SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kasarung


"Kamu tuh nggak usah lebay, deh. Lagian nanti juga kita bakalan pulang." Si rambut ikal menyepelekan kekesalan Sukma.


"Aku tuh bukan lebay, tapi khawatir! Kayaknya kalian nggak sadar kalau udah kasarung di hutan ini," bantah Sukma bersungut-sungut.


"Apa kata kamu? Kasarung? Kamu pikir kita ini lagi cosplay jadi Lutung Kasarung apa? Kami ini manusia, bukan lutung!" ucap si lelaki berjaket merah.


Sukma menepuk jidatnya sambil menggeleng lemah. "Kalian nggak paham, ya, sama artinya kasarung? Aku jelasin, ya. Kalian ini udah masuk ke alam lain dan nggak bisa pulang gitu aja. Kalaupun ada orang yang lewat kemari, kalian nggak bakalan kelihatan, bahkan teriak-teriak sekalipun nggak akan kedengeran."


"Ah, yang bener?" tanya si rambut ikal sangsi. Pandangannya sekonyong-konyong tertuju pada rombongan pendaki yang ikut mencari mereka. "Nah, tuh ada banyak orang lewat. Aku panggilin, oke?"


Melihat tim pencari berada di atas mereka, Sukma semakin waswas. Waktu di dimensi manusia sudah beranjak pagi. Ia tahu betul, waktu di alam manusia berjalan lebih cepat daripada di alam gaib.


Sementara itu, si ikal masih berusaha berteriak-teriak sembari melambaikan kedua tangannya memanggil tim pencari. Usahanya tetaplah sia-sia, sebab orang-orang yang berada di dekat mereka tak mendengar apapun. Kedua temannya ikut melakukan hal yang sama dengan si ikal. Namun, tetap saja panggilan mereka tidak digubris.


"Mereka orang-orang budeg kali, ya? Kita udah manggil kenceng banget loh, tapi nggak kedengeran," cetus lelaki berjaket merah.


"Mungkin kita kejauhan, makanya nggak kedengeran," kata lelaki berkupluk hitam.


"Kita ke sana, yuk!" ajak si ikal.


Ketiganya bergegas mendaki ke sisi hutan yang lebih tinggi. Penjelasan Sukma hanya dianggap angin lalu. Gadis itu mencoba bersabar, mengikuti kakak-kakak kelasnya yang keras kepala.


Sesampainya di sisi hutan dekat para pencari, si ikal buru-buru berlari mendekati seorang lelaki berusia dua puluh tahunan. Ditepuknya punggung lelaki itu sampai menoleh. Alih-alih menyadari kehadiran tiga anak hilang, salah satu anggota tim pencari itu justru celingukan. Ia tak melihat siapa pun di belakangnya dan lanjut berjalan.


Si ikal tak mau menyerah dan terus mengejar anggota tim pencari. Ditepuknya lagi punggung pria berusia dua puluh tahunan itu, tapi reaksinya tetap sama. Si ikal hanya berdiri mematung dengan rasa sesak yang mengganjal dadanya.


"Gimana? Kalian masih nggak percaya?" tanya Sukma dengan ketus.


"Jadi ... Kita ini benar-benar kasarung?" gumam si jaket merah.


"Kalau mereka nggak nyadar kita ada di sini, terus gimana caranya kita bisa pulang?" tanya si kupluk hitam mulai panik.


"Kita ikutin aja orang-orang itu, pasti kita sampai kok di bawah," saran si ikal.


"Nggak semudah itu! Kalaupun kita bisa sampai di bawah, mereka akan tetap nyariin kita," bantah Sukma geram. "Oh, ya. Apa kalian lihat Pak Kepala Sekolah juga?"


"Tadi aku sempet lihat, sih. Dia lagi ngikutin monyet gede ke arah sana, tapi udah nggak kelihatan lagi," jawab si kupluk hitam, menunjuk ke arah terakhir kali melihat kepala sekolah pergi.


"Terus, sekarang kita harus gimana? Nyariin Pak Kepsek juga?" tanya si ikal.


"Sebaiknya sekarang kalian ikut aku dulu. Akan aku tunjukin jalan keluarnya," ujar Sukma.


Ketiga lelaki itu saling bertatap-tatapan. Mereka tampak sangsi dengan ajakan Sukma. Namun, mereka tetap mengikuti gadis berkulit pucat itu dari belakang.


Di alam manusia, berita hilangnya kepala sekolah dan empat siswa menyebar dengan cepat. Rombongan bus yang membawa para siswa, sudah kembali ke kota sejak subuh. Guru-guru menghubungi orang tua siswa yang hilang sejak kemarin sore. Jelas saja, hal itu membuat para orang tua khawatir.


Mendengar kabar buruk tentang hilangnya Sukma lewat telepon, sekujur tubuh Bu Inah gemetar. Kekhawatirannya menjadi kenyataan. Tanpa disadari, ponsel terjatuh begitu saja dari tangannya. Atikah yang melihat sang ibu menangis, segera menghampirinya.


"Ada apa, Bu?" tanya Atikah ikut cemas.


"Dedek, Atikah ... Dedek!" lirih Bu Inah dengan suara tercekat, matanya berkaca-kaca.


"Dedek? Ada apa sama Dedek, Bu? Dedek baik-baik aja, kan?"


"Dedek hilang di gunung, Atikah."


Kedua mata Atikah terbelalak. Gadis itu tampak syok mendengar kabar buruk dari ibunya. Akan tetapi, ia berusaha tetap tenang agar ibunya tak terlalu sedih.


"Bu, sebaiknya kita doakan yang terbaik buat Dedek, ya. Mudah-mudahan Dedek cepet ketemu," ujar Atikah, berusaha menenangkan sang ibu.


Bu Inah menggeleng. "Kita harus susul Dedek ke sana. Ibu pengin ke Gunung Ciremai buat nemuin Dedek."


"Tapi gimana caranya, Bu? Kita belum pernah ke sana. Kondisi Bapak juga nggak memungkinkan buat bepergian," kata Atikah mengingatkan.


"Apa tadi Ibu bilang? Dedek hilang di gunung?" tanya Pak Risman, lalu duduk di kursi.


"Iya, Pak," jawab Bu Inah dengan sesenggukan.


"Ya, Allah ... Gimana itu bisa terjadi, Bu?" tanya Pak Risman dengan wajah cemas.


"Tadi gurunya bilang, tengah malam Dedek masuk lagi ke hutan. Guru-gurunya lagi pada sibuk nyariin tiga murid yang juga hilang sejak sore," jelas Bu Inah.


"Terus gurunya bilang apa lagi?" tanya Pak Risman penasaran.


"Nanti kalau tiga hari nggak ketemu juga, orang tua murid akan diantar ke lokasi," jelas Bu Inah. "Tapi Ibu nggak mau menunggu selama itu, Pak."


"Kalau begitu, sabar aja. Serahkan semuanya sama Allah. Kita doakan Dedek sesering mungkin, mudah-mudahan Dedek ditemukan dalam keadaan selamat," ujar Pak Risman.


"Bapak benar, Bu." Atikah menyela. "Sebaiknya kita kencengin doanya biar Dedek cepet ketemu."


Di tengah percakapan mereka, Pak Risman tiba-tiba merasa mual. Belum sempat beranjak dari kursi, pria paruh baya itu memuntahkan darah dari mulutnya. Bu Inah dan Atikah tercengang melihat Pak Risman memuntahkan darah begitu banyak.


"Ya Allah, Bapak! Sebaiknya Bapak dibawa ke rumah sakit sekarang. Aku pesenin taksi online, ya," ujar Atikah, memegangi kedua tangan ayahnya dengan berhati-hati.


"Nggak usah, Atikah. Bapak baik-baik aja," kata Pak Risman, terbatuk-batuk.


"Baik-baik aja gimana, Pak? Bapak muntahin darah banyak banget, loh! Udah, mendingan Bapak nurut sama yang lagi sehat aja," cerocos Bu Inah panik. "Atikah, cepet pesanin taksi online sekarang juga!"


"Baik, Bu."


Sementara Atikah dan Bu Inah pergi membawa Pak Risman ke rumah sakit, Sukma masih sibuk mencari jalan keluar dari hutan. Walaupun memiliki kemampuan untuk kembali ke alam manusia, gadis itu tetap saja kesulitan melakukannya di tempat asing, apalagi di hutan yang lumayan angker. Dalam kebingungannya, ia mengingat cerita Wanara tentang pria tua yang kerap menunjukkan jalan pulang pada pendaki. Ia berharap segera menemukan pria tua itu dan pulang secepatnya.


Adapun Bu Ratmi yang sudah dikurung kembali di bekas kandang ayam, tiba-tiba mengamuk dan menjerit histeris. Mulutnya terus saja menyebut nama Sukma dan meminta Asih untuk membukakan kurungannya. Wanita itu memiliki firasat buruk akan hal yang terjadi pada Sukma sejak tengah malam.


Asih tak tahan lagi mendengar teriakan kakaknya dari subuh. Dengan tergesa-gesa, ia mengambil rotan dan memukul tubuh Bu Ratmi yang tidak bisa diam.


"Jempé! Jempééé ...! Meni gandéng nya si Euceu ti subuh kénéh. Ai Euceu téh hayang naon? Dibéré dahar enggeus, dibéré nginum enggeus. Ayeuna hayang naon deui?" bentak Asih dengan nada tinggi. ("Diam! Diaaam! Berisik banget ya kakak ini dari subuh. Kakak ingin apa? Dikasih makan sudah, dikasih minum sudah. Sekarang ingin apa lagi?")


"Sukma, Sih. Budak urang. Budak urang kasasab di gunung. Urang hayang ka gunung, nulungan budak," pinta Bu Ratmi dengan wajah memelas. ("Sukma, Sih. Anakku. Anakku tersesat di gunung. Aku ingin ke gunung menyelamatkan anakku.")


"Euceu mah teu boga budak. Budak euceu mah geus dipiceun pan ku Euceu. Geus, ayeuna mah cicing wé didieu! Ulah kamana-mana! Kamari gé ngadon ngagabrug budak batur," cerocos Asih mulai hilang kesabaran. ("Kakak nggak punya anak. Anakmu sudah dibuang olehmu. Sudah, sekarang diam saja di sini! Jangan ke mana-mana! Kemarin juga malah memeluk anak orang lain.")


Seketika tangis Bu Ratmi pecah. Sekeras mungkin wanita itu memukul-mukul kandang tempatnya dikurung hingga paku-pakunya terlepas. Asih yang tak biasa melihat kakaknya mengamuk, justru ketakutan. Bu Ratmi terus saja meraung-raung, memanggil nama putrinya.


Di tengah kegaduhan yang dibuat oleh Bu Ratmi, adik iparnya datang dengan wajah murka. Namanya Endang, suami Asih yang berprofesi sebagai petani.


"Gandéng, Ceu! Cicing! Euceu téh diurus ku urang. Lamun embung nurut ka adi, sok kaditu indit," bentak Endang memelototi kakak iparnya. ("Berisik, Ceu! Diam! Euceu diurus oleh kami. Kalau nggak mau menuruti adikmu, pargi saja.")


"Aing mah ngan hayang nulungan budak aing! Naha ai maranéh ngadon nyarékan aing?" bantah Bu Ratmi menggeram. ("Aku hanya ingin menolong anakku! Kenapa kalian malah memarahiku?")


"Nya saha kitu budak Euceu téh? Apan budak Euceu mah geus maot," tanya Endang. ("Memangnya siapa anak Kakak? Kan anak Kakak udah mati.")


"Sukma. Budak aing mah hirup kénéh! Kamari gé datang kadieu," tegas Bu Ratmi. ("Sukma. Anakku masih hidup. Kemarin pun datang ke sini.")


Mendengar ucapan kakak iparnya, Endang teringat pada kabar yang beredar di sekitar warga tentang empat anak sekolah yang tersesat di gunung. Begitu juga Asih, memahami anak mana yang dimaksud oleh Bu Ratmi. Endang pun luluh, lalu melepas belenggu di tubuh Bu Ratmi.


"Jig geura téangan budak Euceu. Tapi tong nyieun kaributan, nya. Engké mun geus kapanggih, Euceu balik deui kadieu," kata Endang memperingatkan. ("Sana! Segera cari anakmu. Tapi jangan membuat keributan, ya. Nanti kalau sudah ketemu, Kakak pulang lagi kemari.")


Bu Ratmi tak menggubrisnya. Ia justru berlari dari rumah untuk mencari Sukma secepatnya. Adapun Asih yang kesal dengan tindakan Endang, memukuli tubuh suaminya.


"Ai Aa kunaon maké dileupaskeun si Euceu téh?" tanya Asih dengan wajah memberengut. ("Kenapa Aa malah melepaskan Euceu?")


"Keun wé sina ngencar heula méh arurang jeung tatangga teu lieur. Engké gé mun hayangeun balik mah da bakal balik deui," jawab Endang dengan santai. ("Biarkan saja dia keluyuran dulu, biar kita dan tetangga tidak pusing. Nanti juga kalau pengin pulang, dia bakalan pulang lagi.")