SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Derita Belum Berakhir


Menuju jalan pulang, Sukma dan Atikah mampir dulu di warung penjual jus. Atikah benar-benar jengkel dengan sikap tak konsisten adiknya. Tak henti-hentinya gadis itu menggerutu pada si bungsu yang mendadak ciut nyali tatkala melihat wanita seusia ibu mereka sedang kewalahan menyuapi anak kecil.


Setelah pesanan mereka datang, Atikah langsung menyeruput jus jeruk di tangannya. Rasa asam manis dan dingin mampu meredakan kejengkelannya sedikit demi sedikit. Adapun Sukma yang dari tadi diam saja diomeli oleh sang kakak, akhirnya mulai berani membuka pembicaraan.


"Teh, ibu-ibu itu kasihan banget, ya. Anaknya kerja, cucunya dititipin ke dia. Kalau nanti cucunya lari-lari ke jalan raya terus nggak kekejar, nanti pasti neneknya yang disalahin. Ibu itu seumuran sama ibu kita. Tenaganya udah berkurang karena dimakan usia," kata Sukma sambil menatap nanar ke depan. Jus alpukat pesanannya masih belum diseruput.


"Bodo amat, Dek! Teteh mah pura-pura nggak denger Dedek aja. Kata Teteh juga apa, nanti aja agak sorean. Kalau kita perginya nanti, pasti bakal ketemu sama itu bapak-bapak nyebelin. Kamu mah lihat nenek ngejar-ngejar cucunya buat makan aja malah ciut. Tahu begini mah, Teteh mending lihat-lihat foto A Albi aja," cerocos Atikah, lalu menyeruput jusnya.


"Euh ... Susah, ya, kalau ngajak kompromi sama orang yang lagi kasmaran mah. Kan udah Dedek bilangin, Teteh jangan mau jatuh cinta sama A Albi," gerutu Sukma, berhenti sejenak menatap kakaknya.


"Da atuh gimana lagi? Teteh teh suka banget sama A Albi sejak ketemu lagi di rumah. Di sekolah Teteh mah nggak ada yang kayak dia. Udah ganteng, tinggi, kekar, idungnya mancung kayak Pangeran Arab. Aduh, Teteh mah terkesima banget sama cowok goodlooking," ucap Atikah dengan mata berbinar-binar membayangkan paras Albi dan melanjutkan perjalanan pulang.


"Ah, udahlah. Nanti aja ngobrolin A Albi-nya. Sekarang kita harus fokus nyelametin Bapak biar tetap hidup. Dedek takut, kalau nanti Bapak sampai batuk-batuk lagi keluar darah," tukas Sukma mengingatkan.


"Kalau nanti Dedek lihat lagi dedemitnya, gusur aja lagi dia keluar. Terus tanyain deh siapa yang nyuruh dia. Siapa tahu aja kali ini dedemitnya bisa diajak ngobrol," cetus Atikah menyepelekan.


Sukma mendelik tajam.


"Bener, kan, kata Teteh?" Atikah menatap kedua mata adiknya.


"Ah, susah ngajak ngobrol sama orang yang lagi bucin mah," celetuk Sukma mendengkus.


"Dedek mah kayak yang nggak ngalamin masa puber aja. Nanti juga kalau Dedek jatuh cinta sama laki-laki, pasti bakalan lupa sama keluarga," sanggah Atikah membela diri.


"Kalau gitu mah mending nggak usah naksir cowok aja sekalian," kata Sukma dengan ketus.


Atikah tak menghiraukan ucapan Sukma. Keduanya kembali berjalan menuju rumah. Sembari menyeruput jus alpukat di tangan, Sukma merasa ada yang berbeda pada dirinya. Ia terheran-heran tatkala menyadari ada empati dalam nuraninya. Benar kata Wanara, kekuatannya untuk melawan dedemit akan berkurang jika sisi manusiawi lebih mendominasi. Namun, Sukma tetaplah memiliki jasad dan hati layaknya manusia biasa. Sangat sulit bagi Sukma jika harus menyingkirkan sisi manusia dan membangkitkan wujud iblis pada saat bersamaan.


...****************...


Angkringan Pak Risman sudah berdiri lagi di pinggir jalan. Kesibukan dimulai saat pelanggan bermunculan satu per satu. Pelayanan keluarga pria itu begitu ramah, sehingga tak jarang dari para pembeli yang nyaman menyantap pecel lele sembari berbincang ringan.


Sukma merasa bergidik ngeri ketika akan memasuki angkringan sang ayah. Ada hal ganjil yang tak bisa dikatakan oleh hatinya. Sesekali, ia memandang ke arah angkringan pecel lele di seberang jalan. Ternyata Pak Jaka juga berjualan lagi malam ini.


Tanpa berpikir panjang, Sukma menyeberang jalan. Segenggam amarah membara membakar hatinya tatkala melihat wajah pengirim kedengkian pada usaha sang ayah. Adapun Pak Jaka yang menyadari biang laris saingannya datang ke angkringan miliknya, tampak berusaha tetap tenang dan menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibirnya.


Sesampainya di angkringan Pak Jaka, gadis itu menggebrak meja sekeras mungkin sambil mendengkus keras. Pria pemilik angkringan bersikap sangat tenang, seolah-olah tak tahu maksud kedatangan Sukma.


"Adek mau pesan pecel lele?" tanya Pak Jaka tersenyum ramah, layaknya pedagang menyambut pembeli.


"Aku nggak mau berbasa-basi lagi," ucap Sukma menatap tajam pria di hadapannya. "Ngaku aja! Kamu kan yang ngirimin dedemit sama Bapak?"


"Adek ini bicara apa? Sebaiknya duduk dulu. Nanti saya buatkan pecel lele," ujar Pak Jaka.


Melihat tingkah sok lugu dari Pak Jaka, Sukma semakin berang. Terlintas dalam ingatannya, tentang Wanara yang menyarankan untuk menyingkirkan sisi manusiawi. Tanpa basa-basi, ia menarik kerah baju Pak Jaka dan memelototinya.


"Jangan pura-pura, Pak! Saya tahu apa yang Bapak perbuat," geram Sukma, sembari mengepalkan tangan sebelah kirinya yang siap mengirim bogem mentah ke wajah Pak Jaka.


"Kalau iya, memangnya kenapa?"


"Bedebah kau!"


Sementara itu dari seberang jalan, tampak Atikah dan Pak Risman terkejut melihat Sukma sedang membuat perhitungan pada Pak Jaka. Secepatnya mereka meninggalkan angkringan, lalu menyeberang jalan. Bu Inah yang melihat suami dan anaknya pergi menuju angkringan seberang, berusaha menahan diri demi melayani para pembeli.


Setibanya di angkringan Pak Jaka, Pak Risman segera menarik tubuh si bungsu yang hendak meluncurkan bogem mentah ke wajah saingannya. Ia begitu malu dengan sikap putrinya yang tak bisa meredam amarah. Sementara Pak Risman hendak membantu Pak Jaka berdiri, Atikah justru kesal melihat sikap ayahnya yang sangat naif. Namun, gadis itu tetap berusaha menahan adiknya tetap jauh dari Pak Jaka.


"Kamu juga harus ikut mati kalau bapak aku mati!" bentak Sukma yang masih gusar pada Pak Jaka.


"Dedek, diam! Cepat kembali bantu-bantu Ibu!" sergah Pak Risman memelototi si bungsu.


"Bapak ini ngapain bantuin dia, sih? Udah jelas-jelas dia pengin lihat Bapak hancur," tukas Atikah dengan memberengut.


"Atikah, kamu jangan ikut-ikutan kayak adekmu! Cepat pulang ke rumah! Bapak nggak mau lihat Dedek ngajak ribut lagi," tegur Pak Risman mulai kesal.


Kendati merasa gemas dengan Pak Risman, Atikah tak mau mendebat ayahnya. Bergegas ia menyeret adiknya ke seberang jalan, lalu duduk sebentar di angkringan. Tentu saja para pelanggan penasaran dengan sesuatu yang terjadi antara Sukma dan Pak Jaka. Bu Inah segera meredam rasa penasaran pengunjung angkringan dengan beralasan, bahwa sesuatu yang telah terjadi hanya masalah pribadi.


Di seberang jalan, Pak Risman meminta maaf atas perilaku Sukma. Ia sama sekali tak tahu bahwa putrinya akan bertindak brutal pada Pak Jaka. Namun, bagi Pak Jaka, memantik amarah Sukma merupakan salah satu keuntungan bagi usahanya.


"Ah, nggak apa-apa, Pak Risman. Anak remaja emosinya masih labil. Wajar dia bersikap begitu," ucap Pak Jaka mencairkan suasana canggung.


"Sekali lagi, saya minta maaf atas nama putri saya."


Berbeda dengan Pak Risman, Sukma justru semakin menjadi. Atikah dan Bu Inah memegang erat tubuh gadis itu agar tidak beranjak lagi dari tempat jualan ayahnya. Sukma benar-benar geram, terlebih ketika menyadari ada makhluk hitam besar sedang bersembunyi di antara pengunjung. Ingin sekali ia membuat perhitungan dengan jin kiriman Mbah Kasiman itu. Namun, Atikah dan Bu Inah terus memaksanya agar tetap tenang, demi menghindari prasangka pengunjung yang kadung memburuk sejak Sukma menghajar Pak Jaka.


"Atikah, sebaiknya bawa Dedek pulang. Nggak enak dilihat sama pembeli," ujar Bu Inah.


Atikah mengangguk cepat, kemudian mengantar adiknya pulang. Baru kali ini ia melihat Sukma tampak sangat marah sperti orang kesurupan. Gadis itu paham betul, bahwa sang adik mengkhawatirkan ayahnya. Akan tetapi, tindakan gegabah Sukma bisa saja secara tidak langsung membawa kerugian bagi usaha Pak Risman.


Setibanya di rumah, Sukma membantingkan badannya ke kasur. Ia merasa sedih, sebab telah gagal mencegah sesuatu yang buruk pada ayah angkatnya. Kendati demikian, Atikah selalu bersedia menjadi tempat bersandar sang adik dikala sedih. Dipeluknya dengan erat adiknya yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Dek, udahan ya nangisnya. Teteh juga sebenernya jengkel sama kelakuan Bapak yang sok ngebelain tukang pecel lele saingannya," kata Atikah mengusap-usap punggung adiknya.


"Teh, kenapa, sih, Bapak nggak ngerti terus sama kemauan Dedek? Padahal Dedek ngelakuin itu karena khawatir sama Bapak," lirih Sukma sesenggukan.


Atikah menyeka air mata Sukma. "Udah, Dek. Jangan nangis lagi, ya. Sebaiknya sekarang pikirin cara buat nyingkirin dedemitnya, sekalian tanyain yang ngirimnya siapa."


"Tapi gimana kalau dedemitnya nggak bisa ngomong lagi?"


"Yang sekarang pasti bakalan ngomong, Dek. Teteh yakin," ujar Atikah menguatkan hati Sukma.


Sementara Atikah membujuk Sukma untuk tenang, Pak Risman mulai merasakan guna-guna yang dikirim Pak Jaka. Tubuh pria itu perlahan terasa remuk redam. Bahunya terasa berat, hingga tak mampu lagi menopang kedua kaki untuk berdiri.


Semakin malam, kondisi Pak Risman memburuk. Terpaksa, ia bersama istrinya menutup angkringan lebih awal. Pria itu berjalan tertatih-tatih sembari mendorong gerobak.


Sukma dan Atikah merasa prihatin melihat sang ayah yang terlihat lunglai. Pandangan Sukma langsung tertuju pada makhluk tinggi besar berbulu hitam lebat yang duduk di bahu Pak Risman. Makhluk itu tampak tertawa-tawa mengoyak kepala Pak Risman.


Ketika Pak Risman duduk di kursi ruang tamu, Sukma segera menyeret makhluk gaib dari tubuh sang ayah. Bu Inah yang baru saja tiba di rumah, tiba-tiba terkejut melihat tingkah aneh anak bungsunya. Dengan menggeram, Sukma menggusur makhluk itu keluar rumah. Gadis itu benar-benar kepayahan membawa makhluk yang lebih besar dari sebelumnya.


Pak Risman tercengang tatkala tubuhnya berangsur pulih. Rasa sakit yang dideritanya seketika hilang. Atikah yang melihat sang ayah kembali bugar, langsung mencercanya dengan ketus.


"Sekarang Bapak udah baikan, kan? Beruntung ada Dedek yang bisa nanganin hal gaib. Coba aja Bapak sedikit aja ngertiin maunya Dedek. Dedek cuma khawatir Bapak kenapa-kenapa, tapi Bapak justru ngebelain orang yang mau nyelakain Bapak. Atikah benci sama sikap naif Bapak," cerocos Atikah, meluapkan kekesalannya yang sejak tadi tertahan.