Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 60 ~ Tabir Pernikahan


Langkah kecil kaki seorang gadis terus saja menapaki jalan di bawah teriknya matahari sore. Tidak peduli akan menabrak sesuatu gadis itu terus saja melangkah tidak tentu arah demi menghindari orang-orang suruhan ayahnya yang sedang mengejar.


Nafas tersengal-sengal membuat Diana tidak lagi bisa berlari, terlebih dia telah dikepung oleh 4 pria gagah suruhan ayahnya.


"Kenapa kalian mengejarku?" tanya Diana mengembungkan pipinya. Entah dimana gadis itu berada sekarang, intinya jauh dari rumah sakit di mana mobilnya terparkir rapi.


"Karena Eneng lari," sahut salah satu dari mereka sambil mengatur nafas.


"Aku tidak akan lari jika kalian tidak mengejar. Lihatlah, tubuhku bersimbang keringat dan sebentar lagi aroma tidak sedap akan menyengat. Karena aku baik hati, maka ku lepaskan kalian. Pergilah!" usir Diana mengayungkan tangannya.


Ke empat pria itu menganga tidak percaya, harusnya merekelah yang mengatakan hal tersebut. Ini malah sebaliknya.


"Maaf Neng, tapi kita harus bawa neng pulang kerumah."


"Sudah aku katakan kalian pergi, atau kalau tidak aku yang akan pergi!" Ancam Diana mengambil ancang-ancang untuk kabur dari pria menyebalkan tersebut.


Langkahnya mundur perlahan-lahan, ketika merasa aman, dia membalik tubuhnya hendak berlari. Namun, Diana terkejut saat dunianya terasa terbalik.


"Ayah!" pekik Diana.


Tetapi ayah Diana tidak peduli, pria baruh baya itu terus berjalan sambil mengendong tubuh putrinya seperti karung beras. Mendaratkan secara hati-hati di mobil lamborghini yang Diana tinggalkan di rumah sakit.


"Diana tidak mau pulang!" Bersedekap dada dengan wajah kesalnya.


"Sudah cukup ayah beri kamu kebebasan." Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar sampai di rumah dengan cepat.


Sementara Diana menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Tadi gadis itu sedang berada di ruko untuk memperhatikan bangunannya, ketika keluar empat pria gagah mengejarnya tidak karuan. Yang semakin membuat Diana kesal adalah, Ezra melihatnya tapi pria itu tampak acuh.


"Turun sendiri atau ayah gendong?"


"Turun sendiri!" sahut Diana langsung turun dari mobil setelah sampai di rumahnya yang lumayan mewah. Menghentakkan kaki memasuki rumah orang tuanya.


"Akhirnya anak bunda pulang juga, jangan kabur lagi ya dari rumah. Apalagi cuma bawa satu ATM saja, riwayat belanjaanya juga tidak banyak. Harusnya meski kabur kamu harus hidup mewah."


"Bunda benar, lain kali Diana akan kabur membawa semua sertifikat ayah," cengirnya tanpa dosa, membuat ayahnya menganga tidak percaya.


***


Makan malam keluarga adalah halbyang sangat jarang terjadi di keluarga Diana, tapi malam ini mereka berkumpul yang mana membuat hati gadis itu terasa sangat bahagia. Namun, hanya berlangsung sebentar saja karena topik kedua orang tuanya mulai menjurus ke perjodohan.


"Kalau kamu tidak mau bertemu dengan calon suamimu, maka dalam dua minggu kita akan makan malam bersama keluarganya."


"Ayah!" Meletakkan garpu dan sendoknya di atas meja. "Diana sudah bilang tidak mau dijodohkan dengan om-om keriput. Diana punya kriteria sendiri tentang seorang suami. Lagi pula yang mau menjalaninya kan Diana, bukan ayah ataupun bunda."


"Tapi Caunumu tidak termasuk dalam kriteria menantu idaman bunda."


Ayah Diana mengulum senyum mendengar ucapan istrinya, berbeda dengan Diana yang semakin mengembungkan pipi, selera makan seolah menghilang begitu saja.


"Namanya Cha Eun woo, dia pria yang mendekati sempurna, usianya juga tidak jauh dari Diana. Pria kaya, berhati malaikat juga tampan."


"Meluluhkan satu Tuhan saja kau tidak bisa, apalagi dua Tuhan. Cari yang seagama jauh lebih baik. Mengidolakan boleh, tapi tidak jika berlebihan. Ayah tidak mau tahu kau harus menikah dengan ...."


"Diana punya pacar sungguhan!" ucap Diana lantang sambil memejamkan matanya. Sesekali membuka kelopak matanya untuk melihat ekpresi orang tuanya yang tampak biasa saja.


"Kalian tidak marah?"


"Kalau kamu memang punya pacar, bawa dia kehadapan ayah. Jika dia layak jadi menantu dan mengalahkan apa yang dimiliki calon suamimu, maka ayah akan menerimanya."


"Benarkah?" Senyuman Diana merekah, tentu saja Ezra masuk dalam kriteria idaman ayahnya jika menyangkut fisik dan pekerjaan, tapi entah dengan latar belakang orang tua.


"Satu minggu, kalau kau tidak membawanya maka pernikahan akan di tetapkan!"