SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kumpul Keluarga


"Wis, Risman. Ora paksa anakmu. Bokat ika masih isin karo Emak," ujar Emak pada putranya. (Sudahlah, Risman. Jangan paksa anakmu. Barangkali dia masih malu sama Emak.)


"Aduh, ngapunten, Mak. Nggak biasanya Sukma begitu," ucap Pak Risman sungkan.


Emak hanya mengulas senyum di bibirnya, lalu melengos ke ruang keluarga. Sementara itu, Sukma kembali dari persembunyiannya, memastikan wanita tua itu sudah pergi. Ketika ia duduk kembali di sofa, Bu Inah duduk di sampingnya dengan kening berkerut.


"Dek, kenapa Dedek bersikap kayak gitu sama ibunya Bapak? Dia juga orang tua, harus Dedek hormati," ujar Bu Inah.


"Nggak mau, Bu. Dedek takut sama nenek itu. Tadi waktu di bus, Dedek mimpiin dia. Mukanya serem," kata Sukma.


"Hus! Dedek jangan bilang gitu. Gimana kalau Nenek denger ucapan Dedek?" tegur Bu Inah menatap kedua mata putrinya lekat-lekat.


Untuk mencairkan suasana, Atikah menghampiri Sukma dan mengajaknya main di luar. Bu Inah setuju dengan pendapat Atikah dan mengizinkan si bungsu bermain dengan kakaknya. Sementara itu, Pak Risman membuka tas dan mengambil buah-buahan untuk Emak. Ia berjalan menuju dapur, tempat Emak dan Bi Neneng menyiapkan makanan.


Adapun Bi Neneng dan Emak yang sejak tadi terkejut dengan kedatangan Pak Risman, berdiri di salah satu sudut dapur. Mereka membicarakan tentang keberhasilan Pak Risman setelah bertahun-tahun lamanya. Selain memiliki ongkos untuk pulang ke rumah, Bi Neneng juga heran, Pak Risman sudah dikaruniai anak.


"Aku benar-benar nggak ngerti, Mak. Gimana caranya si Risman bisa sukses di kota dan memiliki anak, sedangkan dari dulu aku, Teh Yati, Kang Seto, dan Kang Agus ngirim dia guna-guna? Bahkan, si Inah itu sudah diyakini nggak bakal punya anak," cerocos Bi Neneng dengan suara lirih.


"Ssst! Risman sedang ke sini," tegur Emak.


Tak lama kemudian, Pak Risman muncul dari balik palang pintu. Ia tampak semringah menenteng dua keresek berisi jeruk dan mangga. Ditaruhnya buah tangan itu di dipan, lalu duduk memandang ibu dan adiknya yang tampak gelagapan.


"Ini ada sedikit oleh-oleh buat kalian. Maaf, nggak bisa bawa banyak," kata Pak Risman berbasa-basi.


"Nggak apa-apa, Kang. Melihat kedatanganmu saja, kami sudah senang," ucap Bi Neneng.


"Risman, arep mangan apa?" tanya Emak sambil bergegas pergi ke kamar untuk mengambil dompet. (Risman, mau makan apa?)


"Nggak perlu repot-repot, Mak. Saya dan keluarga sedang puasa," sanggah Pak Risman.


Bi Neneng tersenyum sinis. "Aduh, maaf, ya, Kang, tadi aku malah nyuguhin air minum. Aku kira kalian nggak puasa."


"Nggak apa-apa," ucap Pak Risman.


"Tapi Emak tetap akan belanja dulu ke warung, siapa tahu saudara yang lain akan datang," kata Emak dari palang pintu.


Bi Neneng lanjut membereskan oleh-oleh dari Pak Risman ke dua wadah. Ia berpikir, bahwa meskipun kehidupan kakaknya mengalami kemajuan, tapi tetaplah seperti orang kampung. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain, hidup mewah dan sering membawa makanan berkelas setiap kali pulang kampung.


Sukma mulai terbiasa dengan suasana di rumah neneknya. Bersama Atikah, ia berlari-lari mengitari pohon di halaman rumah. Akan tetapi, ketika Emak keluar rumah untuk belanja ke warung, Sukma mendadak terdiam dan bersembunyi di belakang pohon.


Melihat kelakuan aneh adiknya, Atikah menghampiri sang adik. Tidak biasanya Sukma yang kerap bersikap pemberani dan lincah, mendadak ciut nyali ketika sang nenek datang. Ditepuknya pundak Sukma, sampai gadis kecil itu menoleh.


"Dek, kenapa Dedek dari tadi kayak ketakutan begitu sama Nenek? Dia bukan hantu kayak Wanara," tanya Atikah tertegun.


"Nenek itu berbeda, Teh. Dia kayaknya bukan orang, Teh, tapi setengah setan," jawab Sukma sambil memandang waspada pada wanita tua itu.


"Emangnya apa yang Dedek lihat dari ibunya Bapak? Ada yang aneh?"


Sukma menatap sang kakak dan mengangguk. "Tadi Dedek lihat badan nenek itu ngeluarin asap hitam dari badannya, terus mukanya ... Dedek lihat setengah mukanya itu nyeremin, matanya ngeluarin cahaya hijau. Kalau nenek itu senyum, senyumnya kayak Buta yang pernah Dedek lihat di gedung tempat nyelametin A Albi," jelasnya.


"Maksud Dedek, nenek itu udah mati, terus hidup lagi kayak zombie?"


"Enggak, Teh. Dedek juga nggak ngerti kenapa badannya jadi separuh setan begitu."


Beberapa menit berselang, satu per satu mobil minibus datang memasuki halaman rumah Emak yang cukup luas. Yang pertama datang berwarna hitam, lalu disusul warna putih. Sukma dan Atikah tercengang melihat pria dan wanita berpakaian rapi dan bersih turun dari mobil bersama anak-anaknya yang berusia kisaran tujuh belas dan dua puluh tahun. Cara mereka berjalan mirip sekali dengan Hilman. Berkelas dan berwibawa.


Dari dalam rumah, tampak Bu Inah muncul sedang menyapu lantai. Kehadiran saudara Pak Risman, membuat dirinya kikuk. Dengan canggung, ia menyalami kakak-kakak ipar dan keponakannya. Tak lama kemudian, wanita paruh baya itu memanggil kedua putrinya yang sedang bermain di halaman.


Sukma dan Atikah berlari menghampiri ibunya. Dengan sopan, Atikah menyalami kedua paman dan bibinya, beserta keponakannya yang sudah remaja. Sementara itu, Sukma melipat kedua tangannya, sambil menatap tajam ke arah orang-orang yang berdiri di hadapannya.


"Loh, Dek. Kenapa kayak gitu? Ayo, salim dulu sama Uwa Dedek! Dedek, kan, anak baik," bujuk Bu Inah.


"Nggak mau, Bu. Bapak-bapak itu dua-duanya jahat. Dedek nggak suka," ucap Sukma dengan cemberut.


"Aduh, maaf, ya. Putri bungsu saya memang pemalu," kata Bu Inah menatap kaka iparnya dengan canggung.


"Nggak apa-apa, kami maklumi, kok. Oh, ya, mana suamimu?" tanya Wa Agus, kakak tertua Pak Risman. Usianya lebih tua tujuh dari Pak Risman, maka tak heran rambutnya sudah tergantikan oleh uban.


"Ada di dalam. Mari masuk!" ujar Bu Inah dengan ramah.


"Gimana kabarmu, Inah? Tumben bisa pulang ke kampung," tanya Wa Seto sebelum masuk ke rumah. Ia merupakan kakak kedua dari Pak Risman. Badannya lebih pendek dari Wa Agus.


"Alhamdulillah, sehat," jawab Bu Inah singkat.


Di dalam rumah, Bi Neneng menyambut hangat kakak-kakaknya dengan pelukan hangat dan senyum semringah. Sikapnya jauh lebih ramah daripada saat menyambut keluarga Pak Risman. Adapun Pak Risman yang baru masuk ke ruang tamu, ikut bergembira melihat kakak-kakaknya yang semakin sukses.


Bu Inah hanya bisa mengelus dada, melihat perilaku kakak-kakak iparnya yang belum saja berubah, meski sudah sepuluh tahun berlalu. Sukma mendelik pada dua pria itu, lalu mencebik. Atikah yang melihat ketidaksukaan Sukma, langsung menyikut adiknya.


"Jangan begitu, Dek. Mereka itu Uwa kita," tegur Atikah.


"Tapi mereka jahat, Teh. Kaya dari bantuan pesugihan aja sombong," cibir Sukma.


"Hus! Jangan keras-keras ngomongnya!" ujar Atikah.


Keluarga Wa Agus dan Wa Seto duduk di sofa, lalu mengambil segelas air yang semula disuguhkan untuk keluarga Pak Risman. Mereka tidak canggung melakukan hal itu, sebab tahu, bahwa di bulan suci ini, Pak Risman berpuasa sebagaimana amanat ayah mereka.


Selesai melepas penat, Wa Agus memandang Sukma dengan sinis lalu tersenyum. Ditatapnya Pak Risman yang masih berdiri di dekat sofa, melihat kakak-kakaknya yang semakin sehat saja.


"Risman, sejak kapan kamu jadi kayak kami? Kamu nggak tahan hidup miskin, ya?" celetuk Wa Agus.


"Kakang ini bicara apa? Saya nggak pernah melakukan hal syirik, kayak amanat Bapak. Sampai kapan pun, saya nggak akan pernah mengingkari janji saya," tegas Pak Risman.


"Kalau kamu masih memegang teguh janji sama Bapak, kenapa bawa-bawa anak itu segala? Aku tahu, dia bukan anak kamu. Lihat aja mukanya, nggak ada mirip-miripnya sama kamu atau Inah," ucap Wa Seto.


"Ah, kalian mungkin salah lihat. Sukma mirip sama saya," kata Pak Risman diselingi tawa kecil.


"Risman, bilang aja kalau sebenarnya kamu malu mengakui anak hasil perjanjian dengan iblis itu. Pantas kamu bisa pulang kampung, kehidupan kamu pasti rada mendingan gara-gara anak itu," ucap Wa Agus menekankan.


Pak Risman tak menggubris ucapan kakak tertuanya. Ia hanya tersenyum, lalu melengos ke kamar bersama Bu Inah. Tak tahan ia mendengar cibiran kakak-kakaknya mengenai Sukma. Sudah sering Pak Risman mendengar bahwa anak angkatnya memiliki keistimewaan. Namun, pria paruh baya itu tak terima jika mendengar putri bungsunya dituduh sebagai hasil perjanjian dengan iblis. Kendati tak mengetahui asal-usul Sukma, Pak Risman hanya meyakini, bahwa kehadiran anak merupakan anugerah terindah dari orang tua.


Sementara Pak Risman pergi ke kamar untuk beristirahat dan Bu Inah membereskan pakaian, Sukma bersama sang kakak kembali bermain di halaman rumah. Kali ini, Sukma mengambil botol kecil berisi Wanara dan mengeluarkan kera kesayangannya. Ketika Wanara berhasil keluar dari botol, tampak Emak melintas di dekat mereka sembari mendelik. Sukma yang mengetahui kehadiran wanita tua itu, lagi-lagi bersembunyi di balik pohon sambil menyeret Wanara.


"Sukma, kenapa kamu bawa aku ke tempat begini?" tanya Wanara gusar.


"Ini rumah ibunya Bapak. Kami lagi pulang kampung," jawab Sukma.


"Astaga! Lebih baik kamu pergi ke tempat lain. Di sini auranya sangat gelap, bahkan lebih gelap dari rumahnya Mbah Suro dan Ki Purnomo," jelas Wanara, melihat-lihat ke sekitarnya.


"Terus, aku harus gimana? Minta Bapak sama Ibu buat pulang ke Padalarang?"


"Pergi ke desa lain saja. Bukankah keluarga ibu kamu tinggal di desa berbeda dari sini? Aku yakin, kediaman orang tua ibu kamu baik-baik saja," saran Wanara.


Sementara itu di dalam rumah, Emak tampak semringah menyambut anak, menantu, dan cucunya yang baru saja tiba dari Jakarta. Ia begitu bangga dengan kesuksesan anak-anaknya. Saking bahagianya, ia bergurau dengan cucu-cucunya sampai tertawa terpingkal-pingkal.


Setelah cukup lama berbincang-bincang, Wa Agus pergi ke dapur, lalu disusul Wa Seto dan Emak. Di sana, mereka bertemu dengan Bi Neneng yang sedang duduk di atas dipan, memetik kacang merah. Emak duduk di samping Bi Neneng, sedangkan Wa Agus dan Wa Seto berdiri di hadapannya. Setelah memastikan keadaan, mereka mulai membuka percakapan.


"Saya nggak suka lihat si Risman datang ke sini. Bukannya mati kelaparan tinggal di kota, tapi malah berangsur baik hidupnya," ketus Wa Seto.


"Tapi seenggaknya dia udah berubah jadi kayak kita," ucap Wa Agus.


"Berubah gimana maksud kamu? Risman masih kayak dulu, memegang teguh janjinya buat tetap lurus," bantah Bi Neneng.


"Neneng benar, Risman masih seperti dulu. Bahkan, dia nggak tahu kalau anak angkatnya itu hasil perjanjian dengan iblis," timpal Emak mengiyakan.


"Lalu, kita harus gimana? Kalau si Risman masih tetap lurus dan nggak mau sejalan dengan kita, udahlah bunuh aja," kata Wa Seto.


"Tidak semudah itu, Seto. Anak angkatnya itu bakal jadi batu sandungan terbesar buat kita. Yang ada, sebelum Risman mati, malah kita yang dibunuh anak itu duluan," kata Wa Agus memperingatkan.


Wa Seto mendengus kesal.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Kang Agus?" tanya Bi Neneng cemas.


"Kalau tujuan kalian ingin memberi pelajaran pada Risman, Emak akan bantu kalian. Tapi, kalau tujuan kalian membunuh Risman, Emak tak mau ikut campur," celetuk Emak memandang kosong.


"Loh, kenapa begitu, Mak?" tanya Wa Seto tercengang.


"Bagaimanapun Risman tetaplah anak Emak. Seberapa keras dia menentang Emak, kematian tidak berhak merenggutnya," jawab Emak menegaskan.


Ketiga kakak beradik itu saling tatap. Rencana membunuh Pak Risman mau tak mau harus diubah. Akhirnya, mereka setuju untuk memberi saudaranya pelajaran daripada membunuhnya.


"Gimana, Mak? Emak mau membantu kami kalau tujuan kami ngasih Risman pelajaran, kan?" tanya Wa Seto.


"Ya."


"Kalau begitu, bantu kami, Mak," pinta Wa Agus.


"Baiklah. Mula-mula, kalian dapatkan dulu bocah bernama Sukma itu. Kita akan menguras semua kekuatannya sampai tidak bisa menyelamatkan orang tuanya," ucap Emak memandang jauh.