
Sukma berlari menghampiri Bu Inah yang akan berwudu. Secepatnya ia memegang tangan ibunya, lalu menatap canggung. Hatinya masih ragu meminta izin agar Maurin dibiarkan menginap malam ini.
"Ada apa, Dek?" tanya Bu Inah menoleh pada putrinya.
"Bu ... Bu ... b-boleh ya, M-Maurin menginap di sini? Semalaaam aja."
Raut wajah Bu Inah mendadak gelisah tatkala mendengar permintaan Sukma. Kekhawatirannya pada nyawa sang anak, akan segera terjadi.
"Memangnya dia sudah minta izin sama ibunya? Kalau ibunya nyariin, gimana?"
"Maurin sudah nggak punya ibu, Bu. Dulu Ibunya ditembak sama bapaknya, Maurin juga. Sekarang bapaknya ada di penjara," jelas Sukma.
Bu Inah tercengang mendengar penjelasan putrinya. Matanya membelalak, seolah-olah tak percaya bahwa Maurin merupakan arwah penasaran yang sering mengikuti putrinya. Sukma yang bisa melihat gadis kecil itu, mungkin tak akan mengerti jika dijelaskan bahwa Maurin memang bukan manusia.
"Maurin tinggal sama sepupunya, Bu," lanjut Sukma. "Tapi sekarang sepupunya nggak ada di rumah."
"Sepupunya?" tanya Bu Inah mengernyitkan kening.
"Iya, Bu. Katanya sepupunya jarang ada di rumah, jadi dia kesepian."
Tertegun Bu Inah mendengar penuturan Sukma. Ia teringat pada perkataan Rifalbi tentang sepupu Maurin, yang mampu menyingkirkan boneka Susan dan gadis kecil itu dari Giska. Akan tetapi, wanita paruh baya itu bingung, harus ke mana mencari sepupu Maurin itu. Jangankan alamatnya, sosoknya saja ia tidak tahu.
Sukma mengayun-ayunkan tangan Bu Inah, meminta jawaban atas keputusannya mengizinkan Maurin menginap malam ini. Ia terus bertanya, tapi Bu Inah masih termenung memikirkan nasib putrinya saat ini. Sementara itu.m Pak Risman yang hendak pergi mandi, segera menghampiri mereka. Sambil tersenyum, pria itu menggendong Sukma.
"Kamu nggak boleh ganggu Ibu. Dia mau wudu dulu," ujar Pak Risman.
"Tapi dari tadi Ibu diam aja, Pak. Aku cuma minta, biar Ibu mengizinkan Maurin nginep di sini. Kasihan teman aku itu, di rumahnya tinggal sendirian," terang Sukma.
"Bu, izinkan saja teman Dedek nginep semalam. Nanti juga kalau orang tuanya pulang, dia akan dijemput," kata Pak Risman, menatap istrinya yang masih termenung.
Mendengar ucapan suaminya, Bu Inah terhenyak dan berkata, "Enggak, Pak. Ibu nggak izinin temannya Sukma nginep di sini. Biarin aja dia tinggal sendirian di rumahnya."
"Ayolah, Bu. Nggak ada salanya, 'kan, kalau dibiarkan menginap semalam?" bujuk Pak Risman.
"Ibu tetap nggak izinin, Pak."
Pak Risman tertunduk lesu, kemudian menatap Sukma. "Oya, Dek. Di mana temanmu itu?"
Sukma menoleh ke kamar. Dilihatnya Maurin yang baru keluar dari sana, berjalan ke arah mereka. Sukma menepuk ayahnya, kemudian menunjuk ke ruang keluarga.
"Itu, Pak. Dia lagi kesini!" seru Sukma semringah, sambil menunjuk ke arah Maurin.
"Mana? Kok Bapak nggak lihat, ya?" tanya Pak Risman celingukan, mencari sosok yang dimaksud oleh putrinya.
"Masa, sih, nggak lihat? Itu, Pak! Itu!"
Ketika Maurin berada di dekat mereka, Sukma meminta turun dari gendongan ayahnya. Gadis kecil itu mengayunkan tangan, seperti hendak memegang seseorang. Pak Risman mengerutkan dahi melihat tingkah aneh Sukma. Ia benar-benar tak dapat melihat sosok gadis kecil yang ditunjukkan oleh putrinya.
"Ini Maurin, Pak. Katanya mau nginep di sini," jelas Sukma.
Pak Risman terkikik-kikik. "Oh, jadi dia teman khayalan kamu, ya?"
"Aduh, Bapak ini gimana, sih? Dia teman aku beneran, bukan khayalan. Tuh, lihat! Dia lagi natap Bapak."
"Ya sudah, terserah kamu deh. Kalau dia mau nginep, ya nginep aja. Semoga dia betah di sini," kata Pak Risman mengusap kepala Sukma.
"Bapak ini gimana, sih? Ibu nggak izinin dia nginep di sini," ucap Bu Inah bersungut-sungut.
"Sudahlah, Bu. Jangan bertindak konyol begitu, ah! Lagi pula itu teman khayalannya Sukma. Biarin aja dia nginep di sini, toh nggak akan mengganggu kita," kata Pak Risman masuk ke kamar mandi.
"Tapi, Pak, Maurin itu ...."
Belum sempat Bu Inah menjelaskan, Pak Risman sudah menutup pintu. Wanita itu melengos dari depan kamar mandi untuk menemui mengambil handuk. Sesekali ia melirik Sukma yang tersenyum lebar sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan. Bocah itu tampak senang sekali, sambil berbicara pada sosok gadis kecil yang tak dapat dilihat oleh siapa pun.
...****************...
Malam kian larut, jam dinding menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Tak seperti kemarin, Atikah cepat sekali terlelap akibat kelelahan mengerjakan PR dan mengaji hari ini. Begitu pula dengan Sukma, yang sudah tidur sambil memeluk boneka Susan di samping kakaknya, meskipun seharian ini merasa kesal karena bonekanya dibuang Atikah.
Pak Risman dan Bu Inah masih terjaga di ruang keluarga, menonton tv. Bagi Bu Inah, sekarang merupakan kesempatan bagus untuk menceritakan semua yang mengganjal hatinya. Wanita itu menepuk pundak Pak Risman, sampai melirik ke arahnya.
"Pak, sebenarnya Ibu merasa cemas dengan boneka itu."
"Cemas kenapa, Bu?"
"Apa Bapak kemarin tidak memperhatikan, Atikah sampai jerit-jerit di depan pintu kamar?"
"Nggak usah dihiraukan, Bu. Atikah memang gampang takut. Dulu dia pernah jerit-jerit gara-gara lihat ada perempuan di kamar mandi, tapi kenyataannya pas Bapak cek, nggak ada apa-apa tuh.".
"Tapi sekarang ceritanya lain, Pak. Bukan anak kita saja yang mengalaminya, Giska juga. Dia pernah dapat boneka itu dari gadis kecil yang bernama Maurin. Bahkan, sampai jatuh sakit gara-gara menyimpan boneka itu."
"Ah, itu cuma sugesti, Bu. Masa iya boneka bisa bikin anak kecil sakit?"
"Kalau cuma sugesti, lalu kenapa anak lain dari kampung sebelah yang pernah dapat boneka Susan bisa sampai meninggal?"
"Baiklah, sekarang Bapak mengerti. Jadi, Ibu berpikir kalau ucapan Atikah itu benar?"
"Begitu, ya. Kalau sekiranya boneka itu membawa bencana, ya sudah, buang saja."
"Apa Bapak tidak lihat yang dilakukan Atikah tadi siang? Boneka itu kembali lagi ke tangan Dedek, walaupun sudah dibuang. Kata kakaknya Giska, percuma saja dibuang ke tong sampah."
"Lalu, harus diapakan lagi biar boneka itu tidak kembali? Dibakar?"
"Ibu juga berpikir begitu. Kata kakaknya Giska, kalau mau membakar boneka Susan harus melibatkan ahli supranatural. Soalnya, boneka yang ada di tangan Dedek bukan boneka sembarangan."
"Ahli supranatural kata Ibu? Kalau itu Bapak nggak percaya, Bu. Ngapain melibatkan orang pintar kalau kita sendiri bisa melakukannya. Kalau dibakarnya sambil dibacain ayat-ayat buat ruqyah, mungkin jin yang ada di dalam boneka itu akan ikut terbakar juga."
Bu Inah mengangguk. "Wah, benar juga! Ide Bapak memang bagus! Sebaiknya kita lakukan secepatnya."
"Tunggu waktu yang tepat, Bu. Bujuk Dedek juga supaya mengerti dan ikhlas bonekanya dibakar. Bocah segede Dedek itu kalau dipaksa malah suka dendam. Lihatlah gelagatnya pada Atikah hari ini. Sepertinya Dedek masih nggak suka sama kakaknya gara-gara bonekanya dibuang."
"Iya, Ibu mengerti, Pak. Mudah-mudahan cara yang akan kita lakukan ini yang terbaik, Pak. Selain itu, kita juga nggak perlu mencari seseorang bernama Pita."
"Pita? Siapa lagi dia?"
"Kata kakaknya Giska, Pita itu sepupunya Maurin. Dialah yang ngajak Maurin pulang dari rumah Giska. Sejak saat itu, Maurin dan bonekanya tidak lagi mengganggu."
"Lalu, di mana Pita tinggal, Bu?"
"Nggak tahu, Pak. Dulu kakaknya Giska tiba-tiba disamperin olehnya di sekolah, lalu ditanyai soal boneka Susan. Katanya lagi, Pita itu bukan manusia, Pak. Tapi arwah gentayangan."
"Apa?! Arwah gentayangan?"
"Iya, Pak."
"Sudahlah, kita ambil cara pertama saja. Bakar boneka itu sampai hangus. Bapak nggak mau kalau melibatkan jin dalam urusan beginian. Ingatlah, Bu! Kita ini manusia, makhluk paling mulia dari yang lain. Bapak percaya, Allah punya kekuatan yang lebih besar untuk menghancurkan makhluk pengganggu. Kalau meminta bantuan jin, itu sama saja kita berputus asa dari kekuatan Allah."
"Bapak benar," cetus Bu Inah. "Baiklah, besok Ibu coba bujuk si Dedek buat ngasih bonekanya ke kita. Setelah itu, Bapak bakar bonekanya."
"Iya, semoga rencana kita berhasil, Bu."
Tanpa mereka sadari, Maurin mengintip dari pintu kamar. Gadis kecil itu menguping setiap pembicaraan mereka sejak tadi. Ia tidak rela jika boneka kesayangan yang menemaninya selama ini sampai dimusnahkan. Hanya boneka Susan yang dapat diandalkannya untuk mencari teman bermain dari alam manusia.
Dari belakang Maurin, wanita tua penunggu kamar, menarik kakinya. Maurin menjerit-jerit sampai genggaman si wanita tua di kakinya lepas. Gadis kecil itu terkejut saat menoleh ke belakang.
"S-siapa kamu?"
"Aku setan yang ingin membawa Sukma."
"Tidak! Jangan lakukan itu! Sukma milikku. Hanya milikku!"
"Oh, jadi kau Maurin itu, ya?"
"Apa yang kamu mau dariku?"
"Aku mau, kamu segera pergi dari sini. Bukankah kamu sudah memiliki banyak teman di alammu sendiri? Kenapa masih saja mengincar Sukma?"
"Semua temanku sudah pergi, nyawanya diambil kembali oleh orang tuanya. Aku kesepian dan butuh teman."
"Kalau begitu, ikutlah bersamaku. Aku sangat suka anak kecil."
"Tidak! Aku tidak mau ikut sama nenek-nenek jelek kayak kamu!"
"Katanya kamu ingin punya teman."
"Iya, tapi bukan nenek-nenek jelek kayak kamu! Semua orang tua itu membosankan, aku nggak suka!"
"Baiklah, jadi kamu mau apa sekarang? Membiarkan bonekamu dibakar?"
"Aku nggak akan biarin hal itu terjadi. Pokoknya besok aku harus bujuk Sukma buat sembunyiin bonekanya."
"Kalau menurut kamu itu yang terbaik, coba saja. Keluarga ini memiliki iman yang kuat, bagaimanapun juga mereka akan tetap menemukan boneka itu."
"Tidak! Aku yakin, boneka itu nggak akan ditemukan oleh mereka."
"Terserah kamu saja lah. Lagi pula, percuma saja kamu menitipkan boneka Susan pada Sukma. Gadis itu tidak akan pernah datang ke alammu."
"Apa? Gimana bisa begitu?"
"Memangnya Susan belum mengatakan apa pun padamu tentang Sukma?"
Maurin menggeleng.
"Sukma itu putri iblis. Dia menyerap semua kekuatan makhluk gaib. Percuma saja Susan dibiarkan di sini atau kamu terus-terusan menginap, toh Sukma akan baik-baik saja," jelas wanita tua itu terkekeh. "Semakin lama kalian tinggal di sini, semakin cepat Susan tewas."
Mendengar penuturan wanita tua itu, hati Maurin menjadi gentar. Ia berpikir keras untuk menyelamatkan boneka Susan dari tiga orang sekaligus; orang tua Sukma dan Sukma itu sendiri.
"Aku harus segera pergi dari sini," guman Maurin.