SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Mencari Albi


Sukma dan Atikah yang masih syok akan penculikan Albi, berlari dengan gemetar menuju kontrakan. Setibanya di sana, mereka bergegas menemui Hilman. Kedatangan kakak beradik itu seketika membuat semua orang di dalam rumah kontrakan Pak Risman menjadi ikut panik.


"Ada apa kalian lari-lari ke sini? Mana Albi?" tanya Hilman sambil celingukan ke luar kontrakan.


"Om, A Albi, Om," kata Sukma dengan terengah-engah.


"Albi? Ada apa sama Albi? Apa dia jahilin kalian?" tanya Hilman dengan mengernyitkan kening.


"Bukan," jawab Atikah menggeleng cepat sembari mengatur napas. "A Albi diculik sama dua orang. Badannya gede-gede."


Terkesiap Hilman beserta Pak Risman dan Bu Inah tatkala mendengar jawaban Atikah. Suasana yang semula tenang, berubah panik. Hilman bergegas ke luar, lalu berlari.


"On Hilman, tunggu!" seru Atikah.


"Om Hilman! A Albi dibawa sama mobil ijo," teriak Sukma.


Seketika langkah Hilman terhenti. Ia kemudian berbalik badan, menghampiri kedua gadis kecil itu. Sementara itu, Pak Risman dan Bu Inah bergegas menghampiri kedua putrinya.


"Kaliam tahu, berapa nomor plat mobilnya?" tanya Hilman.


Kedua gadis kecil itu menggeleng.


"Aduh! Aku harus nyari ke mana kalau begini?" keluh Hilman frustrasi.


"Gini aja, Om. Kita cari bareng-bareng mobil itu. Siapa tahu ketemu di jalan," usul Sukma.


"Iya, Om. Lagipula, mobil itu baru aja pergi. Kayaknya belum jauh dari sini," timpal Atikah.


"Kalau begitu, kalian ikut Om cari mobil yang menculik Albi, ya," ajak Hilman.


"Saya juga ikut," kata Pak Risman.


Hilman mengangguk. "Iya, Pak. Mungkin nanti saya butuh bantuan Bapak juga."


"Saya juga mau ikut, Pak," pinta Bu Inah.


"Nggak usah, Bu. Ibu di rumah aja, siapa tahu nanti ada yang datang ke rumah buat ngasih informasi tentang Albi," kata Pak Risman.


Begegas mereka berempat pergi ke luar area kontrakan. Hilman dan Pak Risman duduk di jok depan, sedangkan anak-anak di jok tengah. Setelah semuanya siap, Hilman melajukan mobilnya, ke arah yang ditunjuk oleh Sukma dan Atikah.


Sepanjang perjalanan mencari Albi, Hilman menengok ke kanan dan kiri untuk mengetahui mobil mana yang dimaksud oleh kedua putri Pak Risman. Pun dengan Atikah, yang sama-sama melihat kendaraan di depannya sambil mengingat ciri-ciri mobil yang membawa Albi. Ketika gadis kecil itu masih sibuk mencari-cari mobil yang dimaksud, melintas mobil berwarna hijau melaju dari jalur berlawanan.


"Om! Om! Mobilnya ada di jalur sebelah!" seru Atikah memperingatkan.


Hilman menengok ke kaca spion dan segera memahami mobil yang dimaksud Atikah. Secepatnya, ia melajukan mobil, mencari belokan yang menuju jalur kendaraan berwarna hijau itu. Hatinya benar-benar tak keruan, bahkan ia tak ingat sama sekali pada Farah. Kalaupun ingat, ia tak akan memberitahu istrinya soal ini. Tak bisa dimungkiri, Farah akan melarangnya untuk mengajak Albi bermain lagi ke rumah Pak Risman.


Atikah teringat pada kemampuan Sukma menemukan seorang pelaku kejahatan sewaktu di stasiun. Ia segera menepuk pundak sang adik sampai menoleh. Sukma pun mengangkat dagu, sembari mengernyitkan kening.


"Dek, Dedek waktu itu bisa nemuin pelaku yang ngambil koper Bapak di stasiun, kan?" tanya Atikah antusias.


"Iya. Memangnya kenapa?" Sukma balik bertanya.


"Coba Dedek terawang lagi, seperti apa orang yang menculik A Albi dan ke mana mereka akan pergi. Siapa tahu penerawangan Dedek bisa berguna buat kita."


"Ah, benar juga. Dedek coba sekarang."


Sukma memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengingat kembali peristiwa beberapa saat lalu. Mobil hijau, dua pria berbadan tinggi besar. Penglihatan Sukma hanya seputar itu saja. Selebihnya, ia tak melihat apa pun. Hanya kegelapan di matanya.


"Gimana, Dek?"


Sukma membuka mata dan berkata, "Dedek nggak lihat apa-apa, Teh."


"Aduh! Coba sekali lagi, Dek. Siapa tahu sekarang kelihatan," ujar Atikah.


Sukma mencoba menerawang Albi lagi. Cukup lama ia memejamkan mata, tapi tak ada apa pun yang bisa dilihatnya. Hanya kegelapan saja di matanya.


Dengan terengah-engah, Sukma membuka matanya kembali sambil menggeleng lemah. Akan tetapi, usaha untuk menemukan Albi lewat penglihatannya, masih terus dijalani. Berkali-kali penerawangannya hampir menjangkau keberadaan Albi, berkali-kali pula ia gagal.


Atikah yang masih memperhatikan tingkah Sukma, harap-harap cemas akan hasil penerawangan adiknya. Setelah berkali-kali Sukma berusaha, Atikah mengusap punggung adiknya. Lambat laun, air mata Sukma menetes, lalu disusul isak tangisnya yang pecah begitu saja. Tangisannya begitu kencang, sampai-sampai Pak Risman dibuat menoleh karenanya.


"Dedek, kenapa nangis?" tanya Pak Risman cemas.


Sukma membuka mata sambil sesenggukan. "Dedek nggak bisa nemuin A Albi, Pak."


"Sudahlah, jangan menangis. Kita mencarinya bersama-sama, nanti juga ketemu," kata Pak Risman.


"Iya, tenang aja. Nanti Om pasti nemuin Albi juga. Jangan sedih, ya, Dek," timpal Hilman.


Kendati demikian, Sukma masih kecewa pada dirinya sendiri. Tidak biasanya kemampuan berlari dan menerawangnya lenyap secara tiba-tiba. Sisi iblisnya benar-benar telah ditekan, ilmu yang didapatkannya dari sang ayah setiap kali tidur pun menghilang entah ke mana.


Sekian lama Hilman melajukan mobilnya untuk mengejar kendaraan si penculik, akhirnya ia kehilangan jejak juga. Perjalanannya mengejar penculik Albi terhenti di Cimahi. Cukup jauh jaraknya dari tempat putra semata wayangnya diculik.


"A-Albi?! Albi, kamu di situ, Nak?" tanya Hilman dengan suara gemetar.


"Hilman, kamu ingin anak kamu kembali, kan?" tanya seorang pria dari seberang telepon. Suaranya terdengar begitu berat dan dalam.


"S-siapa ini? Katakan! Kamu siapa?"


"Masa kamu nggak kenal sama suara saya?"


Hilman mengingat-ingat kembali suara pria itu. Suaranya mirip dengan Pak Jumadi, pemilik garmen sekaligus mitra kerjanya. Seketika Hilman mengerutkan dahi tatkala mengingatnya.


"Pak Jumadi?"


"Ya, kamu benar."


"Pak Jumadi, kenapa Anda menculik anak saya? Apa yang Bapak inginkan?" tanya Hilman mulai gusar.


"Saya cuma menginginkan perusahaan kamu saja, Hilman. Semuanya."


"Apa?! Bapak, kan, punya pabrik pemintalan sendiri, kenapa malah ingin menguasai usaha saya juga? Bapak, kan, tahu kalau pabrik tekstil itu satu-satunya peninggalan kakak saya."


"Iya, saya tahu. Ah, sebaiknya kamu datang ke sini dan bernegosiasi. Kamu ingin anak kamu selamat, kan?"


"Baiklah. Tolong katakan di mana alamatnya."


"Nanti saya kirimkan lewat pesan. Ingat! Jangan bawa-bawa polisi. Kalau tidak, saya akan melaporkan kamu atas pencemaran nama baik."


"Ya, baiklah."


Mendengar percakapan dengan seseorang di telepon, Pak Risman penasaran. Setelah Hilman menutup telepon, ia mulai memberanikan diri untuk bertanya.


"Siapa yang menelepon, Pak? Bu Farah?"


"Bukan. Ini masalah bisnis. Sebaiknya kalian pulang saja. Saya antar kalian sekarang," jawab Hilman tergugu-gugu.


"Tapi gimana sama A Albi? Kita nyarinya udahan aja?" tanya Atikah cemas.


"Urusan itu, biar Om aja yang tangani. Kalian pulang aja. Kalau ikut-ikutan nyari, nanti kalian capek," jawab Hilman.


"Dedek nggak mau pulang!" sergah Sukma. "Dedek mau bantuin Om nyari A Albi."


"Dek, sebaiknya Dedek pulang bareng Bapak sama Teteh. Nanti Dedek capek," kata Pak Risman.


"Dedek nggak bakalan capek, kok. Lagian kalau Om Hilman datang ke tempat penculiknya sendirian, nanti A Albi dan Om Hilman sendiri yang kena masalah," kata Sukma.


"Enggak, Dek. Om nggak bakalan kenapa-kenapa, kok. Om bisa jaga diri," ucap Hilman.


Sukma menggeleng. "Dedek kasih tahu Om, ya. Orang jahat itu tetap jahat. Dia pasti punya maksud lain biar Om dan A Albi celaka, kayak di TV."


"Ini bukan cerita TV, Dek. Kalau orang itu bisa diajak berdamai, pasti A Albi dan Om Hilman baik-baik aja," bujuk Atikah.


"Iya, Dedek jangan khawatir. Sekarang Om antar kalian pulang," ucap Hilman.


"Ya udah. Tapi Dedek sarankan Om bawa polisi buat nangkap orang itu. Dedek nggak mau Om kenapa-kenapa."


"Iya, nanti Om lapor polisi."


Sukma pun bergeming. Hilman melajukan mobilnya untuk kembali ke Padalarang. Atikah dan Pak Risman memandang ke luar mobil, berharap kendaraan yang menculik Albi dapat ditemukan.


Selama perjalanan pulang, Sukma memberengut. Ia merasa kesal karena kemampuannya tak bisa digunakan pada saat-saat genting. Sekali lagi, gadis kecil itu menutup mata. Sebuah bayangan mengerikan berkelebat di matanya. Saat melihat sosok makhluk berbadan besar dengan mata melotot dan gigi taring yang panjang, ia langsung terhenyak sembari bergidik.


"Ada apa, Dek?" tanya Atikah.


"Dedek lihat sebuah ruangan gelap. Ada A Albi di sana sama bapak-bapak serem. Di belakang bapak-bapak serem itu ada raksasa gedeee banget," jawab Sukma.


Mendengar penjelasan Sukma, seketika bulu kuduk Atikah meremang. Pun dengan Pak Risman, yang diam-diam bergidik ngeri dibuatnya. Kendati demikian, mereka berusaha bersikap sewajarnya.


Setibanya di depan kontrakan Haji Gufron, Pak Risman beserta anak-anaknya turun dari mobil. Hilman yang masih kalut, tak sabar untuk menemukan putra semata wayangnya. Ia berpamitan dari dalam mobil, sambil menunggu Pak Risman dan putrinya masuk ke rumah kontrakan. Selanjutnya, ia melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman Pak Risman.


Sementara itu, Albi yang disekap di sebuah gudang tak terpakai, meronta-ronta di balik kain yang menyumpal mulutnya. Ia berharap, ayahnya segera datang menjemput. Bocah laki-laki itu tak tahan tinggal berlama-lama dengan orang asing di sana. Albi ingin pulang.


Pak Jumadi menyesap rokok sembari terkikih-kikih. Selama menunggu calon korban barunya datang, ia mengobrol dengan dua anak buahnya. Albi diam-diam memperhatikan percakapan mereka dengan saksama. Mungkin ada informasi penting mengenai ayah, pikirnya.


"Si Hilman itu benar-benar bodoh. Demi menyelamatkan anak, dia rela datang sendirian. Apa dia tidak tahu, kalau datang ke sini sama dengan menyerahkan nyawa?" ucap Pak Jumadi, lalu menyesap rokoknya lagi.


"Tapi, gimana kalau sampai dia bawa polisi?" tanya salah satu anak buahnya.


"Kita tinggal kabur saja. Bukankah kalian lagi ngawasin keadaan di luar?" cetus Pak Jumadi dengan enteng.