Lapas. Tujuan Harun membawa istrinya bertemu dengan Elena dan Vivian sangatlah sederhana, yaitu ingin dua wanita ular tersebut meminta maaf pada Haura.
"Jangan gugup," bisik Harun mengenggam tangan istrinya yang terasa sangat dingin.
Harun mengerti kenapa Haura sedikit gugup, mungkin karena siksaan Elena dan Vivian dulu yang terlalu tidak manusiawi.
"Aku tidak gugup."
"Baiklah kamu tidak gugup." Mengulum senyum sambil berjalan memasuki gerbang yang sangat tinggi. Gerbang yang tidak mungkin bisa ditembus oleh narapidana yang hendak melarikan diri setelah hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali setelah hukuman jatuh sesuai perbuatan yang mereka lakukan.
Harun dan Haura duduk di sebuah bangku menunggu Elena dan Vivian datang setelah berbicara dengan petugas lapas. Selama itu pula genggaman Harun tidak pernah lepas dari tangan istrinya.
Wajah taduh Harun berubah menjadi datar dan tajam ketika dua wanita yang telah menghancurkan hidupnya datang dan duduk saling berhadapan dengan kaca tebal sebagai penyekat di antara mereka.
Bisa-bisa kita akan disiksa habis-habisan oleh teman-teman lapas.
"Ada apa kalian datang kemari? Apa tidak cukup kalian memenjarakan saya dan anak saya sampai menderita?" Elena mulai mengomel, masih tidak terima harus tinggal dibalik jeruji besi bersama orang-orang aneh dan sok berkuasa.
"Ingin mendengar maaf!" ucap Harun tegas.
"Bagaimana kabar bunda sama Vivian? Apa kalian baik-baik saja? Aku sangat khawatir kalau saja ...."
"Tidak usah sok perhatian, dasar munafik!" Sela Vivian dengan wajah sinisnya.
"Apa kalian tidak dengar? Minta maaf pada istriku!" bentak Harun dengan suara tinggi, membuat Elena, Vivian dan Haura terkejut bukan main.
"Mas?" Menatap Harun dengan tatapan sulit di artikan. Tangan Haura semakin erat mengenggam tangan suaminya, baru kali ini dia melihat Harun sangat marah.
Mata memerah, rahang mengeras membuat Harun tampak menyeramkan.
Elena dan Vivian lantas menundukkan kepalanya.
"Ma-maaf."
"Kurang jelas!"
"Mas sudah, aku sudah memaafkan mereka bahkan sebelum dia ...."
"Diam Sayang, mas tidak bicara sama kamu," ucap Harun dengan nada rendah, tapi berhasil membungkam mulut Haura.
Berbeda dengan Vivian dan Elena yang tampak takut pada amarah Harun. Takut kalau saja hukuman mereka semakin ditambah.
"Maafin saya karena selama ini menyiksa kamu tanpa perasaan. Maaf juga karena membuat rumah tangga kalian hancur."
"Sebuat nama!"
Vivian dan Elena memejamkan matanya dengan tangan terkepal di bawah meja.
"Maafin kita Haura karena telah mengecaukan hidupmu selama ini. Semoga kamu tetap bahagia dan janinmu lahir dengan selamat."