Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 82 ~ Tabir Pernikahan


Hari libur adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Harun agar bisa menghambiskan waktu bersama istri tercinta tanpa adanya omelan apapun.


Pagi-pagi bukannya sarapan, Harun malah bermanja di pelukan Haura tanpa ingin beranjak dari ranjang, bahkan saat omelan dan rengekan terdengar dari bibir istrinya.


"Mas Harun, aku harus masak. Kalau mas ngantuk tidurlah sendiri," pinta Haura menepuk-nepuk kepala bagian belakang Harun pelan.


Sementara Harun tampak menikmati dengan bersembunyi di balik hijab yang dikenakan Haura. Wanita itu baru saja dari luar memberi makan para kucing-kucing di depan rumah yang selalu datang setiap harinya.


"Mau sama kamu, Sayang."


"Mas!"


"Pokoknya mau tidur sama kamu. Sampai jam 10 saja setelahnya ...."


"Setelahnya?"


"Setelahnya jalan-jalan beli sesuatu yang mungkin kamu butuhkan. Kayaknya gamis kamu banyak yang kekecilan karena abang."


"Masih banyak yang muat kok mas, lagian ...."


"Nurut sama suami kalau tidak mau durhaka!"


"Baiklah, sekarang mas tidur cepat jangan nakal, apalagi tangannya!" Menepuk pelan tangan Harun yang mulai mengelus perutnya yang membuncit. Sementara Harun tampak tuli, terus melakukan hal yang dia sukai sendiri.


***


Kediaman Ezra


Seperti biasa, sarapan di meja makan sudah menjadi rutinitas keluarga Ezra sebelum meninggalkan rumah. Detingan demi detingan sendok terus saja saling bersahutan satu sama lain.


Sesekali perkataan Azalea terdengar, entah sekedar bertanya tentang hubungan lebih lanjut kakaknya, atau kegiatan orang tuanya untuk hari ini.


Beberapa hari yang lalu keberangkatan Azalea tertunda sebab adanya perubahan beberapa jadwal dari pihak universitas.


"Hari ini Ezra mau lamar Diana!"


Uhuk


Azalea dan kedua orang tua Ezra tampak terkejut. Menyemburkan makanan yang berada di mulut masing-masing. Tidak ada angin tidak ada hujan, Ezra mempercepat lamaran dari hari yang seharusnya.


"Tidak perlu membawa apapun, aku sudah menyiapkan semuanya," sahut Ezra tanpa ekspresi.


Orang tua pria itu hanya menghela nafas panjang sebelum menyetujui keinginan sang putra. Toh tidak masalah bagi mereka, lebih cepat pernikahan terjadi maka akan jauh lebih baik. Bukannya niat baik tidak bisa ditunda terlalu lama?


***


Kediaman Diana.


Seorang gadis tengah mematut dirinya di depan cermin yang memuat seluruh tubuhnya. Gadis itu adalah Diana. Sudah bangun sejak jam 5 subuh, tidak lupa mandi dan bersiap-siap.


Namun, hingga jarum jam menunjukkan angka jam 10 pagi, Diana belum juga selesai dengan penampilannya.


"Susah banget sih ketimbang pakai hijab doang!" gerutu Diana melempar beberapa hijab dengan warna hampir mirip ke atas ranjang.


Gadis itu memutuskan untuk merubah penampilan dan gaya hidupnya yang tidak baik, terlebih Diana tahu itu dosa dan salah, sayangnya hati gadis itu baru tergerak sekarang untuk berubah.


Setelan rok hitam dengan baju kaos senada yang kaki bajunya berada di dalam, itulah penampilan Diana sekarang. Jujur saja semuanya terasa aneh, tapi dia berusaha meyakinkan diri sendiri agar tidak goyah dengan tekadnya.


"Diana, ada tamu dibawah nyariin kamu!" Suara bunda Dian terdengar di balik pintu, membuat gadis itu menyambar asal hijab lalu melilitkan di kepala tanpa peniti dan dirapikan lebih dulu.


"Iya Bunda!" sahutnya.


Diana berlari ke lantai bawah untuk menemui tamu yang dimaksud bundanya. Langkah gadis itu berhenti tepat di anak tangga terakhir melihat siapa yang duduk di sofa bersama bundanya.


"Dokter Ezra?" guman Diana dengan langkah pelan mendekati bundanya. Tatapannya tidak pernah lepas pada pria yang sejak tadi melirik jarum jam ditangannya.


Ezra bukan hanya datang bersama keluarga, ada Harun dan Haura yang ikut serta di antara mereka.


Susah payah Diana menelan salivanya ketika tapannya dengan Ezra bertemu dan saling terkunci satu sama lain.


"Diana, ini pacar kamu datang katanya ...." Bunda Diana menganga tidak percaya melihat penampilan putrinya yang sangat berbeda 89%. "Tumben?" Melirik Diana menyelidik, terlebih wanita paruh baya itu juga tidak pernah melakukan hal serupa. Bunda Diana mudah gerah dan kepanasan kalau saja memakai sesuatu yang sangat tertutup.


...****************...


Maafin otor karena nggak up kemarin, kali ini harus ramai😕