
Untuk pertama kalinya Diana tidak heboh ketika bertemu dengan Ezra malam ini. Gadis itu datang untuk makan malam bersama karena undangan Haura, bukan untuk orang lain apalagi jika Ezra adalah orangnya.
Gadis itu terus saja menunduk, menyantap makan malamnya meski tidak berselera sama sekali. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia insekyur pada orang lain. Bukan karena kencatikan, tapi agamanya.
"Kenapa diam saja, Diana?" tanya Haura yang aneh dengan tingkah temannya.
"Tidak apa-apa kak, aku cuma tidak enak badan. Tapi ...." Ucapan Diana berhenti ketika punggung tangan langsung mendarat di keningnya tanpa izin.
"Suhu tubuhmu normal!" ucap Ezra.
"Tahu kok!" Menyingkirkan tangan Ezra cukup kasar, membuat pria itu tentu saja terkejut bukan main.
Selama ini Diana terlihat sangat cerita, tapi malam ini sangat murung.
"Harusnya kamu menolak kalau tidak enak badan Diana, aku jadi tidak enak."
"Santai saja kak, aku masih bisa bertahan hidup sampai 3 hari kedepan." Berusaha tersenyum meski rasanya sangat sulit.
Salahkan diri Diana sendiri yang terlalu baper dengan ucapan Ezra pada bundanya yang berjanji akan menikah, padahal gadis itu tahu betul bahwa semuanya hanya sandiwara.
"Pulang gih, saya tidak mau anak orang mati di meja makan," celetuk Harun. "Antar Diana pulang, Ezra! Rumah kalian kan searah!" perintah Harun seenaknya.
Namun, entah kesambet setang apa, Ezra langsung berdiri dan menarik tangan Diana. "Ayo!" Terus saja berjalan hingga berada di parkiran restoran, dan selama itu pula Diana masih belum menyapa Ezra seperti biasanya.
"Kamu benar-benar sakit?" tanya Ezra setelah berada di dalam mobil bersama Diana.
"Tidak."
"Diana?"
"Jalanlah Pak! Aku malas ribut pada siapapun!" ucap Diana tanpa ingin menatap wajah tampan Ezra.
Pria itu hanya menghela nafas panjang, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Diana yang lebih jauh dari rumahnya.
Keheningan menemani perjalanan mereka sehingga berada di atas mobil sangatlah lama rasanya. Sesekali Ezra melirik Diana yang tampak memejamkan mata. Entah kenapa, tapi Ezra merasa aneh dan sedikit sedih tidak melihat sikap ceria gadis yang sangat mirip kekasihnya.
Pria itu memelankan laju mobilnya setelah dekat dari rumah Diana. Meski mobil sudah berhenti, Ezra urung untuk membuka kuncinya, membuat Diana tentu saja menoleh untuk menatap Ezra.
"Kamu marah sama siapa? Saya?"
"Tidak ada!"
"Besok aku akan membawamu kerumah sebagai kekasihku!"
"Kenatap tidak membawa kekasih kamu yang sebenarnya? Dia jauh lebih cantik dan tentu saja menantu idaman, orang tua Pak dokter tidak mungkin menolak!"
"Saya tidak punya pacar, pacar saya ...." Ezra menghentikan kalimatnya ketika sadar. Pria itu berlutut di atas kursi untuk mengambil paper pag putih tulang di jok belakang lalu memberikan pada Diana.
"Pakailah saat bertemu orang tuaku!" ucap Ezra, setelahnya membuka pintu mobil.
"Makasih." Tanpa menoleh lagi, Diana masuk kerumahnya.
Langkah gadis cantik itu berhenti ketika melihat ayah dan bundanya sedang berdiri di depan anak tangga dengan ekpresi yang berbeda satu sama lain.
"Habis jalan sama pacar kamu?" tanya ayah Diana bersedekap dada.
"Bukannya kalian setuju aku pacaran sama pak Ezra?"
"Itu kalau lamarannya datang minggu ini, Diana!"
"Dia bakal datang kok sama orang tuanya. Pak Dokter bukan tipe orang yang suka ingkar janji."
Berlalu begitu saja karena memang suasana hatinya sedang tidak baik, mungkin selain insekyur, dia akan datang bulan sebentar lagi.
Gadis itu melempar paper bag ke atas ranjang sehingga isinya terjatuh. Kening Diana mengernyit melihat sebuah hijab dan gamis dengan warna senada, terlebih warna tersebut adalah kesukaannya.
"Dia pasti mau aku seperti perempuan di mall itu." Seakan tidak peduli, Diana melemparnya ke sofa lalu mendaratkan tubuhnya dengan aman di ranjang.
Memejamkan mata adalah pilihan Diana satu-satunya untuk melepas suntuk, berbeda dengan Ezra yang menghentikan mobilnya di pinggir jalan setelah jauh dari rumah Diana.
Sulit dipungkiri, hati Ezra mulai bergerak untuk menyukai gadis lain. Mungkin karena Diana sangat mirip dengan kekasihnya dulu sehingga Ezra gampang untuk jatuh cinta.
Dan ya, Ezra dikalahkan oleh hatinya. Sebentar lagi pria itu akan menyakiti hati seorang gadis dengan menjadikannya bayangan masa lalu disaat rindu.