Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Part 24 ~ Tabir Pernikahan


Pagi yang harusnya cerah agar menjadi semangat baru bagi para pekerja, malah gerimis yang membuat siapa saja akan bermalas-malasan di balik selimut seperti yang sedang di lakukan Harun saat ini.


Pria itu tidak kunjung bangun meski jarum jam sudah menunjukkan angka 7 pagi, kalau saja bukan ketukan pintu yang terdengar, mungkin pria itu tidak akan membuka matanya.


Harun mengerjap perlahan sambil mengusap matanya yang terasa perih karena dipaksa terbuka. Pria itu menyingkirkan foto pernikahannya dengan Haura agar kacanya tidak pecah, berjalan menuju pintu lalu menyembulkan kepalanya dengan rambut acak-acakan.


"Kenapa?"


"Bu Elena sudah menunggu pak Harun di meja makan," ucap pembantu.


"Hm." Harun kembali menutup kamarnya dan masuk ke kamar mandi.


Pria itu sebenarnya sangat sudah dibangungkan, apalagi jika tidur lewat dari jam 12 malam, terlebih sekarang sedang gerimis.


Setelah perasaanya cukup membaik, Harun menghampiri Elena di meja makan tanpa kehadiran Vivian.


"Vivian mana?"


"Dia belun keluar kamar Nak, ayo sarapan dulu."


Harun mengangguk dan mulai menyantap hidangan di atas meja, sesekali menyahuti pembicaraan Elena yang terus menjurus ke hal-hal pernikahan.


Hingga dimana pegerakan tangan Harun harus berhenti mendengar penuturan Elena.


"Bagaimana dengan keputusan kamu Nak? Bunda tidak masalah jika Vivian menjadi istri keduamu, asal mentalnya tidak terguncang karena kejadian semalam."


"Beri aku waktu untuk berpikir lagi Bunda. Sekarang aku dan Haura belum resmi bercerai, aku akan bicarakan ini padanya dulu."


"Kenapa harus bicara padanya? Bukankah dia telah mengkhianatimu Nak? Apa kau akan merendahkan harga diri demi wanita sepertinya?" Elena mulai mempengaruhi pikiran Harun lagi agar membenci Haura.


Dan sepertinya Harun mulai termakan omongan, terlihat dari mimik wajahnya yang tiba-tiba berbeda.


"Aku tidak percaya Haura melakukan hal sehina itu Bunda. Semakin hari, keraguan dihatiku semakin memudar."


Elena menghela nafas mendengar pengakuan Harun, ada gurat kekecewaan di dalam pencaran mata wanita paruh baya itu. Belum lagi dadanya bergemuruh karena amarah.


Elena memaksakan senyumnya pada Harun. "Bagaimana bisa kau ragu padahal jelas-jelas dia telah tidur dengan pria lain." Wanita paruh baya itu mengenggam tangan Harun dengan mata barembun.


"Tolong bunda untuk yang satu ini Nak. Bunda hanya memiliki Vivian, kalau dia kenapa-napa bunda tidak tahu harus melakukan apa. Ayahmu sudah meninggal, bunda tidak mau ditinggal oleh orang tersayang untuk kedua kalinya," bujuk Elena.


Harus menghela nafas panjang, rasanya tidak tega melihat bundanya memohon seperti ini. Dengan ragu, pria itu menganggukkan kepalanya.


"Pernikahan akan dilakukan 2 minggu lagi, hanya dihadiri kerabat dekat saja!" ucap Harun dan meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapannya.


***


Bisa bertemu sebentar? Aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.


Haura terus memandangi ponselnya, dimana berisi pesan yang baru saja di kirimkan oleh Harun. Wanita itu penasaran hal penting apa yang ingin dikatakan suaminya sehingga meminta bertemu.


Apa Harun akan benar-benar meninggalkannya?


Wanita itu mengelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran negatif yang berada di kepalanya. Dia lantas membalas pesan dari sang suami.


Dimana Mas? Sebutkan saja tempatnya, aku akan datang.


Usai membalas pesan, Haura segera bersiap-siap, tidak lupa memoleskan sedikit liptin di bibir agar tidak terlalu pucat.


Wanita itu berjalan keluar dari pagar menuju halte cukup jauh untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat tujuan.


Detakan jantung Haura sepanjang perjalanan serasa tidak normal, sehingga selalu melafalkan istighfar berulang kali.


Lama berkendara, akhirnya Haura sampai di tempat tujuan, memasuki Cafe di mana seorang pria tengah duduk membelakanginya. Dari postur tubuh saja Haura sudah dapat menebak siapa pria tersebut.


"Maaf, aku sedikit terlambat karena busnya ...." Haura terdiam, tatapannya bertemu dengan manik tajam Harun ketika pria itu langsung mengusap keringat di keningnya tanpa izin.


Tersadar apa yang dilakukan Harun, Haura segera menyingkirkan tangan pria itu.


"Aku bisa mengeringkannya sendiri, Mas," ucap Haura mengambil tisu lalu mengusap keningnya dengan tisu.