Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan
Novel baru


Judul: Pangeran Berkuda Besi


Author: Avegas


Jarum jam telah menunjukkan angka 12 siang. Terik matahari kian menyengat kulit, terlebih untuk orang yang sedang melakukan aktivas di luar rumah. Di saat jam seperti ini, semua siswa akan mulai gusar menatap pintu kelas lantaran mulai bosan dan merasakan panas tiada tertahankan.


Berbeda dengan pria berjaket hitam dengan lambang api membentuk bintang di punggungnya. Alih-alih berada di sekolah, pria tersebut malah menyerang markas salah satu musuh hanya karena amarah yang menguasai.


Pria itu adalah Kenzo Levin Adreas, ketua Avegas angkatan 13. Dia bolos sekolah bersama-sama teman-temannya, padahal para orang tua mengharapkan mereka ada di sekolah.


"Berani mengusik?" Teriakan Kenzo mengelegar setelah berhasil menghabisi geng Wiltar di kandangnya sendiri.


"Pulang tinggal nama!" sahut anggota Avegas yang berada di belakang Kenzo.


Pria itu dan anggotanya segera meninggalkan markas Wiltar, setelah berhasil melumpuhkan. Motor-motor besar mulai menguasai jalan raya yang teramat sepi, lantaran semua orang mungkin sibuk pada dunia masing-masing.


Deruman motor terus bersahut-sahutan, dan perlahan-lahan menghilang setelah mereka sampai di perpatan jalan menuju sekolah masing-masing. Kenzo melambaikan tangannya pada anggota yang bersedia membantunya.


"Hati-hati!" teriak Kenzo, dan dijawab anggukan kepala oleh para anggota.


"Gue juga cabutlah, belum ketemu my baby soalnya," celetuk Hendry, wakil Avegas sekaligus sahabat Kenzo.


"Siap, gue mau langsung pulang aja."


"Ketahuan bolos dong?"


"Surat panggilan orang tua udah ada di rumah, ngapain takut?" Kenzo senyum jenaka. Keduanya berpisah di perpatan jalan lantaran mempunyai tujuan yang berbeda.


Jalanan yang sepi membuat Kenzo leluasa melajukan motornya dengan kecepatan sesuka hati. Namun, laju motor itu perlahan-lahan menurun saat akan memasuki jembatan cukup panjang dan dilalui banyak kendaraan. Tetapi berkat motor yang melalu secara pelan, Kenzo dapat melihat seorang gadis dengan seragam sekolah sama dengannya, sedang mamanjat pembatas jembatan.


Tidak ingin laut yang dia damkan di cemari, pria itu segera menghentikan motornya. Berusaha memyebrang jalan meski lalu lalang kendaraan seakan tidak memberikan kesempatan.


Sementara di sisi lain, tepatnya seberang jembatan. Gadis itu telah berada di pembatas jembatan. Merentangkan tangan dengan mata terpejam. Air mata terus berjatuhan di pelupuk gadis berseragam SMA Angkasa tersebut. Gadis itu bernama Vanessa.


Setiap kali dia menarik napas, hinaan dan berbagai ucapan kebencian kembali bermunculan dalam otak gadis tersebut. Hinaan di mana dia tidak pantas bahagia. Aib sekolah dan banyak lagi.


"Ini semua karena papa! Hidup Vanessa dan mama hancur karena papa!" teriak Vanessa dengan suara lantangnya.


"Andai papa nggak ngalakuin itu, Vanessa mungkin bisa hidup tenang. Lihat aja, Eca bakal buat papa merasa bersalah seumur hidup!"


Vanessa menarik napas dalam-dalam, naluri gadis itu sekan menyuruhnya segera melompat pada laut yang kedalamannya tidak bisa dihitung oleh logika manusia. Perlahan-lahan, Vanessa menghuyungkan tubuhnya, sehingga tubuh langsin itu mulai melayan di udara dan bersiap mendarat di lautan biru tersebut.


Namun, pergerakan tubuh Vanessa berhenti ketika tangan kekar berhasil mengapai tangannya. Tatapan tajam itu, berhasil menyadarkan Vanessa atas apa yang baru saja dia lakukan.


"Ke-kenzo? Kenapa lo nolong gue? Bukannya lo salah satu orang yang mau gue mati?" tanya Vanesa, tetapi Kenzo bergeming.


Pria itu hanya fokus mengenggam tangan Vanessa agar tidak terjatuh.


"Lo bebas mau bunuh diri, tapi jangan coba cemari laut ini! Kalau benar-benar serius, sana berdiri di rel kereta api!" ketus Kenzo.


Urat-urat di leher dan lengen pria itu mulai menonjol saat mengerahkan semua kekutannya untuk mengembalikan Vanessa ke tempat semula. Beberapa menit, akhirnya Kenzo berhasil menyelamatkan gadis itu.


"Ma-makasih, tadi gue ...."


"Nggak butuh penjelasan," ucap Kenzo dan berlalu pergi, bahkan dia tidak mempertanyakan kondisi Vanessa.


Pria itu sangat membenci orang yang menyia-nyiakan hidupnya, lalu putus asa dan memilih bunuh diri. Tidak tahuka mereka, bahwa di luar sana banyak orang yang ingin hidup sehat, tanpa bayangan kematian yang menghampiri setiap harinya. Kenzo salah satu orang yang mengingkan hidup tersebut.


***


Kenzo, pria itu merebahkan tubunya di ranjang empuk setelah sampai di kamar. Tawuran hampir setengah jam, membuat tubuhnya terasa sangat pegal. Belum lagi dia mendapatkan beberapa pukulan di wajah, sehingga wajah tampan putra tunggal Keenan, ternoda.


Pria itu perlahan-lahan memejamkan matanya untuk menguasai rasa sakit di seluruh tubuh. Baru saja akan terbang ke alam mimpi, suara ketukan pintu terdengar beberapa kali.


"Kenzo, kamu tidur?" tanya wanita paruh baya yang berdiri di balik pintu.


"Nggak, Ma. Masuk aja," sahut Kenzo, tanpa membuka matanya.


Wanita yang berada di depan pintu, akhirnya masuk dan berjalan perlahan menghampiri Kenzo. Dia duduk di sisi ranjang, tepat di samping sang putra.


"Akhir-akhir ini, mama perhatikan kamu pulang cepat terus. Ada masalah, Nak?" tanya Glora.


"Nggak ada."


"Masih sedih karena Kenzi?"


Mendengar nama Kenzi disebut, Kenzo lantas membuka kelopak matanya. Menatap sang mama dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Nggak."


"Baguslah, mama takut kalau aja kamu masih sedih karena dia, Nak. Oh iya, mama masak makanan kesukaan kamu hari ini, mau makan sekarang?"


"Dua-duanya."


"Kenzo ngantuk, Ma. Nanti Kenzo nemuin papa setelah bangun tidur." Tanpa menunggu jawaban mamanya, Kenzo merubah posisi membelakangi wanita paruh baya tersebut.


"Anak bandel," gumam Glora seraya mengeleng. Dia lantas meninggalkan kamar putranya, dan menemui sang suami yang tengah menunggu di ruang keluarga.


Glora duduk di samping suaminya, memeluk pinggang pria paruh baya itu cukup erat. Menumpu dagu di dada bidang Keenan.


"Anaknya mana?"


"Katanya mau tidur siang dulu."


"Ya udah nggak papa. Mungkin Kenzo juga lagi lelah."


Glora mendongak. "Papa nggak ada curiga gitu sama tingkah putra kita? Akhir-akhir ini dia kayak hilang kendali. Sering bolos, dapat masalah di sekolah, dan pulang larut malam dengan luka di wajah."


Keenan mengelengkan kepalanya sebagai jawaban, pria paruh baya itu mengusap pipi sang istri dengan senyuman.


"Namanya juga anak muda, Sayang, terlebih Kenzo ketua geng motor. Dia punya tanggung jawab besar. Lagian sekarang mungkin Kenzo butuh waktu buat jernihin pikiran setelah kepergian Kenzi tiga bulan yang lalu."


"Tapi aku takut. Kenzo kalau ada masalah nggak pernah cerita sama kita."


"Ck, perhatian banget sama anak, tapi sama suaminya aja boro-boro." Keenan menjawil hidung mancung Glora, sehingga regutan kesal terdengar di ruangan tersebut.


Namun, bukannya berhenti, Keenan malah semakin menggoda istrinya habis-habisan.


***


Seperti janji yang telah Kenzo ucapkan pada mamanya, pria itu keluar kamar setelah menadi sore. Dia akan menemui sang papa tanpa ada keraguan dan rasa takut dalam dirinya. Langkah pria itu berhenti di anak tangga ketika melihat Glora melintas sambil membawa secangkir kopi di atas nampang.


"Ma, papa di mana?" tanya Kenzo, tidak lupa pria itu menyugar rambut setengah basahnya.


"Kebetulan ada kamu." Glora menghentikan langkahnya, menunggu Kenzo menghampiri. Dia menyerahkan nampang tersebut pada Kenzo dengan senyuman di wajah cantik nan ayunya. "Papa kamu ada di ruang kerjanya, sekalian bawa kopi ini buat papa! Mama ada urusan bentar sama tetangga," ucap Glora.


"Sering banget nitip-nitip," sindir Kenzo. Meski begitu, tetap membawa kopi tersebut menuju ruangan papanya.


Kenzo mengetuk pintu sebanyak tiga kali sebelum membukanya dengan kaki. Dia meletakkan secangkir kopi tepat di samping laptop Keenan, sehingga berhasil mengambil atensi pria paruh baya itu.


Keenan lantas saja melepas kacamata baca di wajahnya, tidak lupa menutup laptop dan menatap Kenzo dengan tatapan teduh. Keenan mengeluarkan tiga amplop putih dengan isi yang sama. Dia mendapatkan 3 bulan berturut-turut.


"Kenapa?" tanya Keenan, sementara yang ditanya fokus membaca amplop tersebut.


Isi amplop itu tentu saja surat panggilan orang tua karena kenakalan Kenzo di sekolah.


"Maaf, harusnya Kenzo nggak hilang kendali," ucapnya.


"Sampai kapan?"


"Kenzo nggak bisa mastiin, Pa, tapi nggak dalam waktu dekat."


Keenan menghela napas panjang mendengar penuturan putra satu-satunya. Tidak ingin berdebat, Keenan menurunkan tiga surat panggilan tersebut, lalu kembali menatap Kenzo. Kini tatapan serius Keenan layangkan.


"Papa nggak keberatan kamu nakal di jalanan. Papa dukung kamu jadi ketua geng motor yang telah papa bangun saat muda, tapi tolong perhatikan pendidikan kamu, Nak. Jangan buat mama dan papa khawatir," pinta Keenan.


"Papa pernah muda, papa tahu balapan dan bolos sekolah adalah hal yang menyenangkan, tapi lakukan sesekali saja, imbangi dengan pendidikan."


"Kenzo tahu."


"Mau berhenti?"


"Nggak! Kalau papa udah bicara, Kenzo mau pergi. Oh iya, Papa tenang aja, Kenzo nggak bakal buat mama dan papa kecewa."


Usai mengatakan hal tersebut, Kenzo segera meninggalkan ruang kerja papanya. Kesal? Kenzo sama sekali tidak kesal mendapatkan ceramah dari Keenan, bahkan dia senang mempunyai papa sepengertian pria paruh baya itu.


Alih-alih menghakimi segala kenakalan Kenzo, Keenan sering kali bertanya apa alasan dibalik Kenzo seperti itu. Bahkan Keenan menawarkan bantuan pada putranya jika geng yang Kenzo pimpin mengalami jalan buntu.


Langkah Kenzo yang hendak menuju dapur, berhenti lantaran mendengar ponselnya yang tiba-tiba berdering. Dengan sigap dia menjawab panggilan tersebut. Duduk di pembatas sofa dengan benda pipih berada di telinga.


"Kenapa?" tanya Kenzo.


"Dimitri ngajak adu tinju liar, terima apa kagak? Dia maunya lo yang jadi lawan."


"Terima!"



...****************...


Cerita di atas, cerita anaknya Keenan dan Glora ya. Jangan lupa mampir ya👍