SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Percobaan Kedua


Seorang guru pria berlari menggapai Sukma. Ketika berhasil mendapatkan gadis kecil itu, ia segera membawanya kembali ke sekolah. Wanara yang sedang ditarik-tarik oleh pria paruh baya berambut panjang diikat ekor kuda, meronta-ronta meminta pertolongan Sukma. Namun apa daya, temannya tak bisa meraihnya.


Atikah segera memeluk Sukma tatkala adiknya itu tiba di sekolah. Sukma tak berhenti menunjuk-nunjuk pria yang membawa Wanara di seberang jalan. Lambat laun, air mata jatuh membasahi pipinya, sehingga Sukma menangis sejadi-jadinya.


Semua warga sekolah berkerumun melihat gadis kecil itu menangis seraya memanggil-manggil Wanara. Beberapa di antara mereka menduga, bahwa Sukma sudah terserempet mobil, sedangkan yang lainnya hanya bisa memandang iba pada gadis kecil itu. Atikah yang memperhatikan keramaian di sekitarnya, segera membujuk sang adik untuk berhenti menangis.


"Sudah, Dedek. Jangan nangis lagi. Malu tuh dilihatin orang-orang," bujuk Atikah.


"Dedek nggak peduli, Teh. Dedek pengin bawa Wanara kembali. Kasihan, dia kesakitan gara-gara diseret sama bapak-bapak gondrong itu," rengek Sukma sembari menyeka air mata.


"Cup cup cup. Nanti kita cari dia sepulang sekolah, ya. Sekarang Dedek masuk ke kelas, sebentar lagi pelajaran Dedek selesai."


"Tapi Wanara gimana? Gimana kalau nanti dia dipukulin sama bapak-bapak itu? Atau, jangan-jangan bapak-bapak itu kayak dukun di rumahnya Om Hilman. Teteh, Dedek pengin nyelametin Wanara aja."


"Terus, sekolah Dedek gimana? Nanti Bu Guru marah, loh, kalau Dedek pulang lebih dulu dari yang lain. Dedek nggak usah khawatir, Allah jagain dia, kok. Dia nggak akan kenapa-kenapa."


"Beneran, Teh?"


Atikah mengangguk, kemudian merangkul sang adik masuk ke area sekolah. Sukma yang masih penasaran dengan Wanara, sesekali menengok ke belakang. Ia tidak mengerti, ke mana saja Wanara kemarin sampai-sampai ditemukan oleh pria asing itu dengan mudah.


Sementara itu, tak jauh dari tempat Sukma menuntut ilmu, Bu Lastri merasa jenuh menunggu kedatangan dukun langganannya. Sesekali Bu Lastri menguap, merasakan angin sepoi-sepoi yang berembus di teras rumah Ki Purnomo.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya orang yang ditunggu pun datang. Ki Purnomo menghampiri kedua klien-nya, dengan tangan yang mengayun-ayun seperti sedang menarik sesuatu. Bu Lastri berdiri menyambut kedatangan Ki Purnomo dengan ramah.


"Eh, Bu Lastri. Ada masalah apa lagi datang kemari? Maaf, ya, sudah lama nungguin."


"Biasalah, Ki. Suami saya nggak bisa diandalkan. Ki Purnomo dari mana saja?"


"Tadi habis beli sarapan, eh ... malah ketemu sama makhluk pesugihan. Jadi, sekalian saja dia bawa kemari."


Bu Lastri bergidik memandangi Ki Purnomo dari atas kepala sampai ujung kaki. Dilihatnya ke belakang dukun itu, tak ada siapa pun di sana. Ketika Ki Purnomo melintas ke arahnya untuk membuka pintu, barulah bulu kuduk Bu Lastri meremang. Wanita dengan dandanan menor itu mengusap-usap kedua lengannya, sembari mengedarkan pandangan, memastikan bahwa makhluk bawaan Ki Purnomo tidak mengganggunya.


"Mari masuk!" ajak Ki Purnomo.


Maka masuklah Bu Lastri ke dalam ruang tamu, lalu duduk berhadapan dengan dukun langganannya. Terlihat, Ki Purnomo sedang memasukkan sesuatu ke dalam botol kaca berukuran kecil yang sudah diolesi kemenyan bubuk beserta jampi-jampi. Setelah selesai dengan urusan Ki Purnomo, barulah Bu Lastri memberanikan diri untuk mengatakan masalahnya.


"Begini, Ki. Saya ada masalah tadi pagi," kata Bu Lastri.


"Masalah apa? Suami kamu gagal nguburin bungkusannya lagi?" tanya Ki Purnomo.


"Iya," jawab Bu Lastri sembari mengangguk cepat.


"Suami kamu memang payah."


"Bukan itu aja, Ki. Suami saya kepergok sama orang sasaran kami pas mau mengubur bungkusan yang sudah dimantrai ke tanah kontrakannya sasaran kami."


"Astaga! Lalu, apa lagi?"


"Seperti biasa, anak kecil itu memergokinya lagi."


"Siapa? Anak kecil yang tinggal di kontrakan itu?"


"Iya."


"Sial!" Ki Purnomo menggebrak meja.


"Kenapa, Ki?"


"Kalau anak itu tinggal di sana, rencana kamu untuk menjatuhkan si Gufron nggak bakal berhasil," gerutu Ki Purnomo.


"Loh, kok gitu? Emangnya anak itu punya kekuatan istimewa, gitu, buat menggagalkan rencana kami?"


"Bukan kekuatan istimewa lagi, tapi dia memang anak iblis!"


Terperangah Bu Lastri mendengar ucapan Ki Purnomo. "Terus, kita harus gimana, Ki? Naruh jin kiriman, malah kabur. Sekarang, mau ngubur bungkusan aja malah ketahuan."


"Kamu tahu apa lagi yang lebih mengerikan?" tanya Ki Kusumo dengan menatap tajam.


"Apa, Ki?"


"Si Gufron punya backing-an, seorang kyai pula. Kalau kamu mau mengganggu lagi kontrakan dia, maka habislah kita."


"Maksudnya? Kita bakal kalah?"


"Bukan kalah lagi, tapi modar!"


"Memangnya apa yang akan dia lakukan pada kita sampai bakal meninggal segala? Saya benar-benar nggak ngerti."


"Ilmu hitam kalau melawan ilmu putih, bakal berujung kekalahan buat ilmu hitam. Bukan itu saja, kita bisa-bisa meregang nyawa karenanya."


"Kalau begitu, kita harus apa, Ki? Gimana dengan anak iblis itu? Bukankah dia juga menganut ilmu hitam?"


"Ilmu hitam, sih, ilmu hitam. Tapi dia masih kecil, belum lagi didikan dari orang tuanya sudah bagus. Kalau kita sampai mengganggunya, maka akan lebih parah lagi."


"Lalu, saya harus melupakan tujuan saya menghancurkan Haji Gufron, begitu?"


"Kalau kamu ingin selamat, sebaiknya hentikan dan lupakan saja. Mending kamu naruh penglaris saja di kontrakan kamu. Atau, lakukan pesugihan saja, biar kamu makin kaya."


Mendengar percakapan mereka, Wanara semakin yakin bahwa anak kecil yang dimaksud adalah Sukma. Ia berharap, Sukma dapat menemukannya kembali, agar tidak dijadikan makhluk pesugihan lagi. Sesungguhnya, Wanara sudah nyaman tinggal di rumah gadis kecil itu. Selain bisa bermain, ia juga diberi makanan kesukaan setiap harinya.


Selesai dengan urusannya, Bu Lastri berpamitan pada Ki Purnomo. Ia setuju untuk melakukan ritual penglaris di kontrakannya. Selain tak mengambil risiko untuk tewas lebih awal, kekayaannya akan tetap bertambah. Kendati demikian, kedengkian Bu Lastri pada Haji Gufron tetaplah sama.


Sementara itu, Haji Gufron kembali menanyakan perihal kontrakan setelah Kyai Soleh selsesai menjelaskan perihal Habibah yang sudah dikhitbah. Pria berbaju serba putih itu kembali menerawang akan sesuatu yang dilakukan saingan sahabatnya saat ini. Senyum simpul mengembang, hingga menghadirkan sebuah tanya di benak Haji Gufron.


"Gimana, Leh? Apa saat ini mereka tidak berulah lagi?" tanya Haji Gufron penasaran.


"Ah, tidak juga. Sebenarnya istrinya Pak Beni datang lagi ke dukun langganannya," jawab Kyai Soleh.


"Tapi, kalian tenang saja. Dukun mereka rupanya sudah takut lebih dulu sama kuasa Allah. Mereka nggak akan berani lagi gangguin kontrakan kamu, Fron," jelas Kyai Soleh.


"Syukurlah. Eh, tapi ... kenapa dukunnya bisa takut banget, ya? Padahal menurut saya, dia lebih sakti daripada paranormal yang pernah saya mintai tolong," kata Haji Gufron termangu.


"Itu karena dia terjepit di antara dua kekuatan. Yang satu kekuatan Allah, satunya lagi dari anak kecil bernama Sukma itu," tutur Kyai Soleh.


Hji Gufron dan Fadil mengangguk. Mereka bersyukur sudah tidak akan diganggu lagi oleh saingannya yang berada tidak jauh dari kontrakan milik Haji Gufron.


...****************...


Sepulang sekolah, Sukma tak mau pulang ke rumah. Ia merengek pada Bu Inah agar diizinkan untuk mencari Wanara. Ibunya tak menggubris permintaan Sukma, dan terus saja berjalan menuju jalan pulang.


Tak mau menyerah, Sukma berhenti di jalan sambil menarik tangan ibunya. Sikapnya berubah rewel karena keinginannya tak dipenuhi oleh Bu Inah. Wanita paruh baya itu merasa jengkel melihat si bungsu merengek di pinggir jalan sembari duduk menendang-nendang pasir.


"Dedek, ngapain begituan di sini? Malu dilihat orang, loh. Ayo berdiri! Kita pulang aja," ucap Bu Inah sembari berusaha membuat Sukma berdiri.


"Nggak mau, Bu. Dedek nggak mau pulang sebelum jemput Wanara dari bapak-bapak gondrong itu," rengek Sukma, lalu menangis sejadi-jadinya.


"Bapak-bapak gondrong yang mana? Emangnya Dedek tahu rumah bapak-bapak gondrong itu?" tanya Bu Inah, mengangkat ketiak Sukma agar berdiri.


Sejenak, tangisan Sukma terhenti. Gadis kecil itu termenung, lalu menangis lagi, "Dedek nggak tahu, Bu. Tapi Dedek yakin, kita bisa menemukannya."


"Dedek ini gimana, sih? Kalau Dedek nggak tahu tempat tinggalnya, kita mau cari dia ke mana?"


"Pokoknya Dedek pengin cari dia. Dedek lihat bapak-bapak itu lagi jalan kaki di seberang sekolah, pasti dia tinggal di dekat sana, Bu."


Bu Inah mendelik.


"Ayo, Bu, kita cari Wanara! Dedek nggak bakalan diem kalau belum ketemu sama hewan peliharaan Dedek yang bisa ngomong."


Bu Inah melepaskan tangannya dari tangan Sukma. Sembari mengembuskan napas berat, ia teringat kembali pada perkataan Kyai Soleh mengenai Sukma. Bagaimanapun juga, Bu Inah harus tetap merawat kesabarannya agar si bungsu tidak salah jalan.


"Baiklah, Ibu anterin Dedek buat nemuin hewan peliharaan Dedek yang bisa ngomong. Tapi, kalau bapak-bapak itu nggak ketemu, kita pulang. Oke?"


Sukma mengangguk, kemudian berdiri dan menepuk-nepuk rok sekolahnya. Segera ia memegang tangan ibunya dengan wajah semringah. Gadis kecil itu berbalik badan dan berjalan lebih dulu, menuntun sang ibu.


"Ayo, Bu, cepetan! Dedek udah nggak sabar ketemu sama Wanara," ajak Sukma tidak sabar.


"Iya, tunggu dulu. Dedek juga harus dituntun kalau mau nyeberang jalannya," ujar Bu Inah.


Sementara Sukma merasa senang dengan keputusan Bu Inah untuk mengantarnya mencari Wanara, Ki Purnomo masih asyik melihat botol kecil berisi kera yang tak mau diam. Sesekali ia tersenyum bangga akan keberhasilannya mendapatkan kera pesugihan di jalanan. Pria berambut panjang itu juga heran, sebab tak perku lama-lama bertapa di gunung untuk mendapatkan kera itu.


"Ternyata mudah juga mendapatkan kera pesugihan macam kamu. Kenapa kamu berkeliaran di sini? Apa di gunung sudah tidak ada makanan? Apa tidak ada lagi orang yang meminta padamu untuk jadi kaya? Atau jangan-jangan, kamu ini memang tidak berguna?" kata Ki Purnomo disertari tawa puas.


"Lepaskan aku! Kalau tidak, maka kamu akan mendapat balasannya!" teriak Wanara sembari menggedor botol yang mengurungnya.


"Balasan? Apa balasannya? Kamu nggak bisa ngapa-ngapain, tahu! Udah dikurung di dalam botol, masih aja belagu."


"Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Temanku pernah membunuh seorang dukun. Kalau kau macam-macam padaku, maka ajalmulah yang akan datang."


"Oya? Memangnya siapa teman kamu itu? Apa dia lebih sakti dari aku? Mungkin dukun yang kamu ceritakan itu payah. Buktinya bisa dibunuh dengan mudah."


"Kamu benar-benar belum tahu siapa temanku. Dia lebih sakti darimu. Makanya, dukun yang pernah bekerja sama denganku dapat dimusnahkan dengan mudah."


"Oh, begitu, ya? Teman kamu itu anak kecil atau orang dewasa? Lelaki atau perempuan? Aku jadi penasaran ingin bertarung dengannya."


"Dia anak perempuan. Walaupun masih kecil, kamu tidak akan sanggup melawannya. Kulitnya hitam legam, memiliki tanduk di kepalanya, dan taring yang tajam di mulutnya."


"Oh, jadi teman kamu itu dari alam gaib juga, ya. Baiklah, nanti kalau dia kemari, aku akan menjadikannya budak. Sama kayak kamu."


"Bukan. Dia bukan dari alam gaib, melainkan dari alam kamu sendiri."


Ki Purnomo tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Wanara. "Mana mungkin ada anak seperti itu di alam manusia. Kalaupun ada, dia akan dianggap aneh oleh semua orang dan dikenal di mana-mana."


Sementara itu, di depan halaman rumah Ki Purnomo, Sukma dan Bu Inah berhenti sejenak. Keduanya melihat-lihat rumah minimalis dengan dua pohon sawo yang ditanam di halamannya. Hati Sukma berkata, bahwa Wanara ada di dalam saja.


Untuk memastikan dugaannya benar, Sukma memejamkan mata. Pandangannya tertuju pada sebuah ruangan sempit di dalam rumah itu. Terlihat pria berambut gondrong itu duduk di sebuah kursi sambil memegang botol kecil. Bibirnya tersenyum licik, hingga membuat Sukma tidak menyukainya. Ketika penerawangannya tertuju pada botol itu, Sukma melihat Wanara sedang memukul-mukul dinding kaca yang ada di sekitarnya.


Sukma terkejut dan membuka mata. Segera ia menarik tangan ibunya untuk masuk ke halaman rumah itu. Bu Inah yang merasa sungkan untuk datang ke sana, segera menghentikan langkahnya.


"Dedek, nggak sopan masuk ke rumah orang," tegur Bu Inah.


"Tapi Wanara ada di dalam, Bu. Ayo, kita tolong dia!" ujar Sukma mendesak ibunya.


"Gimana kalau dia nggak ada di sana? Dedek jangan bikin malu, ah."


"Wanara ada di dalam, Bu. Dedek lihat sendiri."


Terperangah Bu Inah mendenfar penuturan Sukma. Sekali lagi, ia dibuat percaya oleh perkataan Kyai Soleh tadi pagi. Kendati masih sulit memercayainya, ia berusaha untuk berkompromi pada si bungsu dan melaksanakan kemauannya.


"Ayo, Bu!" ajak Sukma menarik tangan Bu Inah.


"Iya, sebentar."


Ki Purnomo yang mendengar suara anak perempuan dari luar, segera bergegas menuju ruang tamu. Diintipnya dua orang yang sedang berjalan menuju rumahnya itu, dari balik jendela. Pandangannya tertuju pada anak kecil yang sedang menarik tangan ibunya hingga tiba di depan teras rumah.


Sebelum Sukma mengetuk pintu, Ki Purnomo segera membukanya. Pria berambut gondrong itu memasang wajah masam dengan tatapan mata yang tajam. Ia kelihatan tidak suka dengan kehadiran Sukma dan ibunya.


"Siapa kalian? Mau apa datang ke sini?" tanya Ki Purnomo berang.


Bu Inah yang merasa malu dan sungkan, berkata, "M-maaf, begini, anak saya--"


"Mana Wanara? Kembalikan dia sama aku sekarang juga!" potong Sukma bersungut-sungut.


Ki Purnomo menatap Sukma dari atas kepala hingga ujung kaki dengan sinis. Saat mata batinnya terbuka, tampak gadis kecil itu berubah wujud menjadi makhluk yang disebutkan ciri-cirinya oleh Wanara. Gemetar hati Ki Purnomo mendapati anak perempuan aneh di depan matanya. Kini ia percaya, bahwa anak kecil bertanduk yang dimaksud oleh Wanara, memang benar adanya.