
Diana, gadis itu mengerjapkan matanya perlahan sambil memperhatikan Ezra yang baru saja turun dari mobil putih. Entah kenapa, tapi tampan pria itu tidak membosankan dimana Diana.
Kalau om-omnya gini mah bisa dibicarakan.
Gadis itu hampir tidak mengedipkan mata sakin terpesonanya pada aura Ezra, tetapi yang diperhatikan malah menghampiri Haura dan tentu saja berdiri tepat di samping Diana, membuat jantung gadis itu berdetak tidak karuan.
Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Diana mengigit bibir bawahnya, kalau saja Haura tidak menepuk pundak Diana, mungkin gadis itu tidak akan melepaskan pandangan dari Ezra.
"Kenalin, ini Diana teman aku." Haura memperkenalkan Diana pada Ezra.
"Ezra." Dokter Obgyn tersebut mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Sementara Diana tiba-tiba dilanda kegugupan, dengan ragu dia menyambut uluran tangan Ezra.
"Diana loka Annovera, orang biasa panggil aku cantik." Cengir Diana tapi tidak digubris oleh Ezra, pria itu kembali mengalihkan tatapannya pada Haura yang tengah menunduk.
"Kenapa datang kesini? Bukannya tidak tahu terimakasih, tapi sering bertemu tidak baik untuk kita berdua Ezra," lirih Haura yang berusaha menjaga marwahnya sebagai seorang wanita juga istri yang statusnya tengah digantung oleh Harun.
"Aku datang mau minta maaf tentang semalam. Apa kau sudah bertemu dengan Harun?" Haura menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah, entah apa yang kalian bicarakan malam itu. Tapi aku berharap hubungan kalian baik-baik saja, meski aku tahu sahabatku tidak pantas untuk diberi maaf." Ezra tersenyum, ingin rasanya pria itu mengenggam tangan Haura dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja jika kembali bersama Harun.
Harun memang bodoh, tapi pria itu tidak sepenuhnya salah. Harun hanya mempercayai seseorang tanpa tahu kebusukannya, terlebih Harun pria yang mudah bersimpati pada siapapun, termasuk pada seorang perempuan.
"Haura, maaf semalam karena aku membohongimu."
"Tidak apa-apa, aku mengerti kok," sahut Haura.
Wanita itu mengangkat kepalanya tapi bukan menatap Ezra, melainkan Diana yang masih saja menatap Ezta tanpa berkedip.
"Diana, hati-hati ya di jalan, jangan ngebut-ngebut." Beralih pada Ezra. "Makasih sudah berusaha mempersatukan aku dan mas Harun, tapi maaf aku tidak bisa."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Haura langsung masuk ke pagar kontrakan lalu menutupnya, membuat Ezra dan Diana mengheningkan cipta di tempat.
"Dokter Ezra?"
"Hm."
"Apa dokter punya pacar?" tanya Diana langsung pada intinya.
"Jutek banget, padahal sama kak Haura tidak," omel Diana ikut meninggalkan gang tersebut, sebelum para pelangang menelpon dan mengomelinya sebab telambat mengantar donat-donatnya.
***
Jam 3 sore, barulah Diana kembali kekontrakan Haura untuk membawa uang dari para pelangaan. Gadis cantik itu duduk sila di hadapan Haura yang tengah menjahit sesuatu.
"Kak."
"Hm."
"Yang namanya dokter Ezra, itu apanya kakak?" Diana semakin merapatkan tubuhnya, gadis itu sangat penasaran dengan pria bernama Ezra dan segala tingkahnya.
Baru kali ini Diana ingin mencari tahu seorang pria, biasanya prialah yang mencari tahu tentangnya.
Haura yang ditanya lantas menghentikan pekerjaanya, menatap Diana yang sedang mengigit bibirnya pelan.
"Dia sahabat suami aku, kenapa? Kau menyukainya?"
"Tidak!" Diana buru-buru mengelengkan kepalanya. "Ak-aku hanya penasaran saja. Apa aku boleh meminta nomor telponnya?"
Kening Haura mengerut, baru kali ini dia melihat sikap Diana yang sangat aneh.
"Untuk apa?"
"It-itu, tante aku lagi hamil kayak kak Haura, terus dokternya lagi keluar negeri, jadi rencananya mau rekomendasiin dia." Satu kebohongan berhasil keluar dari mulut Diana.
Namun, sepertinya Haura percaya-pecaya saja, terbukti wanita itu mengambil ponselnya dan mencari nomor Ezra yang tidak dia simpan selama ini.
Setelah mendapatkan, barulah Haura memberikannya pada Diana.
"Makasih kak Haura, kakak baik banget deh, jadi makin sayang." Tanpa abah-abah Diana langsung memeluk tubuh Haura sakin bahagianya.
Sepanjang mengantar paket, bahkan saat berada di kempus pikiran Diana hanya tertuju pada Ezra saja, itulah mengapa memberanikan diri meminta kontaknya pada Haura.
"Dah kak Haura!" teriak Diana menutup pintu asal.
"Waalaikumsalam."