
Setitik cahaya dari atas perlahan-lahan kian menyinari dasar sumur. Giska terbangun tatkala cahaya itu menembus ke arahnya. Ia tercengang, mendapati dirinya berada di dalam tempat yang tak terduga. Merasa panik, gadis berambut pendek itu berteriak meminta pertolongan ke atas.
Seorang wanita tua samar-samar mendengar suara gaung dari dasar sumur. Ia kembali lagi ke sana, lalu menengok ke bawahnya. Dari atas memang terlihat seperti tak ada siapa-siapa. Namun, rasa penasarannya membuatnya ingin mencaritahu.
"Aya saha di handap?" tanya wanita tua itu berteriak ke dalam sumur. (Ada siapa di bawah?)
"Ieu abdi. Jalmi. Tulungan abdi! Didieu teu aya sasaha," jawab Giska berteriak sekencang mungkin. (Ini aku. Manusia. Di sini nggak ada siapa-siapa.)
Wanita tua memakai kebaya hijau itu hanya mendengar suara gaung dari dalam sumur. Ia yakin, bahwa di dalam sana ada orang. Dicarinya tambang yang biasa dipakai untuk mengambil air dari dasar sumur. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menemukan seutas tambang yang lumayan panjang.
Diulurkannya tambang ke dasar sumur. Wanita tua itu merasakan gerakan pada tambang. Lambat laun, ia merasakan sebuah beban kian naik ke arahnya. Wanita tua itu menarik tambangnya sekuat tenaga, hingga muncul seorang gadis berusia dua belas tahun sedang kepayahan keluar sumur. Setelah Giska berhasil keluar, wanita tua itu menghampirinya.
"Teu kunanaon, Neng?" tanya wanita tua itu melihat kondisi Giska. (Nggak kenapa-kenapa, Neng?)
Giska menggeleng lemah. "Henteu nanaon, Nini. Hatur nuhun, nya, tos nulungan abdi." (Nggak apa-apa, Nenek. Terima kasih, ya, sudah menolongku.)
"Sawangsulna, Neng," kata wanita tua itu, kemudian berjalan ke arah hutan lebat yang berada di depan. (Sama-sama, Neng.)
Giska terheran-heran melihat wanita tua itu berjalan ke arah area pesawahan. Seingatnya, di depan sana terdapat perumukiman warga sekitar. Namun, Giska tak menghiraukannya. Ia berbalik badan, kembali menuju bangunan sekolah.
Semakin berjalan ke dalam area sekolah, Giska melihat banyak kejadian aneh. Orang-orang di sana tidak seperti pada umumnya. Kebanyakan berkulit pucat, bahkan ada beberapa di antaranya yang kehilangan sebagian anggota tubuhnya. Giska bergidik ngeri tatkala mendapati seorang laki-laki berjalan membawa kepalanya di tangan.
"Apa ini benar sekolahan aku, ya? Perasaan, selama ini aku nggak pernah lihat orang-orang kayak mereka," gumam Giska sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Beralih ke area depan sekolah, ia dibuat tidak mengerti lagi. Bangunan yang seharusnya dua lantai, hanya terdiri sari satu lantai saja. Sekolahnya menjadi seperti bangunan kuno yang dibuat pada era '70 - '80an. Bukan hanya itu saja, pakaian para siswanya pun terkesan jadul. Tak ada ponsel pintar di tangan mereka, hanya ada buku-buku tebal saja. Giska dibuat tidak mengerti dengan semua hal itu.
Ketika hendak berjalan ke luar area sekolah, tak sengaja ia melihat seorang guru sedang menangis tersedu-sedu. Tanpa diketahui oleh orang-orang di sekitarnya, guru perempuan itu berlari ke arah belakang sekolah. Giska mengikutinya, tapi sosok guru itu menghilang entah ke mana.
Kejadiannya berjalan begitu cepat. Saat Giska menyusuri satu per satu kelas, langkahnya terhenti di salah satu kelas yang begitu sepi. Betapa terkejutnya ia tatkala mendapati guru itu telah tewas gantung diri. Selain itu, Giska pun terkejut melihat ada dua sosok guru perempuan di ruangan itu.
Kendati merasa takut, Giska tetap mencoba untuk masuk ke ruangan itu. Sembari menelan ludah, ia menghampiri guru perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu di pojok ruangan dengan tali membelit lehernya. Dengan canggung, Giska menepuk pundak guru itu hingga kepalanya terangkat.
"Bu, ke-kenapa melakukan hal itu? Apa masalah Ibu sangat berat sampai mau bunuh diri?" tanya Giska.
"Aku tak punya pilihan lain. Aku sudah lelah untuk hidup. Suamiku sudah berkhianat dan memukuliku setiap hari. Tak ada yang peduli dengan nasibku. Orang tuaku sudah tiada. Aku tak tahu harus mengadu kepada siapa," ucap guru perempuan itu sembari sesenggukan, air matanya tak terlihat menetes sama sekali.
Giska ikut terenyuh mendengar alasan dari guru perempuan itu. Ia memeluk tubuhnya, sambil mengusap pundak wanita itu. Tak lama kemudian, para siswa dan guru datang ke ruangan itu, membawa jasad guru perempuan yang menggantung di langit-langit. Orang-orang itu tampak sedih, bahkan tak sedikit yang memanggil nama dari guru perempuan itu, Bu Ratih.
Sementara itu, tubuh Giska masih tidak tenang di rumahnya. Ia terus berteriak, memaki-maki pemilik rumah yang enggan membukakan pintu kamar. Ibunya Giska semakin ketakutan. Ia dibawa oleh Elisa ke rumah tetangganya yang beberapa kaki cukup jauh dari kediamannya. Elisa tidak mau mertuanya jatuh sakit gara-gara kejadian ini.
Sukma terpaksa menunda kepulangannya setelah mengetahui kondisi raga Giska sedang tidak baik-baik saja. Ia menelepon Atikah dan mengabarkan, bahwa dirinya tak bisa pulang cepat hari ini. Atikah kesal dengan adiknya, tapi sekali lagi Sukma memberi pengertian pada sang kakak, bahwa ada jiwa yang harus diselamatkannya malam ini juga.
Selepas maghrib, Rifalbi membawa Ustaz Ramlan yang terkenal mampu menyembuhkan orang yang kerasukan dengan ayat-ayat ruqyah-nya. Bergegas Ustaz Ramlan bersama Rifalbi dan Sukma menuju ke depan pintu kamar Giska. Sebelum masuk menemui gadis yang badannya telah dirasuki dedemit, Ustaz Ramlan membaca ayat-ayat Al-Qur'an hingga suara teriakan di dalam kamar berangsur tenang.
"Kak, sebaiknya Giska diikat dulu di ranjang. Aku takut, dia ngamuknya lebih parah lagi daripada tadi," usul Sukma.
"Adek ini benar, akan susah jika nanti Dek Giska sampai kabur dari sini," timpal Ustaz Ramlan.
Rifalbi langsung bertindak gesit dengan mengambil beberapa kerudung segi empat dari lemarinya Giska. Diikatnya kedua kaki dan tangan Giska ke empat sisi ranjang. Selesai mengikat tubuh adiknya, pria itu kembali ke samping Ustaz Ramlan. Selanjutnya, pria berkopiah itu mulai berzikir menyebut Asma Allah demi kemudahan usahanya menyembuhkan Giska. Sukma meminta kepada Rifalbi untuk berbaring di ruang tengah. Ia akan meraga sukma kembali demi menemukan jiwa Giska yang masih tersesat. Kakaknya Giska pun mengizinkannya dan berharap semuanya cepat berangsur membaik.
Sebelum memulai proyek astral, Sukma mengeluarkan Wanara dari botol. Ia menyuruh kera kesayangannya untuk membantu Ustaz Ramlan mengeluarkan dedemit dari tubuh Giska. Wanara pun mengerti, kemudian masuk ke kamar temannya Sukma. Kera itu duduk di atas kepala Giska, bersiap mencabut roh jahat dari tubuh gadis berambut pendek itu.
Sukma mulai terbaring dan memejamkan mata. Saat konsentrasinya terkumpul penuh, ia berhasil melontarkan sukmanya keluar dari tubuh. Segera gadis itu berlari menuju sekolah, tempat jiwa Giska terakhir tersesat. Ia yakin, bahwa dirinya akan menemukan Giska saat ini juga.
Sementara Sukma sedang berada dalam perjalanan menuju sekolah, tubuh Giska lagi-lagi mengamuk. Perempuan berbaju merah yang merasuk tubuh gadis itu berteriak histeris mendengar bacaan ayat suci Al-Qur'an dari mulut Ustaz Ramlan. Wanara yang duduk di atas kepala perempuan itu, masih kesulitan untuk mencabut dedemit.
"Keparat kalian semua! Aku akan membunuh kalian setelah bebas nanti. Aaarrrgh!" teriak perempuan berbaju merah yang merasuk ke tubuh Giska.
Rifalbi tidak menghiraukannya. Ia terus membaca surah Yasin sebagaimana yang diperintahkan Ustaz Ramlan. Pria itu berharap, dengan membacanya, Ustaz Ramlan terbantu untuk menyingkirkan dedemit dari tubuh Giska.
Tangan Ustaz Ramlan sengaja ditempelkan ke dahi Giska. Mulutnya komat-kamit merapal Ayat Kursi dalam satu helaan napas. Dedemit itu semakin kepanasan dan merasa tidak nyaman berada di dalam tubuh Giska. Wanara masih berusaha menarik kepala dari perempuan berbaju merah saat pancaran cahaya keluar dari dahinya. Ia tahu betul, bahwa penanda yang diberikan si dedemit sudah terbuka seiring Ustaz Ramlan merapalkan Ayat Kursi.
"Kalian bertiga memang keparat! Terutama kau, Monyet! Kenapa harus selalu mencampuri urusanku?" pekik gadis berambut pendek itu sambil mendongak ke atas.
Ustaz Ramlan dan Rifalbi berusaha untuk tetap fokus. Sebenarnya mereka juga heran dengan satu sosok yang ikut membantu menyembuhkan Giska. Namun, berhenti di tengah jalan akan berdampak lebih buruk lagi pada tubuh gadis lugu itu. Mereka melanjutkan membacakan doa dan surah Al-Qur'an sampai memastikan dedemit yang merasuk ke dalam tubuh Giska benar-benar keluar.
Di tempat lain, Sukma mencari Giska di sekolahnya yang tampak lawas di matanya. Sesekali ia memperhatikan jasad seorang guru yang dibopong oleh beberapa orang ke luar area sekolah. Untuk saat ini, gadis itu tak mau menghiraukan kejadian naas yang pernah ada di sekolahnya. Baginya, menemukan jiwa Giska lebih penting saat ini.
Satu per satu kelas ditelusurinya. Kesabarannya menemukan keberadaan Giska hampir habis. Ia gemas pada dirinya sendiri yang tak bisa menemukan teman masa kecilnya saat sedang meraga sukma. Di ujung area sekolah, terdapat orang-orang yang baru keluar dari sebuah kelas dengan wajah sendu. Sukma segera berlari menuju kelas itu.
Dilihatnya Giska yang sedang memeluk seorang guru di sudut ruangan. Sukma tak punya waktu lagi untuk menanyakan sesuatu yang sedang dilakukan temannya. Secepatnya ia memegang tangan Giska untuk segera pergi dari sana.
"Sukma?! Gimana kamu bisa ada di sini?" tanya Giska terkejut.
"Aku nyariin kamu dari semalam. Sebenarnya kamu ke mana aja, sih?" gerutu Sukma kesal.
"Aku kejebak di dalam sumur, Sukma," jawab Giska. "Oya, Sukma. Waktu aku main Jailangkung, guru ini ada di sekitar aku. Tapi ... kenapa dia masih ada di sini?"
"Udahlah, jangan banyak tanya! Kita nggak punya banyak waktu. Nanti aku jelasin pas kamu udah balik ke badan kamu," kata Sukma terburu-buru.
"Tapi Sukma, sebenarnya kita ini ada di mana?"
Sukma tidak menggubrisnya. Ia segera berlari bersama Giska menuju ke rumah gadis berambut pendek itu. Gadis itu juga berharap, perempuan berbaju merah yang merasuk ke tubuh Giska sudah keluar saat jiwa pemilik raga itu kembali.