SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Spesialis Kulit


Farah baru saja selesai mandi. Air hangat yang dipakainya, tak mampu mengilangkan rasa pegal dan gatal di sekujur tubuhnya. Bahkan menjelang makan malam, ia terus saja menggaruk-garuk leher dan tangan. Untuk menghilangkan rasa gatal yang tak tertahankan, sesekali wanita berkulit putih mulus itu mengoleskan minyak kayu putih ke beberapa bagian badan.


Hilman memanggil Farah untuk segera datang ke meja makan. Akan tetapi, istrinya belum saja keluar dari kamar. Pria itu merasa heran, tak biasanya Farah berlama-lama di kamar ketika jam makan malam tiba. Merasa penasaran, Hilman pergi ke kamar untuk mengetahui sesuatu yang sedang dilakukan istrinya.


Dibukanya pintu kamar perlahan-lahan. Tampak Farah sedang menggaruk-garuk punggung dan lehernya di tepi kasur. Hilman menghampiri istrinya dengan dahi mengerut, lalu duduk di sampingnya.


"Farah, kamu kenapa garuk-garuk badan segala? Kamu kena alergi, ya?" tanya Hilman dengan penuh perhatian.


"Aku nggak tahu, Pa. Sejak pulang arisan tadi, badan aku kerasa berat banget. Pas udah mandi, eh, malah gatal-gatal begini," jelas Farah, sambil meringis menahan rasa gatal di sekujur tubuhnya.


"Ah, aku tahu. Pasti kamu habis makan seafood, ya? Udah aku bilang, jangan lagi makan makanan laut. 'Kan kamu alergi makan yang begituan."


"Enggak, Pa. Sumpah! Tadi aku nggak makan yang begituan di hotel. Cuma minum jus jeruk doang."


"Terus, kenapa kamu garuk-garuk melulu?"


"Nggak tahu, Pa. Mungkin di kamar ini banyak nyamuk."


Hilman mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Sepengetahuannya, Bu Inah selalu merawat ruangan dengan baik, bahkan sering menyemprot kamarnya dengan semprotan anti nyamuk. Menurutnya, mustahil jika banyak nyamuk di rumahnya.


Tak percaya dengan pendapat Farah, Hilman mencoba melihat tangan istrinya. Kulitnya yang putih mulus, berubah memerah. Tidak terdapat bentol bekas gigitan nyamuk di sana, hanya warna merah saja akibat garukan keras yang dilakukan istrinya.


"Besok kita ke spesialis kulit, ya. Mungkin sensitif sama sesuatu, makannya kulit kamu merah-merah begini."


"Iya, Pa. Mungkin kulit aku sensitif. Nggak biasanya kayak gini, loh."


Hilman memegang tangan Farah, lalu mengajaknya ke ruang makan. Kali ini, rasa gatal yang diderita Farah, berpindah ke bagian wajah. Alih-alih menggaruknya, ia berusaha menahannya dan bersikap sewajar mungkin di hadapan Albi.


Sementara itu di kediaman Pak Risman, Atikah kesal melihat lauk pauk yang disajikan ibunya. Wajahnya terus memberengut melihat tahu, tempe, dan kangkung yang dihidangkan Bu Inah di ruang tengah. Pak Risman yang melihat kekesalan di wajah putrinya, berusaha meredamnya.


"Nggak apa-apa makan ini juga. Setidaknya kita bisa makan tiga kali sehari," bujuk Pak Risman.


"Tapi aku bosen makan makanan yang beginian melulu," ketus Atikah mendengus sebal.


"Terus, kamu pengen makan apa?" tanya Pak Risman menatap kedua mata putrinya lekat-lekat.


"Aku pengin makan makanan yang biasa dibikin Ibu di rumahnya Om Hilman. Emangnya Ibu nggak bisa masakin makanan kayak keluarga Om Hilman di rumah kita? Misalnya semur daging atau makanan-makanan luar negeri yang biasa dimakan A Albi."


"Ibu bukannya nggak bisa, Atikah," timbrung Bu Inah, menaruh piring di karpet. "Tapi modalnya nggak cukup buat beli bahan makannya."


"Kalau nggak ada modalnya, kenapa Ibu nggak bawa sisa makanannya aja ke sini?" tanya Atikah setengah menggerutu.


"Bu Farah suka marah kalau makanannya tersisa. Kalaupun tersisa, dia suka membuangnya ke tong sampah dan nggak pernah membiarkan para pembantunya memakan makanan yang dia makan," jelas Bu Inah.


"Loh, kok gitu? Tante Farah pelit banget, ih," ketus Atikah berang.


Bu Inah tak menghiraukan perkataan Atikah. Ia kembali ke dapur untuk membawa teko dan gelas. Atikah masih memberengut, terlebih tak ada yang memahami rasa bosannya terhadap makanan malam ini.


Dari kamar, Sukma datang ke ruang tengah sambil membawa boneka barunya. Atikah yang masih kesal, meluapkan emosinya pada Sukma hingga membuat adiknya itu terheran-heran.


"Kamu kalau makan jangan bawa-bawa boneka segala dong. Ini waktunya makan, bukan waktunya main," cerocos Atikah menatap tajam pada Sukma.


"Aku cuma mau makan sama boneka ini, Teh. Bukan mau main," kata sukma, suaranya sedikit gemetar seperti hendak menangis. "Kenapa, sih, Teteh ngambek begitu sama aku? Memangnya aku salah, ya, kalau bawa boneka ke sini?"


"Teteh kamu bosen lihat makanan yang begini-begini melulu," jelas Pak Risman, matanya menatap televisi, sedangkan tangannya memegang remot untuk memindah-mindahkan siaran.


"Oh, Teteh bosen makan sama tahu, tempe dan kangkung? Aku bisa bikin makanan ini berubah jadi makanan yang Teteh mau," ucap Sukma tersenyum lebar.


Atikah mencebik, tak percaya. "Ah, masa?"


"Teteh nggak percaya? Baik, biar Dedek lihatin ke Teteh, ya."


Sukma meletakkan telapak tangannya di atas makanan yang dihidangakan Bu inah. Mulutnya komat-kamit seperti sedang merapal mantra yang sudah dihafalnya sejak lama. Sesekali tangan mungilnya bergetar seakan-akan menaburkan sesuatu ke dalam makanan di depannya.


Atikah menatap perilaku aneh adiknya dengan malas. Sambil memegang dagu, ia mencebik dan berkedip lesu. Melihat tak ada perubahan pada makanan di hadapannya, Atikah menganggap tindakan adiknya hanya kekonyolan belaka. Tak ada keajaiban di sana, hanya lauk pauk membosankan yang teronggok siap dimakan.


Lain Atikah, lain pula Pak Risman. Ia tetap santai menonton televisi sambil sesekali menguap menahan kantuk akibat terlalu lelah bekerja. Satu sisi matanya sudah terkantuk-kantuk, di sisi lain perutnya keroncongan dari tadi karena lapar. Kendati Sukma bertingkah seperti dukun dadakan, Pak Risman tidak menghiraukannya sama sekali.


Bu Inah yang baru saja tiba membawa teko dan gelas, terheran-heran melihat tingkah Sukma. Disapanya si putri bungsu hingga membuatnya terperanjat.


"Ngapain Dedek getar-getarin tangan di atas makanan?" tanya Bu Inah sembari tersenyum geli.


"Dedek ... Dedek cuma pengin ngubah makanannya jadi kayak yang Teteh mau," jawab Sukma dengan polosnya.


Bu Inah terkekeh-kekeh, laku berkata, "Dedek ini ada-ada aja. Memangnya ini di dunia film, bisa bikin makanan biasa jadi makanan restoran?"


"Tante Farida bisa melakukannya, Bu. Aku pernah lihat dia mengubah belatung dan daun kering jadi makanan," jelas Sukma.


Seketika, Bu Inah, Pak Risman, serta Atikah tercengang mendengar ucapan Sukma. Suasana hangat menyambut makan malam tiba-tiba hening. Bu Inah teringat pada cerita Wewe Gombel yang pernah disampaikan ibunya sewaktu di kampung. Makhluk itu mampu mengubah hewan menjijikkan seperti belatung, berubah menjadi sebakul nasi.


Pak Risman tak mau keheningan itu berlarut-larut cukup lama. Ia mengambil piring, lalu menaruh nasi dan lauk pauk di depannya. Pun dengan Bu Inah dan Atikah, mereka tidak kuat lagi menahan lapar. Sementara itu, Sukma tersenyum-senyum menunggu disuapi oleh ibunya.


Pada suapan pertama, Pak Risman seketika terkesima pada rasa makanan sederhana yang dibuat istrinya. Tahu dan tempe gorengnya terasa sangat nikmat, lebih dari biasanya. Atikah yang sejak tadi rewel, seketika makan dengan lahap. Begitu juga dengan Bu Inah, yang tampak terkesima menikmati makanan buatannya.


Tak mau membiarkan si bungsu kelaparan, Bu Inah menyuapi Sukma. Gadis kecil itu melahapnya dengan cepat dan mengunyahnya perlahan.


"Tuh, kan, makanannya enak," celetuk Sukma, sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Wah, iya, Dek. Makanannya jadi enak gini," decak Pak Risman. "Bu, tadi Ibu masak pakai apa aja? Kok makanannya bisa enak begini?"


Bu Inah tersipu-sipu. "Ibu cuma pakai bahan yang biasanya, kok. Nggak pakai yang aneh-aneh."


Berbeda dengan keluarga Pak Risman yang menikmati makan malamnya, Farah justru merasa makanan buatan Bi Reni aneh. Tak hanya itu saja, rasa gatal yang menggerayangi sekujur tubuhnya, membuat wanita itu tidak keruan. Kendati demikian, Farah terus berusaha sekuat mungkin untuk tidak menggaruk tubuhnya.


"Namanya juga usaha, Farah. Kadang naik, kadang turun. Nggak selamanya di atas terus. Doakan saja supaya krisis yang dialami perusahaan peninggalan Mas Burhan cepat selesai."


"Aku selalu mendoakan itu, Pa. Tapi kalau terus-terusan seperti itu, lama-lama bakal bangkrut. Apa selain mikirin perusahaan, Papa masih kepikiran sama anaknya Teh Ratmi?"


"Kalau boleh jujur ... iya, aku masih kepikiran sama anaknya Teh Ratmi. Bagaimana keadaannya, diurus sama siapa. Aku juga pengin tahu dia tinggal di mana sekarang. Kalau saja aku tahu keberadaannya sekarang, pasti udah aku bawa ke sini. Kita urus sama-sama."


"Sudahlah, lupakan saja tentang anak itu. Kalau kata Teh Ratmi anaknya dibuang sama bidan, bisa aja bayinya udah meninggal sejak enam tahun lalu. Mendingan sekarang Papa urus saja bisnis sampai maju lagi. Kalau sampai bangkrut, mau ditaruh di mana mukaku ini?"


Hilman tak menjawab perkataan Farah. Setelah suapan terakhirnya tandas, ia pergi dari meja makan menuju ruang kerjanya. Menurutnya, tak ada gunanya berdebat dengan sang istri. Masih banyak laporan perusahaan yang belum dibacanya. Ia juga tak mau melupakan perihal putri semata wayang kakak iparnya, yang entah di mana keberadaannya.


...****************...


Pukul setengah delapan pagi, Hilman dan Farah sudah bersiap-siap pergi ke spesialis kulit. Bersama dengan itu pula, Sukma diantar Bu Inah sekolah. Ketika Hilman dan Farah hendak menaiki mobil, Sukma berlari kecil menghampiri keduanya.


"Hai, Om Hilman. Om mau ke mana sama Tante Farah? Pasti mau ke kebun binatang, ya?" tanya Sukma.


"Om mau nganter Tante Farah ke klinik. Semalam dia garuk-garuk kulitnya terus," jawab Hilman disertai tawa kecil.


"Oh." Sukma mengangguk. "Kirain mau bawa pulang monyetnya ke kebun binatang, Om. Bulunya kena kulit Tante Farah terus, jadinya bikin gatel."


Mendengar ucapan Sukma, Farah pun geram. "Kamu ini ngomong apaan, sih? Dari kemarin ngomongin monyet melulu."


"Tapi beneran, loh, Tante. Monyetnya lagi garuk-garuk tuh. Bulunya nempel ke kulit Tante," jelas Sukma sambol menunjuk ke pundak Farah. Ia memang melihat seekor kera besar mengelayuti pundak majikan kedua orang tuanya itu.


Beberapa detik kemudian, Farah menggaruk leher dan tangannya. Rasa gatal yang tak tertahankan, membuatnya ingin segera tiba di klinik spesialis kulit. Tanpa berpamitan pada Bu Inah dan Sukma, ia masuk ke mobil sambil meringis.


"Kalau begitu, kami pergi dulu, Bu Inah," pamit Hilman, lalu menyusul istrinya masuk ke mobil.


Mobil Hilman melaju, sementara Bu Inah dan Sukma melanjutkan perjalanannya menuju sekolah dengan berjalan kaki. Sebelum langkah mereka cukup jauh meninggalkan kediaman Hilman, Bu Inah merasa terganggu dengan ucapan Sukma. Ditatapnya si bungsu yang sedang berjalan sambil bersenandung lagu anak-anak.


"Dek, maksud Dedek apa bilang begitu sama Bu Farah? Dia jadi marah sama kamu," tegur Bu Inah.


"Dedek nggak bermaksud apa-apa, kok. Dedek lihat sendiri, ada monyet di punggungnya Tante Farah."


"Ah, kamu ini ada-ada aja. Kok Ibu nggak lihat?"


"Ibu mah suka gitu, ih! Sama kayak Teteh, tiap aku ngelihat apa-apa, kalian suka bilang nggak ada. Kalian ini aneh," celoteh Sukma, lalu mempercepat jalannya.


Bu Inah menggeleng kepala. Entah apa yang ada di pikiran putrinya saat melihat Farah menderita karena rasa gatal di sekujur tubuhnya. Kendati demikian, hati kecil Bu Inah menyimpan keyakinan bahwa Sukma berbeda dari anak lain, mengingat banyak kejadian aneh di luar nalar yang telah dialami oleh si bungsu akhir-akhir ini.


Sementara Bu Inah dan Sukma tiba di sekolah, Farah dan Hilman pun sampai di klinik spesialis dokter kulit. Beruntung, tak banyak antrean hari ini. Hanya saja, sifat Farah yang tidak sabaran membuat keadaan menjadi sulit bagi Hilman.


"Aduuuh. Lama banget, sih, ngantrenya. Aku udah nggak kuat gatal nih," gerutu Farah sambil menggaruk lehernya.


"Sabar dulu sebentar. Cuma perlu menunggu satu pasien diperiksa,kok," bujuk Hilman, berusaha menenangkan Farah.


Satu pasien dipanggil ke ruangan dokter. Selama menunggu pemeriksaan pasien lain, Farah menggaruk-garuk punggung dan lehernya. Terkadang, pundaknya terasa berat seperti dibebani oleh sesuatu. Sungguh, perasaan Farah tak keruan saat ini hingga bibirnya terus menerus menggerutu.


Setelah cukup lama menunggu, sekarang giliran Farah dipanggil dokter. Bersama Hilman, ia masuk ke ruangan spesialis kulit itu untuk segera diperiksa.


"Selamat pagi, Dok," sapa Farah, sambil sesekali meringis.


"Selamat pagi, Nyonya Farah. Boleh saya tahu, apa keluhan Anda saat ini?" tanya seorang dokter wanita, namanya Dara. Tertulis pada tanda yang terpasang di pakaiannya.


"Begini, Dok. Sejak kemarin malam, istri saya merasa gatal-gatal," ucap Hilman bantu menjawab.


"Oh, apa Nyonya punya alergi terhadap makanan tertentu?"


"Iya, Dok. Saya punya alergi terhadap makanan seafood, tapi kemarin saya nggak makan makanan begituan sama sekali," jelas Farah.


"Kalau alergi dingin?"


Farah menggeleng cepat.


"Baiklah, saya periksa dulu, ya."


Dokter Dara mengambil dermatoscope, kemudian memeriksa kulit tangan Farah menggunakan alat itu. Tak ada yang aneh pada kulit pasiennya, hanya ada warna merah bekas garukan. Dokter Dara menyimpan kembali dermatoscope-nya, lalu menatap Farah.


"Nyonya Farah, saya sarankan Anda tidak terlalu sering menggaruk. Kulit Anda akan semakin menipis," ucap Dokter Dara.


"Habis, mau bagaimana lagi, Dok? Rasanya nggak nyaman sekali," jawab Farah dengan wajah memelas.


"Tapi saya tidak menemukan penyakit apa pun pada kulit Anda."


Farah dan Hilman tercengang sesaat ketika mendengar penjelasan Dokter Dara. Merasa tak terima, Farah mulai bersungut-sungut.


"Yang benar saja, Dok? Rasa gatalnya nggak tertahankan, loh, ini," sungut Farah geram.


"Dok, tolong periksa ulang. Mungkin ada hal aneh di kulit istri saya," kata Hilman, masih tidak percaya.


Dokter Dara memeriksa kulit Farah lagi. Kali ini ia memeriksa bagian leher pasiennya itu. Namun hasilnya tetap saja, ia tak menemukan kelainan apa pun pada kulit Farah.


"Begini saja, saya kasih resep untuk mengurangi rasa gatalnya."


Dokter Dara menulis resep di secarik kertas, kemudian memberikannya pada Hilman. Tanpa berlama-lama, sepasang suami istri itu berpamitan dari Dokter Dara dan mengucapkan terima kasih.


Selanjutnya, Farah dan Hilman pergi ke ruang obat untuk menebus resep yang diberikan Dokter Dara. Terdapat dua jenis obat yang diterima Farah; obat tablet dan salep. Mereka pun melenggang keluar dari klinik itu, berharap obat yang dibelinya dapat menyembuhkan rasa gatal di badan Farah.


Memandang sepasang suami istri itu dari jauh, Ratna tersenyum puas. Ia yakin, uang arisan yang didapatkan Farah kemarin telah dipakai untuk berobat. Tinggal menunggu waktu saja agar dendamnya terbalaskan sepenuhnya.