
Sepulangnya mengantar Sukma, Bu Inah merasa gusar saat mendapati suaminya sedang mengakui hal yang tak pernah diperbuatnya pada sang majikan di ruang makan. Wanita paruh baya itu segera menghampiri Pak Risman yang tertunduk lesu di hadapan Farah dan Arini. Didorongnya Pak Risman sampai tubuhnya hampir terjengkang, lalu memelototinya.
"Astaghfirullah, Pak! Nyebut, Pak. Nyebuuut! Sejak kapan kita melakukan hal musyrik sampai mau menumbalkan majikan sendiri?" tanya Bu Inah dengan nada tinggi.
Pak Risman tampak gugup melihat kemarahan di wajah sang istri. Ia tak bisa mengangkat kepalanya dengan tegak.
"Sekarang kamu dengar sendiri, kan? Suami kamu itu udah berbuat jahat sama saya. Saya benar-benar nggak nyangka, kalian bisa setega ini sama saya," kata Farah mulai memojokkan Bu Inah. "Pantesan kelakuan anaknya aneh. Ternyata orang tuanya pemuja setan."
"Ya Allah, Bu Farah. Saya bersumpah, kami sekeluarga tidak pernah menyekutukan Allah," kata Bu Inah membela diri.
"Sudahlah, Bu Inah, jangan berbohong lagi," kata Arini memegangi bahu Bu Inah. "Terima saja. Kenyataannya suami Ibu mau menumbalkan keponakan saya."
"Nggak mungkin!" elak Bu Inah, lalu menatap lekat kedua mata suaminya. "Bapak ngomong dong sama mereka, kalau Bapak nggak pernah melakukan hal musyrik!"
"Bu Inah, jangan coba-coba mempengaruhi Pak Risman! Kalau dia sudah mengakui, ya sudah," ujar Farah kesal.
"Demi Allah, Bu Farah, kami nggak pernah melakukan hal sekeji itu. Jangankan menumbalkan Ibu, memuja setan pun tak pernah," jelas Bu Inah dengan wajah memelas.
"Begini saja, daripada Bu Inah terus-terusan marah nggak jelas, mending kita dapatkan buktinya ke paviliun," usul Arini mencoba menengahi.
"Bukti? Bukti apa, Bu? Mau dicari sampai ke lubang semut sekalipun kalian nggak akan pernah nemu bukti pemujaan," kata Bu Inah bersikukuh pada pendiriannya.
Farah dan Arini tak menghiraukan Bu Inah. Mereka bergegas menuju paviliun untuk mencari bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Pak Risman telah melakukan pemujaan. Bu Inah merasa gemas melihat ketidaktegasan sang suami. Sepanjang perjalanan menuju paviliun, ia terus menerus mengomeli Pak Risman. Namun, Pak Risman tetap saja bergeming.
Sementara mereka menuju paviliun, Wanara dan wanita tua yang menghuni kamar saling bercakap-cakap. Wanita tua itu tak habis pikir, Wanara bisa berteman dengan Sukma dengan mudah.
"Kelebihan kamu itu apa, Wanara? Bagaimana bisa bocah yang sejak dulu menjadi incaranku bisa lebih sayang sama kamu?" tanya wanita tua itu, kaki-kakinya menempel di dinding kamar.
"Aku ini sulit ditaklukkan. Makanya dia penasaran terus," jawabnya sambil menyantap sesajen yang ditaruh orang misterius di bawah spring bed.
"Sulit ditaklukkan bagaimana maksudmu? Kamu ini tinggal dikasih makan saja sudah patuh sama bocah itu."
"Itulah yang manusia tidak tahu. Cara menaklukanku memang mudah, tapi kebanyakan manusia lebih suka melakukan hal yang rumit."
"Wanara, Wanara. Kamu memang beruntung, bisa disayangi putri iblis dengan cepat. Sepertinya raja kita akan memberikan kamu banyak penghargaan."
"Penghargaan? Penghargaan apa?"
"Kamu bisa diangkat menjadi tangan kanan raja."
Kedua mata Wanara berbinar-binar mendengar perkataan si wanita tua.
"Tapi kamu harus hati-hati. Satu kali saja kamu melakukan kesalahan dan menyakiti bocah itu, tenaga kamu akan diserap semuanya sampai tak tersisa."
"Tenang saja, aku hanya melukai manusia yang sudah ditumbalkan untukku. Bukan anak iblis."
"Baguslah kalau begitu."
Ketika hendak menghabiskan sesajen, terdengar suara keributan dari luar kamar. Terlihat Farah dan Arini memasuki kamar, lalu disusul oleh sepasang suami istri penghuni paviliun. Wanara terkejut, mengetahui kedatangan mereka dan melindungi makanannya.
Sementara itu, Farah dan Bu Inah tercengang mendapati sebuah sesajen tersimpan di dekat tempat tidur. Pun dengan Pak Risman, yang tak menyangka ada benda itu di kamarnya. Sedangkan Arini yang sudah melaksanakan rencana buatannya dengan Mbah Suro sejak kemarin, diam-diam tersenyum kecil di balik tangannya.
Tanpa berpikir panjang, Farah mengambil sesajen dengan cepat, lalu melemparnya. Tentu saja, Wanara naik pitam di buatnya.
"Dasar manusia keparat! Aku belum selesai makan!" geram Wanara.
"Tahan dirimu, Wanara!" seru wanita tua itu merayap menghampiri Wanara.
Wanara tak tahan lagi menahan amarahnya. Kera itu mencabik-cabik kulit Farah, hingga manusia yang dijadikan tumbal itu kembali merasakan gatal hebat di sekujur tubuhnya. Farah menggaruk tangan dan lehernya sambil menjerit kesakitan.
Keadaan ini memudahkan Arini untuk semakin memojokkan Pak Risman. Dengan berpura-pura kasihan pada keponakannya, ia mengusap-usap tubuh Farah. Wajahnya dibuat-buat panik, berusaha membuat Farah percaya pada perkataannya.
"Makanya, kamu ini jangan ngelempar sesajen sembarangan. Bisa jadi silumannya sedang makanin sesajen itu," kata Arini mengusap-usap lengan Farah.
"Tolongin aku, Tante. Aku nggak kuat nahan gatal lagi," rengek Farah sembari menggaruk-garuk punggungnya.
Arini menatap tajam pada Pak Risman dan Bu Inah, lalu berkata, "Mau mengelak seperti apa lagi kalian kalau sudah begini?"
"Tapi kami nggak pernah melakukan pemujaan apa pun, Bu Arini. Kami juga nggak tahu siapa yang menaruh sesajen itu," tutur Bu Inah membela diri.
"Sudah! Percuma saja kalian ngeles. Buktinya udah ada! Sekarang juga, kalian pergi dari sini!" hardik Farah.
"Saya mohon, Bu. Jangan usir kami. Beri kami waktu untuk membuktikan bahwa kami tidak melakukan hal buruk sama Ibu," pinta Bu Inah bersimpuh di hadapan Farah.
"Bukti apa lagi yang mau kamu tunjukkan, Bu Inah? Sudah cukup! Sekarang kemasi barang-barang kalian dan pergi dari sini! Nggak usah nunggu Mas Hilman pulang!" bentak Farah sambil menunjuk ke arah pintu.
"Bu, saya mohon, Bu," pinta Bu Inah dengan mata berkaca-kaca.
Farah tidak memedulikan permohonan Bu Inah. Bersama Arini, ia meninggalkan paviliun itu sembari membawa rasa gatal dan berat di punggungnya. Sementara itu, Pak Risman tak bisa berkutik melihat istrinya menangis tersedu-sedu atas perbuatannya.
Bu Inah bersandar ke tembok, tangisannya semakin nyaring. Tak habis pikir ia pada kelakuan suaminya, hingga harus menyakiti diri dengan membenturkan kepalanya berkali-kali. Sungguh, wanita itu tak sanggup jika harus kembali ke kehidupan dahulu, yang serba susah dan penuh hinaan.
Merasa iba pada Bu Inah, Pak Risman terduduk, lalu mengusap bahu istrinya. "Sudah, Bu. Ikhlaskan saja."
"Bagaimana Ibu bisa mengikhlaskannya, Pak? Kalau Bapak nggak mengaku sudah menumbalkan Bu Farah, kita nggak bakal diusir. Sebenarnya Bapak ini kenapa, sih, sampai berbuat konyol begini?"
"S-sebenernya Bapak ... B-Bapak kasihan sama Pak Hilman, Bu. Usahanya sedang menurun. Bapak nggak mau membebaninya terus."
Bu Inah menoleh pada Pak Risman dan menatap tajam. "Apa? Kasihan? Membebani? Bilang sama Ibu, Pak! Siapa yang perlu dikasihani? Orang miskin atau orang kaya? Terus, Bapak bilang kita ini membebani Pak Hilman? Coba sebutkan, sebelah mananya kita membebani Pak Hilman! Kita di sini kerja, Pak, bukan cuma numpang tinggal! Wajar kalau mendapatkan upah dari hasil keringat kita untuk menata rumah mereka. Kalaupun Pak Hilman merasa terbebani, biar dia saja yang memutuskan kita tinggal di sini atau tidak. Toh dia sendiri yang bawa kita ke sini. Bukan malah melakukan hal konyol seperti ini!"
"Maafkan Bapak, Bu. Bapak nggak tega dengar kesulitan yang sedang dihadapi Pak Hilman sekarang."
"Dari dulu Bapak ini naif sekali. Dulu waktu kita pertama kali menemukan Sukma, Bapak malah ngasih uang pemberian Pak Hilman ke Pak Subekti. Padahal Bapak juga tahu, kan, Pak Subekti itu culas? Boro-boro ngembaliin uang pinjaman, pas ditagih aja dia malah lebih galak dari yang ngasih utang."
"Sudah, Bu. Nggak usah ungkit lagi masalah yang dulu-dulu."
"Memang kenyataannya begitu, kan?"
"Tapi sekarang keadaannya berbeda, Bu. Tadi Bu Arini ngasih uang buat kita menyambung biaya hidup setelah pergi dari sini. Ibu jangan sedih lagi, ya."
Mendengar ucapan suaminya, Bu Inah tidak serta merta senang akan hal itu. Ia justru mencurigai, bahwa Arini tidak mungkin memberi uang secara cuma-cuma. Ditatapnya lagi Pak Risman dengan penuh tanya.
"Bapak nggak punya pilihan lain, Bu. Bapak kasihan sama Ibu, sama Atikah juga. Kalian suka mengeluh ingin keluar dari sini karena nggak kuat dihina terus sama Bu Farah."
"Tapi nggak begini juga caranya, Pak," kata Bu Inah, lalu mengembuskan napas berat. "Bapak tahu, apa yang bakal dikatakan orang-orang di luar sana setelah kita pergi dari sini? Kita bakal dituduh melakukan perbuatan musyrik dan keji pada keluarga Pak Hilman, Pak! Ibu benar-benar nggak sanggup menanggung aib sebesar ini. Kalaupun suatu hari nanti kita berhasil membuka usaha dengan cara yang jujur, orang-orang akan tetap berpikir kita ini menjadi kaya karena bantuan jin."
Cukup lama Pak Risman termenung membayangkan segala hal buruk yang akan menimpanya kelak. Namun, beberapa saat kemudian Pak Risman mendapatkan sebuah ide. "Begini saja, Bu. Kita pergi ke tempat yang jauh, di mana orang-orang nggak tahu kita sebelumnya. Dengan begitu, Ibu nggak perlu merasa malu karena menanggung aib yang disebabkan sama Bapak," katanya.
"Terserah Bapak, deh. Sambil menunggu anak-anak pulang, sekarang kemasi barang-barang kita. Ibu harap, semua ini tidak berlarut-larut. Ibu nggak sanggup, Pak, dituduh berbuat musyrik sama orang lain. Padahal selama ini kita hanya menjadikan Allah sebagai sandaran hidup."
...****************...
Pulang sekolah, Sukma membawa raut cemberut di wajahnya. Tampaknya ia kesal karena tidak dijemput oleh ibunya. Sambil menendang-nendang kerikil, gadis kecil itu memasuki halaman depan rumah Hilman. Ketika menebarkan pandangan ke sekitarnya, ia terkejut melihat Farah sedang menggaruk-garuk badan di balkon. Bukan itu saja, Sukma terperangah mendapati Wanara sedang menggigiti tangan Farah.
Secepatnya Sukma berlari memasuki rumah Hilman. Dipijaknya satu per satu anak tangga, hingga akhirnya tiba di lantai dua. Terlihat Farah sedang menjerit kesakitan dan mengeluh rasa gatalnya semakin parah saja. Wanara yang masih kesal karena makanannya dirusak pun, masih enggan melepaskan gigitannya.
"Ya ampun, Wanara! Lepasin tangan Tante Farah!" teriak Sukma menghampiri siluman kera itu sambil menenteng sebuah pisang di tangannya. "Aku udah bawain pisang buat kamu!"
Menyadari kehadiran Sukma di rumahnya, Farah membalikkan badan sambil meringis. Ia berusaha untuk mengusir gadis kecil itu dari balkon, tapi rasa gatal di tubuhnya seperti tak mengizinkan untuk membentak Sukma.
Sementara itu, Sukma geram melihat Wanara tak menuruti perintahnya. Segera gadis kecil itu menarik ekor Wanara, lalu menariknya jauh dari Farah. Siluman kera itu melompat-lompat ingin menyakiti Farah lebih banyak lagi. Namun, genggaman tangan Sukma di ekornya, membuatnya kesulitan untuk berkutik.
"Kamu ini jangan nakal, Wanara! Lihat tuh, Tante Farah kesakitan! Udah aku bilangin, kan, makanan kamu itu pisang, bukan orang!" cerocos Sukma, lalu menggetok kepala Wanara dengan pisang.
"Ampun, Sukma. Aku kesal pada wanita itu karena telah merusak makananku," jelas Wanara dengan suara tercekat sambil mengelus-elus kepalanya.
"Sudahlah, jangan banyak alasan! Sekarang ikut aku pulang. Aku sudah bawain banyak pisang buat kamu."
"Pisang? Asyik!" seru Wanara melompat-lompat kegirangan.
Tanpa berpamitan pada Farah, Sukma menuruni tangga sambil memegangi ekor Wanara. Farah yang melihat tingkah aneh Sukma, semakin yakin bahwa keluarga Pak Risman memang menganut ilmu hitam. Akan tetapi, di sisi lain rasa gatal di tubuhnya semakin berkurang, sehingga menimbulkan keraguan di benaknya.
Selepas Sukma pergi, Arini datang ke lantai dua sambil membawa minuman herbal. Farah yang sedang termenung memandangi Sukma pulang ke paviliun, seketika terhenyak menyadari bibinya sudah berdiri di dekatnya.
"Lihatin siapa kamu, Farah? Sukma?" tanya Arini.
"Tante, aku heran sama anak itu. Tadi sia ke sini sambil manggil-manggil nama 'Wanara' gitu. Tapi setelah dia pergi, gatal-gatal di badan aku kok mendadak hilang, ya?"
Arini tertegun mendengar penuturan Farah. Kekhawatirannya pada Sukma semakin membesar, terlebih ketika melihat keraguan di wajah keponakannya. Bagaimanapun juga, Arini tak mau jika Sukma tetap tinggal di kediaman Hilman. Ia mendapatkan ide untuk menghasut Farah agar tetap pada pendiriannya mengusir keluarga Pak Risman.
"Namanya juga anak pemuja setan. Kayaknya dia bisa lihat siluman kiriman bapaknya. Makanya bisa ngambil siluman itu kapan aja."
"Gitu, ya. Tante tahu dari mana soal itu?"
Arini mulai gugup. "T-Tante ... Tante suka denger-denger dari warga sekitar tentang keluarga yang memuja setan," jelasnya terbata-bata. "Ah, sudahlah lupakan saja. Tante udah bikinin kamu minuman ini. Siapa tahu rasa gatalnya berkurang."
Farah menuruti Arini, lalu meminum minuman herbal itu. Rasa hangat di tenggorokan, membuat Farah meneguknya lagi hingga tandas. Arini merasa lega melihat Farah yang tak menggaruk-garuk badannya lagi.
Sementara itu, Sukma yang baru saja tiba di paviliun, terheran-heran melihat kedua orang tuanya sedang membungkus beberapa barang dan pakaian. Sambil membawa masuk Wanara ke dalam, ia menghampiri ibunya yang sesenggukan memasukkan pakaian ke dalam tas besar.
"Kita mau ke mana, Bu? Kok baju-bajunya dimasukin ke tas? Ah, pasti kita mau jalan-jalan. Iya, kan?" tanya Sukma dengan mata berbinar-binar.
Tak sanggup menunjukkan kesedihan di depan si bungsu, Bu Inah tetap bergeming. Ia lanjut mengambil pakaian dari lemari, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Tak lama kemudian, Pak Risman datang dari dapur dengan membawa kardus yang sudah diisi barang-barang. Sukma semakin heran melihat ayahnya membawa kardus sebesar itu, terlebih saat menengok ke dapur yang kosong.
"Pak, mau dikemanain barang-barang dari dapur? Kok jalan-jalan malah bawa semua barang dari sini?" tanya Sukma.
"Kita semua akan pindah, Dek," jawab Pak Risman singkat.
"Pindah? Ke mana?"
"Ke tempat yang jauh dari sini."
"Oh. Terus, nanti kita pulang ke sini lagi?"
"Nggak, Dek. Kita nggak akan pernah ke sini lagi," sela Bu Inah.
"Loh, kok gitu?"
"Daripada banyak tanya, mendingan Dedek bantuin Ibu beresin barang-barangnya."
Sukma yang masih cemberut, terpaksa mengambil mainannya dan mengemasnya ke dalam tas. Pun dengan Pak Risman dan Bu Inah, melanjutkan kegiatannya membereskan barang-barang. Sesekali Sukma menebarkan pandangan ke sekitar ruangan. Betapa berat hatinya jika harus meninggalkan tempatnya dibesarkan bersama kenangan-kenangan indah di dalamnya.
Menjelang zuhur, keluarga Pak Risman sudah selesai membereskan barang-barangnya. Atikah yang baru saja pulang sekolah, mengernyitkan kening memandang Pak Risman mengeluarkan tas dan kardus ke teras paviliun. Segera ia berlari menuju tempat tinggalnya, menjumpai sang ayah.
Sama seperti adiknya, Atikah mengajukan pertanyaan tentang kepindahan mereka. Pak Risman pun menjawab hal serupa pada si sulung, bahwa mereka akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Dari dalam paviliun, Bu Inah keluar bersama Sukma sambil menggendong tas berisi pakaian. Disusul oleh Wanara yang sejak tadi membuntuti adiknya terus.
"Ayo, kita pergi sekarang!" ajak Bu Inah bernada lesu.
Atikah menelan ludah tatkala menatap Wanara berjalan di belakang Sukma. Sesaat kemudian, ia terhenyak dan membawa salah satu tas yang menurutnya ringan dibawa. Dengan gontai, keluarga kecil itu meninggalkan paviliun penuh kenangan yang ditinggalinya selama bertahun-tahun.
Kepergian mereka terkesan tak diacuhkan oleh pegawai lain di kediaman Hilman. Bi Reni dan satpam yang menjadi rekan kerja Pak Risman dan Bu Inah, seolah enggan mengucapkan perpisahan setelah tahu bahwa keluarga itu mengirimkan jin untuk menghabisi majikannya. Mereka justru lanjut bekerja seolah tak terjadi apa pun di sana.
Sebelum keluar dari gerbang, Farah dan Arini menghampiri mereka. Keduanya tampak senang melihat keluarga Pak Risman menuruti perintahnya.
"Pergilah dan jangan kembali! Kami tidak sudi menerima pemuja setan yang ingin menghabisi majikannya sendiri," ucap Farah dengan angkuh.
"Pemuja setan?" Sukma termenung, lalu melirik pada Wanara di sampingnya. "Wanara, bukannya orang yang mengirim kamu itu dukun suruhannya teman Tante Farah, ya?"
Wanara mengangguk.
"Tante Farah, monyetnya bilang kalau dia dikirim sama dukun suruhannya teman Tante," kata Sukma dengan lantang.
Bu Inah tak mau masalahnya menjadi panjang gara-gara Sukma. Tanpa banyak berbasa-basi, ia menarik tubuh putrinya, lalu melenggang pergi. Begitu pula Pak Risman, yang sudah terlanjur malu akan perbuatannya sendiri. Farah pun kembali ke rumahnya dengan santai, merasa beban yang mengganjal di dadanya sejak lama, seketika menghilang hari ini.
Keluarga Pak Risman akhirnya keluar dari kediaman Hilman. Mereka tak menengok lagi ke belakang. Sakit rasanya jika harus mengingat-ingat pengusiran pahit yang dialami hari ini. Akan tetapi, mereka tidak serta merta pergi dengan mudah. Si bungsu tiba-tiba berbalik badan dan berteriak tatkala melihat kera kesayangannya ditarik oleh selembar benang dari belakang.
"Wanara! Wanara! Jangan pergi!" teriak Sukma berlari, lalu menarik tangan siluman kera itu.
Atikah terperangah melihat adiknya menarik kera besar itu. Tubuhnya seketika mematung tatkala si kera menjerit kesakitan akibat lilitan kain di lehernya. Tak hanya itu saja, dari kejauhan Atikah melihat seorang pria tua sedang menarik kain yang melilit Wanara dari balik pohon.