SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Menuju Lingkungan Baru


Malam datang. Pak Risman sudah mempersiapkan dagangannya di pinggir jalan. Benar saja, pelanggan pertama yang datang merupakan seorang pria muda penjual rumah. Ia duduk di bangku, menunggu pesanannya. Sembari melihat-lihat keadaan sekitar, ia mulai menawarkan rumah yang akan dijualnya.


"Pak, gimana soal rumah yang saya tawarkan tempo hari? Bapak setuju mau membeli rumah itu? Sebenarnya itu rumah peninggalan kakak saya, daripada kosong, lebih baik saya jual. Soalnya saya udah punya rumah di daerah sini. Kalau masalah dekat tempat usaha, tentu aja dekat, Pak. Rumah itu agak dekat ke daerah pasar," jelas pria muda itu.


Tak lama kemudian, Pak Risman selesai membuatkan pecel lele untuk pelanggan pertamanya. Ia menaruh sepiring nasi dan sepiring pecel lele. Selanjutnya, pria paruh baya itu duduk berhadapan dengan pelanggannya.


"Baiklah, tapi soal sertifikat tanah dan harganya gimana? Harganya masih bisa nego, nggak?" tanya Pak Risman.


"Kalau masalah harga, Bapak maunya berapa? Kalau sesuai dengan harga pasar, saya mau. Asalkan tidak anjlok dari harga pasar aja. Saya juga butuh uang buat beli sawah di sekitar sini, Pak," jelas pria muda itu, lalu melahap makanannya.


"Kalau sertifikat tanahnya ada nggak? Saya juga yang mau spesifikasinya lebih jelas, Pak," ucap Pak Risman.


"Tenang saja, Pak. Saya juga jual rumah bukan buat tipu-tipu. Sertifikat tanah sampai surat pajak pun masih ada di rumah. Bapak nggak usah ragu lah," jelas pria muda itu.


"Ngomong-ngomong, rumahnya kayak gimana, sih? Saya jadi penasaran bentuk sama ruangannya sebesar apa," tanya Pak Risman.


"Rumah tipe dua satu, Pak. Kamarnya dua, ada ruang tamu sama ruang keluarga. Ada dapur sama kamar mandi juga, kok. Kemarin-kemarin saya sudah cor bagian atasnya, buat jemur baju, soalnya rumah itu masuk sedikit ke gang yang lumayan sempit, jadi cuma ada sedikit halaman buat jemur baju," jelas pria itu sembari mengunyah makanan.


"Kira-kira harganya berapa?"


"Buat Bapak, saya kasih harga pasarnya aja deh, dua ratus lima puluh atau tiga ratusan lah," jawab pria itu dengan enteng.


"Aduh, Pak. Bisa dikurangi lagi nggak? Soalnya saya juga butuh biaya buat anak-anak ngelanjutin sekolah. Gimana kalau dua ratus aja?" tawar Pak Risman.


"Aduh, Pak. Tambahin sedikit aja lah. Lagian rumahnya udah dibikin bagus sama saya, udah dirapihin juga. Bapak sama keluarga tinggal nempatin doang, kok," bujuk pria penjual rumah itu.


"Bapak maunya berapa? Dua ratus dua puluh?" tanya Pak Risman lagi.


Pria muda itu mengangguk. "Besok Bapak ke rumah saya aja, deh. Kita bicaranya di sana biar enak. Ini alamat rumah saya," ucapnya sembari memberikan kartu nama.


"Baik, Pak. Saya usahakan besok bisa ke sana," pungkas Pak Risman.


Berselang beberapa menit, pelanggan lain bermunculan. Pantas saja jika pria muda itu enggan melanjutkan pembicaraannya. Selain itu, Pak Risman juga dibuat sibuk oleh pesanan para pembeli yang datang satu per satu. Seperti biasa, dagangannya laris manis, sampai-sampai kewalahan dibuatnya.


Dari jalan menuju permukiman, Bu Inah datang. Ia dengan senantiasa membantu suaminya menghidangkan pecel lele. Kendati setiap hari kedatangan banyak pelanggan dan membuat mereka kerepotan, setidaknya sepasang suami istri itu bersyukur penghasilannya bisa dipakai untuk sehari-hari, bahkan lebih dari cukup.


...****************...


Tiga hari sudah berlalu. Setelah melakukan pengecekan ke calon kediaman barunya, Pak Risman dan penjual rumah sudah sepakat untuk melakukan jual beli. Uang sebanyak dua ratus du puluh lima juta sudah diterima penjual. Pun dengan sertifikat tanah dan bangunan, diterima oleh Pak Risman.


Sebelum pindah rumah, Pak Risman berpamitan pada Haji Gufron yang sengaja datang ke kontrakan untuk menemuinya. Tak hanya itu saja, ia jugaa sangat berterima kasih atas ilmu yang dipelajarinya selama bertahun-tahun dalam berdagang. Di dalam lubuh hati Haji Gufron, sebenarnya sangat kehilangan keluarga Pak Risman, mengingat putri bungsunya sudah membantu sampai kontrakannya bisa laku disewa banyak orang akhir-akhir ini.


"Pak Risman, justru saya yang harusnya banyak terima kasih sama Bapak dan putri bungsu Bapak. Sejak kedatangan kalian, kontrakan saya jadi ramai lagi, bahkan sekarang sudah penuh," ucap Haji Gufron tersenyum simpul.


"Mungkin itu sudah rezekinya Pak Haji punya kontrakan laku disewa. Bukan cuma itu aja, Pak Haji. Usaha pecel lele Pak Haji juga makin ke sini makin maju," puji Pak Risman.


"Ah, Bapak ini bisa aja. Tapi, jujur saja, saya sebenarnya merasa kehilangan kalau keluarga Bapak pindah. Fadil udah pindah ke Bekasi, jadi saya nggak ada temen," ucap Haji Gufron.


"Tenang aja, Pak Haji. Sekarang penghuni kontrakan Bapak udah banyak, mungkin salah satunya ada yang seperti kami juga," kata Pak Risman.


"Kapan-kapan kalau ada waktu, kalian ke sini lagi, ya. Saya bakal seneng kalau kalian main ke sini," ujar Haji Gufron.


"Insya Allah, Pak Haji," sahut Pak Risman.


Semua barang sudah dimasukkan ke mobil bak terbuka. Sukma dan Atikah naik ke mobil, sedangkan Pak Risman serta Bu Inah menaiki motor matic yang beberapa bulan dibelinya. Mereka melambaikan tangan pada pemilik kontrakan. Haji Gufron pun membalasnya dengan gerakan serupa, disertai senyum lebar.


Sukma tak menyangka, ia bersama keluarganya kembali lagi ke Bandung. Kali ini bukan tinggal di perkomplekan elit seperti kediaman Hilman, melainkan permukiman padat penduduk. Meski demikian, Sukma merasa senang, sang ayah percaya padanya dan setuju membeli rumah itu.


Satu jam perjalanan sudah ditempuh. Setibanya di sana, Pak Risman memarkir motornya di pekarangan rumah barunya. Selanjutnya, ia membawa perabotan menuju rumah, dibantu oleh beberapa tetangga yang kebetulan sedang dalam waktu senggang. Pak Risman sangat bersyukur, bertemu dengan tetangga-tetangga yang sangat ramah dan siap membantunya.


Sementara Pak Risman dan Bu Inah sibuk menurunkan perabotan dari mobil, Sukma bersama Atikah pergi ke warung untuk membeli makanan dan minuman. Mereka tampak ceria saat akan menempati kediaman baru. Bagi Sukma, mungkin minuman dingin akan sangat menyegarkan setelah para tetangga dan kedua orang tuanya menurunkan perabotan.


Sesampainya di warung, Sukma mundur kembali. Warung terdekat yang akan dikunjunginya, memiliki aura yang tidak enak. Tentu saja, Atikah merasa heran dengan tingkah adiknya.


"Ada apa, Dek?" tanya Atikah mengerutkan dahi.


"Loh, kenapa?" Atikah masih tidak mengerti.


Tak lama kemudian, Sukma melihat makhluk berbulu lebat dengan ukuran tubuh yang sangat besar turun dari genteng. Gadis itu terkejut, lalu mundur ke belakang. Dari dalam warung, muncul seorang wanita yang membujuk kedua kakak beradik itu untuk belanja.


"Kalian mau beli apa?" tanya pemilik warung.


Atikah yang tak memedulikan sikap aneh adiknya, melenggang santai ke warung. Ia memesan beberapa minuman dingin dan makanan ringan untuk disuguhkan ke para pekerja. Sementara itu, Sukma justru sibuk menghindari depakan tangan makhluk berukuran sepuluh kali lebih besar dari tubuhnya.


Setelah membeli berbagai makanan dan minuman, Atikah segera keluar dari warung. Sukma masih saja melompat dan berlari. Tiba-tiba gerakan tangannya berubah seperti hendak menahan sesuatu di depannya. Dengan sekuat tenaga, Sukma menahan serangan makhluk aneh itu, lalu menarik tangannya. Gadis itu menempelkan tangan pada makhluk yang menyerangnya, hingga akhirnya memenangkan pertarungan. Makhluk itu jatuh terkapar di tanah dan menghilang.


"Dedek, ayo kita pulang!" seru Atikah.


"Bentar, Teh," sahut Sukma sembari berjalan ke warung. "Bu, ada tarajé nggak? Atau tangga alumunium."


"Buat apa, Neng?" tanya si pemilik warung.


"Aku mau coba ngecek ke atas genteng. Mungkin ada sesuatu di sana," jelas Sukma.


"Tapi, gimana kalau Eneng nanti jatuh?" tanya pemilik warung khawatir.


"Ah, jatuh mah ke bawah ini kok. Kalau jatuh ke atas, baru Ibu boleh khawatir," celetuk Sukma.


Pemilik warung terkikih-kikih, kemudian bergegas ke halaman belakang rumahnya. Atikah merasa heran dengan sikap sang adik. Segera ia menghampiri Sukma untuk menanyakan sesuatu yang mengganggu benaknya.


"Dedek ngapain, sih, minjem tangga segala? Emangnya mau nyari apaan di atas atap rumah yang punya warung?" tanya Atikah bernada kesal.


"Tadi Dedek abis berantem sama makhluk tinggi gede. Kayaknya itu yang bikin warung ini auranya nggak enak," jawab Sukma.


"Dedek ini ada-ada aja. Udahlah, mendingan kita pulang," ujar Atikah.


"Tungguin bentar, Teh. Nanggung, nih," bantah Sukma.


Beberapa menit berselang, wanita pemilik warung membawakan tangga bambu untuk Sukma. Tanpa banyak berpikir, gadis itu menaruh tangga di depan genteng, lalu menyuruh Atikah untuk menahannya. Si pemilik warung hanya bisa mengernyitkan kening melihat kelakuan Sukma yang aneh.


Setibanya di atap warung, Sukma membuka genting satu per satu. Tak butuh waktu lama, ia menemukan bungkusan kain. Setelah menemukan sesuatu yang dicarinya, gadis itu menutup kembali genteng, kemudian turun melalui tangga.


Atikah merasa lega, adiknya bisa turun dengan selamat. Baru kali ini ia melihat Sukma berani menaiki genteng. Si pemilik warung merasa penasaran akan sesuatu yang dicari oleh Sukma.


"Huh ... kenapa, sih, ada aja yang iri sama usaha orang lain?" gumam Sukma bernada kesal.


"Ada apa, Dek?" tanya Atikah.


Sukma menunjukkan bungkusan kain kafan berisi tanah merah dan secarik kertas berisi mantra. Pemilik warung terkejut melihat benda di tangan Sukma. Atikah hanya menggeleng lemah, lagi-lagi menemukan kelawuk saat mendapat hunian baru.


"I-itu apa?" tanya pemilik warung gemetar.


"Ini bungkusan yang bikin warung Ibu nggak enak didatengin. Namanya buhul-buhul. Apa Ibu nggak ngerasa kalau ada yang aneh di warung ini?" tanya Sukma.


"Sebenarnya Ibu juga ngerasain hal-hal aneh. Akhir-akhir ini sering sakit-sakitan, terus kalau malam suka ada yang ngetuk pintu, tapi orangnya nggak ada," jawab pemilik warung.


Sukma mengangguk takzim. "Ibu punya korek api sama wadah kecil buat tanahnya, nggak? Aku mau bakar benda ini. Kalau dibiarin, nanti makhluk itu datang lagi."


Pemilik warung itu mengangguk, kemudian masuk ke warung untuk mengambil korek dan wadah kecil. Atikah masih merasa heran dengan benda yang dipegang oleh adiknya.


"Dek, gimana Dedek bisa tahu kalau ada benda itu di genteng warung?" tanya Atikah mengernyitkan kening.


"Pengalaman, Teh. Dulu waktu kita pertama kali tinggal di kontrakan Pak Haji juga nemu benda yang kayak gini. Awalnya Dedek juga nggak tahu ini apaan, tapi makin ke sini makin ngerti, kok," jelas Sukma.


Pemilik warung datang membawa korek dan wadah kecil. Tanpa waktu lama, Sukma mengeluarkan isi bungkusan itu ke dalam wadah kecil bekas makanan ringan, kemudian membakar kain kafan serta secarik kertas di dalamnya. Atikah dan pemilik warung disuruh membaca doa selama proses pembakaran itu.


Di seberang jalan, pemilik warung lainnya memperhatikan gerak-gerik Sukma. Ia merasa kesal, buhul-buhul yang ditaruhnya di warung saingan, telah dimusnahkan. Dengan melipat kedua tangan, ia berpikir untuk mengusir keluarga gadis yang baru pindah itu secepatnya.


Sementara itu, Sukma meminta untuk ditunjukkan jalan ke arah kuburan. Pemilik warung menunjuk arah menuju kuburan, lalu Sukma pergi membuang tanah merah di wadah kecil. Atikah meminta untuk pulang duluan dan Sukma pun mengizinkannya. Gadis itu sudah berani melakukannya sendiri tanpa rasa takut, walaupun tahu bahwa si penaruh buhul-buhul tidak menyukai keberadaannya di lingkungan tempat tinggal barunya.