
Masih terngiang-ngiang di telinga Sukma tentang ucapan kerabat Pak Risman tadi pagi. Ketidakpercayaan sang ayah terhadap makhluk gaib, membuat gadis kecil itu tergelitik. Penasaran dengan reaksi Pak Risman ketika mata batinnya dibuka, diam-diam Sukma mulai melakukan hal yang diminta oleh uwa dan bibinya.
Di kamar, tampak Pak Risman sedang tidur siang. Ini kesempatan bagus bagi Sukma untuk membuka mata batin sang ayah selagi terlelap di alam mimpi. Sukma menaruh kedua telapak tangannya di mata ayahnya, lalu komat-kamit merapal mantra. Setelah selesai, ia bergegas keluar dari kamar tanpa ada satu pun orang yang menyadarinya.
Berselang beberapa menit, Pak Risman terbangun. Seiring dengan terkumpulnya kesadaran, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu. Akan tetapi, ketika membuka pintu, Pak Risman terkejut bukan main. Ada sesosok wanita berpakaian putih dengan rambut gimbal sedang berdiri di pojok kamar mandi.
Pak Risman tak mau percaya begitu saja dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek mata, dan sosok itu masih ada di sudut kamar mandi. Dengan gemetar, lelaki paruh baya itu mengusir wanita berambut gimbal agar keluar dari kamar mandi. Namun, rupanya sosok itu enggan keluar seperti yang diperintahkan Pak Risman.
Mendengar teriakan Pak Risman dari arah dapur, Sukma dan Bu Inah menghampirinya. Bu Inah tertegun melihat suaminya bersikap tak seperti biasanya.
"Ada apa, Pak?" tanya Bu Inah sedikit panik.
"Bu, usir perempuan berambut gimbal itu dari kamar mandi! Dia nggak tahu malu, Bapak mau wudhu," jawab Pak Risman dengan mata terbelalak.
Bu Inah melongok ke kamar mandi. Tak ada siapa pun di sana. Sambil mengerutkan dahi, wanita paruh baya itu menatap suaminya dengan heran.
"Nggak ada apa-apa, Pak. Itu mah perasaan Bapak aja kali," kata Bu Inah.
Sukma ikut melongok ke kamar mandi. Ternyata benar yang dilihat oleh Pak Risman. Ada sosok wanita berambut gimbal di sana. Gadis kecil itu senang mengetahui mantranya berpengaruh saat sang ayah tertidur.
"Iya, Pak. Ada perempuan rambut gimbalnya. Dedek juga lihat," ucap Sukma.
"Kalau begitu, usir dia dari sini. Bapak mau wudhu," perintah Pak Risman.
Sukma dengan senang hati menjambak rambut sosok mengerikan itu ke halaman belakang rumah. Wanita itu tampak pasrah saja ngikuti Sukma berjalan ke halaman belakang. Sementara itu, Pak Risman lanjut berwudhu dengan rasa ngeri yang masih menggelayuti benaknya.
Di halaman belakang rumah, Atikah menghampiri Sukma yang keluar sambil menggerakkan tangannya dengan aneh. Ia penasaran setelah mendengar jeritan ayahnya beberapa saat lalu. Tanpa ragu, ia pun mulai bertanya perihal ayahnya.
"Dek, tadi Bapak kenapa?" tanya Atikah.
"Bapak bisa lihat hantu, Teh," jawab Sukma sambil tersenyum lebar.
Mata Atikah terbelalak mendengar jawaban Sukma. "Hah?! Beneran, Dek?"
Sukma mengangguk cepat.
"Apa?! Bapak Dedek bisa lihat hantu?!" Abah ikut tercengang menghampiri Sukma.
"Iya, Abah. Dia sampai jerit-jerit begitu pas di kamar mandi," jawab Sukma.
"Astaghfirullah!"
Bergegas Abah bersama Sukma dan Atikah masuk ke rumah. Ketiganya mencari keberadaan Pak Risman. Setibanya di kamar, tampak Pak Risman sedang menunaikan salat Dzuhur dengan khusyuk.
Perasaan Abah menjadi tidak enak, mengetahui menantunya bisa melihat makhluk tak kasat mata. Sambil menunggu Pak Risman selesai salat, Abah duduk termenung di ruang tengah. Hatinya benar-benar cemas akan sesuatu yang akan terjadi pada Pak Risman selanjutnya.
Akhirnya Pak Risman keluar dari kamar setelah selesai menunaikan salat. Abah menyuruh anak-anak untuk bermain di luar agar pembicaraan dengan menantunya tak diketahui. Ia pun memanggil Pak Risman untuk duduk di dekatnya dan membicarakan hal penting.
"Ada apa, Bah?" tanya Pak Risman sembari duduk di hadapan Abah.
"Risman, apa benar tadi kamu lihat sosok mengerikan di WC?" Abah balik bertanya.
"Iya, Bah. Siapa, sih, dia itu? Bisa dilihat sama Dek Sukma, tapi enggak sama istri saya," jawab Pak Risman sembari mengernyitkan kening.
"Aduh! Hal yang Abah takutkan benar-benar terjadi," gumam Abah semabri menggeleng lemah.
"Hal apa, Bah?" Pak Risman tercengang.
"Risman, sebaiknya bawa anak dan istrimu kembali ke kota. Nggak baik berlama-lama di sini. Dalam waktu dekat, keluarga kamu bakal ngirim guna-guna," ujar Abah menatap kedua mata Pak Risman lekat-lekat.
"Nggak mungkin, Bah. Mereka nggak mungkin bisa ngirim guna-guna. Lagipula, lebaran, kan, besok. Sayang sekali kalau saya dan keluarga melewatkan momen kumpul keluarga saat hari raya," ucap Pak Risman.
"Ya sudah, terserah kamu, Man. Abah cuma ingin memperingatkan kamu. Abah harap, kamu baik-baik saja sampai kembali ke kota," kata Abah dengan lesu, kemudian berlalu ke halaman belakang.
Sementara itu, di kediaman Emak, semua kerabat Pak Risman tersenyum lebar. Rencana awal mereka untuk mengguna-guna saudaranya sudah berhasil. Secepatnya mereka akan melancarkan guna-guna, setelah menyibukkan Pak Risman hingga keimanannya melemah.
Di teras rumah Abah, Sukma membuka botol kecil. Ketika Wanara berhasil keluar dari botol itu, Sukma terperangah melihat raut kesal di wajah kera kesayangannya. Wanara duduk berhadapan dengan Sukma dengan kedua alis saling bertaut.
"Apa yang kamu lakukan pada bapakmu, Sukma?" tanya Wanara dengan nada menginterogasi.
"A-aku ... aku cuma membuka mata batinnya Bapak, Wanara. Kenapa kamu kelihatan kesal gitu?" kata Sukma dengan lugunya.
"Astaga! Kebodohan apa yang kamu lakukan itu? Atas perintah siapa kamu membuka mata batin Pak Risman? Ayo jawab!"
"Aku cuma pengin Bapak percaya sama hal gaib, biar nggak ngatain aku ngelantur terus."
"Iya."
"Sial! Kamu sudah membawa bencana pada bapakmu sendiri. Cepat tutup kembali mata batinnya sebelum terlambat! Dari kemarin aku curiga, kamu akan dipengaruhi oleh perkataan mereka."
"Apa maksud kamu bicara begitu?"
"Sukma, memangnya kamu tidak sadar kalau kamu sudah terpengaruh oleh perkataan mereka untuk membuka mata bati bapakmu?"
Belum sempat Sukma membalas perkataan Wanara, Pak Risman datang ke teras. Ia tercengang melihat seekor kera berukuran besar sedang berhadapan dengan si bungsu. Saking khawatirnya, Pak Risman segera menarik masuk Sukma dan Atikah ke dalam rumah. Sementara itu, Wanara dibiarkan di luar. Kera itu sudah tahu, akan seperti inilah kejadiannya jika sampai ayah Sukma melihatnya.
"Pak, kenapa Bapak bawa aku sama Dedek masuk?" tanya Atikah terheran-heran.
"Ada monyet gede di luar mau makan Dedek. Emangnya kamu nggak lihat, Atikah?" ucap Pak Risman cemas.
Atikah menggeleng sambil termenung sejenak. Ia pun langsung teringat pada kera gaib peliharaan adiknya. Atikah tahu betul, kera itu hanya bisa dilihat saat mata batinnya dibuka.
"Bapak nggak perlu khawatir. Itu Wanara, hewan peliharaannya Dedek," jelas Atikah.
"Wanara? Yang suka Dedek bilang monyet kesayangan itu?" tanya Pak Risman terkejut.
Sukma dan Atikah mengangguk.
"J-jadi, Atikah juga tahu kalau monyet itu sudah ada bersama Dedek sejak dulu?" tanya Pak Risman lagi dengan muka melongo.
"Iya. Dulu Atikah juga bisa lihat monyet itu, tapi sekarang udah enggak," jawab Atikah.
Pak Risman tersenyum sinis dan berusaha menampik segala yang diucapkan oleh si sulung. Akan tetapi, ketika melihat lagi ke teras rumah, hati kecilnya tak bisa lagi menolak keberadaan kera gaib peliharaan Sukma. Pak Risman menghela napas dalam-dalam, lalu berjalan ke halaman belakang demi meredam kepanikan yang merundung benaknya.
...****************...
Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru desa. Guna-guna tak akan bekerja di malam ini, sebab nama besar Tuhan akan menggagalkannya sebelum mencapai orang yang dituju. Sukma boleh bernapas lega, ayahnya masih baik-baik saja saat pergi ke mesjid untuk ikut takbiran.
Melihat Pak Risman sudah pergi, Wanara bergegas masuk ke rumah untuk menemui Sukma. Ia tak tahan lagi untuk menjelaskan hal mengerikan yang akan menimpa Pak Risman selanjutnya. Dicarinya Sukma ke segala ruangan, hingga akhirnya ia menemukan gadis kecil yang dicarinya berada di halaman belakang rumah bermain kembang api bersama keluarga besarnya. Segera ia menghampiri Sukma dan menepuk pundaknya.
"Sukma, aku ingin bicara penting," ujar Wanara.
"Nanti aja. Aku lagi asyik main kembang sama Mang Wawan. Tuh lihat! Bagus, kan, kembang apinya," tolak Sukma.
"Ayolah, Sukma. Kita tidak punya banyak waktu lagi," desak Wanara tidak sabar.
Sukma pun dengan malas mengikuti Wanara ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah, Wanara celingukan, memastikan tak ada yang melihat mereka berbicara, terlebih Pak Risman. Bisa panik nanti kalau pria paruh baya itu memergokinya bertemu dengan Sukma.
"Mau ngomong apa, Wanara?" tanya Sukma bernada kesal.
"Sukma, sebaiknya kamu cepat-cepat tutup lagi mata batin bapak kamu," jawab Wanara.
"Buat apa buru-buru, Wanara? Bapak baik-baik saja, kok, sampai sekarang," kata Sukma dengan polos.
"Malam ini dia baik-baik saja. Kita tidak tahu besok atau lusa akan bagaimana jadinya. Apa kamu ingin melihat bapakmu mati mendadak gara-gara sihir yang dilancarkan saudaranya? Kamu lupa, ya, kalau dari awal kita kesini, keluarga aneh itu punya niat buruk pada bapakmu?"
Sukma tertegun mendengar ucapan Wanara.
"Seandainya dulu aku beri tahu kamu, Sukma, bahwa tidak semua orang yang tidak percaya pada makhluk gaib itu merugi. Tujuan Bapak kamu memilih tidak percaya lagi pada makhluk gaib itu adalah untuk berusaha melindungi diri. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan saja pada Abah. Dia lebih tahu masa lalunya dibanding kamu," tutur Wanara.
"Tapi, untuk apa Bapak melindungi diri dengan cara seperti itu?"
"Kamu tidak akan mengerti, Sukma. Sudah banyak orang yang menjadi tumbalku, tapi tidak semuanya tepat sasaran. Beberapa di antaranya sulit untuk kuambil nyawanya, salah satunya orang seperti bapakmu itu. Yang tidak percaya pada makhluk gaib dan keimanan pada tuhannya pun kuat."
"Begitu, ya. Terus aku harus gimana?"
"Cepat tutup mata batin bapakmu sebelum dia percaya lagi sama makhluk seperti kami dan keimanannya runtuh."
Dari pintu depan, tiba-tiba Pak Risman datang melemparkan sandal ke arah Wanara. Seketika kera itu panik dan berlari ke segala arah. Pak Risman dengan sigap melemparkan lagi sandal hingga akhirnya kera itu berhasil keluar dari rumah. Secepatnya Pak Risman menutup pintu, lalu menghampiri Sukma.
"Dedek nggak apa-apa, kan?" tanya Pak Risman menyentuh wajah Sukma dengan raut wajah panik.
"Dedek nggak apa-apa. Udah Teteh bilang, kan, kalau itu hewan peliharaan Dedek," jawab Sukma.
"Iya, Bapak tahu. Bapak cuma khawatir kalau Dedek kenapa-kenapa."
Sukma tertegun memperhatikan sikap ayahnya yang berubah overprotective tatkala mata batinnya terbuka. Ia semakin kasihan pada sang ayah, terlebih saat tahu bahwa sihir akan menyerangnya dengan mudah jika percaya lagi pada hal gaib. Sukma benar-benar menyesal telah menuruti perkataan saudaranya Pak Risman.