
Mendapatkan toko donat sebagai hadiah ulang tahunnya tidak pernah ada dalam bayangan Haura meski sekali saja. Mendapatkan cinta dan kasih sayang begitu besarpun Haura tidak terlalu mengharapkannya karena tahu pernikahannya atas dasar perjodohan tanpa cinta.
Namun, siapa yang menyangka hal-hal baik itu menghampiri Haura menjelang persalinannya anak pertama. Hari pertama mengelola toko donat, senyuman Haura tidak pernah surut di wajah ayunya.
Wanita berbadan dua itu mondar-mandir dapur dan kasir untuk memantau berjalannya usaha dengan baik. Di meja kasir sudah ada Diana yang datang sejak jam 7 pagi.
Gadis itu menjadi Admin sekaligus kasir untuk Haura sebelum mendapatkan karyawan yang lebih layak nantinya.
"Sarapan dulu Diana, aku sudah membuat sesuatu di atas," ucap Haura berdiri di seberang meja kasir.
Diana mengelengkan kepalanya. "Aku puasa kak."
"Senin-kamis atau hajat?"
"Senin-kamis, mau mencoba untuk istiqomah di jalan Allah. Setelah memutuskan berhijrah banyak hal-hal tidak terduga dalam hidupku."
"Aku senang mendengarnya Di. Maaf ya aku tidak tahu kalau kamu sedang puasa."
"Tidak apa-apa kak." Diana tersenyum sambil menatap punggung Haura yang perlahan menjauh.
Kelas Diana ada di jam 10 pagi, itulah mengapa menyempatkan diri ke toko Haura.
Sementara pemiliknya kembali ke lantai dua untuk menemui sang suami yang entah sudah bangun atau belum.
Langkah Haura untuk masuk ke kamar segera dia urungkan ketika tidak mendapati suaminya di atas ranjang. Yakin bahwa Harun ada di kamar mandi, wanita itu memutuskan berjalan menuju meja makan sambil memegangi perutnya yang membuncit.
Pikiran wanita itu berkelana pada kejadian kemarin saat Harun bangun tidur dan bertingkah sangat aneh. Bunga yang berada di dalam toko sebagai penyambutan telah dibuang dengan alasan jelek, terlebih Harun tidak membiarkan Haura menyentuhnya meski sedetik saja.
Lamunan Haura buyar ketika kecupan bibir yang terasa dingin menyentuh keningnya. Dia tersenyum hangat pada suaminya yang telah tampan dengan setepan kemeja putih.
"Lagi mikirin apa, hm?"
"Tidak ada Mas. Ayo sarapan dulu sebelum berangkat ke rumah sakit. Ah iya, aku mau izin hari ini berkunjung ke makam ayah dan kedua orang tuaku. Apa boleh?"
"Sendiri?"
"Sore bagaimana? Sekalian mas ikut."
"Sore aku ada majelis taklim di masjid Mas. Aku hanya merindukan mereka."
Harun menghela nafas panjang meski berat rasanya membiarkan Haura pergi sendirian, terlebih setelah mimpi buruk.
"Hati-hati, jangan bawa bunga apapun!"
"Iya Mas." Mengangguk patuh meski tidak tahu alasan pastinya Harun tiba-tiba membenci bunga.
Setelah sarapan bersama, Haura dan Harun berjalan beriringan ke lantai bawah di mana toko donat berada. Sudah ada beberapa pengunjung yang hanya datang memesan Donat.
Wanita itu tersenyum ramah pada pelanggang, dan melajutkan langkahnya ke pintu bersama Harun. Tepat saat kaki Haura berpijak di teras, Ezra juga turun dari mobilnya.
"Kenapa ke sini? Rumah sakit masih ada tiga bangunan."
"Salah? Bukannya toko donat untuk siapa saja ya?" balas Ezra dengan sebelah alisnya naik.
"Tidak sih." Cengir Harun.
"Mau pesan donat juga?" tanya Haura yang memang tidak suka dengan perdebatan meski hanya sebuah candaan. Karena sebuah candaan bisa juga menyakiti hati seseorang tanpa sengaja.
"Iya, bunda aku penasaran sama donat kamu. Adakan adminnya di dalam?"
"Ada kok." Haura mengangguk dan mempersilahkan Ezra masuk. Berbeda dengan Harun menatap sahabatnya penuh kecurigaan.
Kenapa Ezra harus repot-repot datang ke toko untuk membeli? Padahal toko Haura bisa dijangkau di beberapa aplikasi. Pertanyaan itu terus saja bersarang di pikiran Harun hingga refleks menatap Ezra yang telah berdiri tepat di depan Diana.
"Kenapa belum pergi Mas? Katanya punya jadwal jam 9, ini sudah jam 8 lewat 45 menit." Haura memperingatkan.
"Ah mas hampir lupa." Mengecup kening Haura sekali lagi tanpa malu pada pengunjung, berbeda dengan Haura yang langsung menunduk sebab merasakan malu yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
"Assalamualaikum Humairahku."